Suami Tempramental

Pernikahan & Keluarga, 28 Oktober 2019

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum. Ustadz, saya seorang perempuan yang menikah dengan seorang duda (cerai) anak 1. Dan saat ini kami sudah dikaruniai 1 anak usia 2 tahun 5 bulan. Saya & suami sudah menikah 3 tahun lebih & saya baru mengatahui karakter tempramen beliau setelah menikah. 

Suami saya seringkali tersulut emosi pada hal2 sepele, karena hal sepele tersebut suami seringkali membentak & memaki saya dengan beringasnya, sampai mengeluarkan kata2 kasar (seperti g*b**k, t*l*l, a*j**g), bahkan sampai merusak barang2 sekitar seperti melempar barang, menendang barang, hingga semuanya rusak. 

Suami saya pun beberapa kali mengadukan ke orang tuanya jika rumah tangga kami sedang ada masalah & mengatakan pada mereka bahwa saya sumber masalahnya, suami selalu menyalahkan saya di depan orang tuanya. Padahal semua disebabkan karena hal sepele, semisal suami menemukan sampai kecil yang belum terbuang di lantai. Atau saya lupa melakukan suatu hal, dll. Anak saya pun seringkali melihat kejadian saat suami memaki2 saya & dia pasti langsung menangis keras krn sudah semakin mengerti.

Jujur saja, saya sudah sangat lelah, sangat sakit (mental & fisik). Saya merasa tidak mempunyai harga diri lagi sbg istri krn seringnya di maki2 layaknya budak. Kadang saya berpikir, saya jadi tahu alasan suami saya digugat cerai mantan istrinya terdahulu. Saya sangat sedih & takut akan membawa dampak buruk bagi anak saya krn dia sering melihat peristiwa menakutkan itu.

Apa yg harus saya lakukan ustadz, apakah saya harus bercerai? 

Atau bertahan dgn resiko terus terluka psikis saya & anak saya? 

 



-- Ria (Serang)

Jawaban:

Wa'alaikumussalam wr.wb.

Kami sangat memaklumi perasaan Ibu sekaligus sangat prihatin dan berempati terhadap apa yang Ibu alami. Dalam timbangan hukum agama Islam, tentu sikap dan prilaku suami seperti itu sangat tidak dibenarkan.

Adapun tentang apa yang seharusnya atau sebaiknya Ibu lakukan, maka keputusan justru ada di tangan Ibu sendiri. Karena faktor penentunyapun ada pada diri Ibu sendiri. Yakni semua tergantung dan terpulang pada kesiapan Ibu. Karena setiap pilihan sikap tentu ada resiko dan konsekuensinya sendiri. Jika Ibu memilih bertahan, maka tentu Ibu yang lebih tahu tentang resiko dan konsekuensinya. Begitu pula jika pilihan pisah yang Ibu ambil, tentu ada resiko dan konsekuensi yang harus Ibu siap hadapi.

Jadi silakan Ibu timbang-timbang, kira-kira Ibu merasa lebih siap menghadapi resiko dan konsekuensi yang mana, maka disitulah terletak pilihan yag insyaallah lebih baik bagi Ibu.

Tapi sebelum Ibu mengambil keputusan langkah terakhir, alangkah baiknya bila Ibu melakukan shalat istikharah untuk meminta pilihan terbaik dari Allah, dan yang kedua penting juga Ibu berkonsultasi atau meminta pertimbangan pada orang terpercaya yang Ibu anggap mampu memberikan masukan yang baik untuk Ibu.

Sekian, semoga manfaat, teriring doa semoga Allah Ta'ala memberikan kesabaran dan petunjuk jalan terbaik kepada Ibu. Amin. 



-- Ahmad Mudzoffar Jufri, MA