Masalah Rumah Tangga

Lain-lain, 4 Januari 2020

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr wb, Pak ustad

Saya seorang suami yang telah menikah dan dikaruniai 3 orang Anak. Pernikahan kami ini sudah berlangsung selama kurang lebih 12 tahun. Tentu saja telah banyak proses penyesuaian psikologis disana-sini yang telah terjadi antara saya dan istri sehingga pernikahan bisa berjalan sampai kini. Banyak sekali kiranya hal-hal sederhana yang menjadi ‘rumit’ yang terjadi selama ini yang mungkin saja terjadi karena lemahnya komunikasi maupun ego di antara kami sehingga masalah yang ada tidak diselesaikan, melainkan di pendam dan akhirnya meledak.

Pak ustad, saya sayang kepada istri saya, dan saya tahu diapun begitu terhadap saya. tetapi saya ingin mengakui bahwa saya memiliki sifat buruk yaitu cendrung temperamental terhadap istri saya terutama saat dia selalu membantah saya saat kami sedang berargumen. Saat puncak marah, walaupun tidak ada tindakan fisik terhadap tubuh istri, tetapi sering saya meninggikan suara, berkata kasar, dan membanting barang atau memukul objek ( misalnya dinding, pintu, dll ) yang membuat istri saya takut. Saya tidak bisa menahan diri apabila istri terus saja membantah, memotong perkataan, dan berargumen setiap kali saya bicara.

Saya menyadari sifat buruk ini (mohon perlindungan dan ampunan Allah) dan ingin merubahnya tetapi progressnya dari waktu ke waktu sangat sedikit sekali.

Ada 2 perso’alan yang ingin saya tanyakan pak Ustad,

Yang pertama,

Baru-baru ini kami bertengkar, dan setelah reda, Istri saya mengingat-ingat kembali kehidupan kami saat tahun awal-awal kami menikah, kira-kira 10 tahun lalu dimana ada peristiwa kami  bertengkar hebat tentang hal sepele: saat itu saya lupa menjemputnya selepas pulang kerja yang mana hal ini memicu keributan, dan saat bertengkar itu saya sempat terucap kata-kata seperti ini :  “Sudah, berhenti ributnya, kalo masih ribut nanti saya pulangkan kamu ke orang tua mu!” sebanyak 2x, dan niat saya saat mengucapkan itu tidak ada niat apapun kecuali kalimat marah.

Kurang lebih 10 tahun kemudian (Sekarang), istri saya berasumsi dengan sangat yakin kalau saat itu di dalam hati, pastilah niat saya adalah menceraikannya, dan itu sudah jatuh talak dan harus akad nikah ulang, padahal saya sudah jelaskan padanya bahkan dengan menyebut nama Allah, bahwa saya sebagai suaminya tidak ada sama sekali terfikir apalagi hingga berniat menceraikannya pada setiap pertengkaran sebesar apapun dan sepanjang kehidupan pernikahan kami tidak pernah terucap ada kata-kata cerai dan kalimat sharih sejenisnya.

Perso’alan kedua,

terjadi pada saat awal kami mendapatkan anak pertama kami.  Berdasarkan pemeriksaan RS, Istri di haruskan dokter untuk melahirkan dengan operasi caesar. Pasca pemulihan persalinan, luka operasi akibat caesar mempengaruhi libido saya ke istri. Saya agak ‘takut-takut’ saat berhubungan dengan istri, takut luka tersebut sulit untuk sembuh total, dan juga ada beberapa kali istri saya menunjukkan ekspresi sakit saat berhubungan yang makin membuat libido saya semakin drop dan membuat frekuensi hubungan badan menjadi berkurang drastis. Kami jarang berhubungan.

Setelah berjalan beberapa bulan dan was-was saya terhadap luka operasi istri sudah berkurang, saya pun  pernah mulai beberapa kali meminta Istri untuk melakukan hubungan karena sedang butuh, tetapi beberapa kali juga istri saya menolak dengan alasan dia sedang capek atau menunjukkan gesture tidak berminat, dimana dengan penolakannya ini membuat hati saya menjadi kesal dan terpaksa sering melakukan onani untuk memenuhi kebutuhan biologis saya.

Kekesalan saya padanya akhirnya berubah menjadi sebuah dendam kecil yang kira-kira bunyinya: “Awas nanti kalau kamu lagi butuh, saya tidak akan kasih juga”, mulai dari situ memang saya sengaja menunggu kapan saatnya dia yang butuh, dan tiba pada saatnya dia butuh dan meminta ke saya lalu saya balas juga untuk tidak memenuhi ajakannya, kejadian ini berlangsung beberapa waktu dimana saya sangat jarang meminta hubungan kepadanya, dan saat dia meminta hampir selalu saya tolak, hal ini berlangsung selama  kurun waktu kurang lebih 1 tahun (tidak berturut-turut) , untuk catatan saya juga selalu ingat dengan sighat taklik yang saya baca saat akad nikah, bahwa lama batas absen pemberian nafkah wajib dari suami adalah 3 bulan, dan tidak memperdulikan istri adalah 6 bulan sehingga dengan mengingat hal tersebut saya bisa pastikan bahwa selalu menggaulinya paling tidak 3 bulan sekali dalam periode 1 tahun tersebut.

Dengan kondisi siklus seperti ini, istri saya pun akhirnya juga kesal dan timbul juga dendam sehingga pada suatu ketika saat dia butuh dan meminta, saya kembali menolak, lalu sambil menangis dia berkata (atau bersumpah, saya tidak ingat) bahwa tidak akan pernah lagi meminta nafkah batin pada saya dan dia akan buktikan itu, dan kami pun bertengkar lagi. Sejak saat itu istri saya memang tidak pernah lagi meminta hubungan dengan saya, dan selalu saya yang meminta dia untuk berhubungan.

Sekarang dalam kondisi rumah tangga kami yang sedang bermasalah, ada beberapa kali dia minta cerai ( dengan list alasan-alasan yang telah diuraikan di atas ), namun saya memohon padanya untuk bersabar dan ingat masa depan anak-anak dan dia juga membuka lagi masalah lama  dan menyalahkan saya secara hiperbola bahwa saya dulu pernah ‘tidak menggaulinya selama 1 tahun’ dan itu menurut dia juga bisa jadi talak. Saya lalu menjelaskan padanya tentang kronologis (sesuai dengan deskripsi di atas) dan membuka tentang alasan terjadinya kejadian tersebut, dan juga menjelaskan sesuai sighat taklik bahwa hal tersebut tidak bisa di jadikan dasar talak, karena syaratnya tidak terpenuhi dimana saya tetap menggaulinya paling lama 3 bulan sekali, dan dalam hal ini putusan talak itu ada pada hakim apabila dia menggugat. Tetapi tak lupa juga untuk menenangkan hatinya saya tetap meminta maaf padanya atas apapun tindak tanduk saya dulu dan selama ini yang membuatnya sakit hati serta berjanji untuk lebih keras berusaha untuk memperbaiki diri, namun dia belum bisa menerima maaf saya dan terus saja melampiaskan kekesalannya dan kemarahannya pada saya selama berbulan-bulan sampai kini, saya tetap berusaha untuk menerimanya walau sakit karena saya sadar ini juga adalah bagian ikhtiar saya untuk memperbaiki hubungan kami.

Mohon bimbingan dan sarannya pak Ustad tentang masalah rumah tangga saya ini

 

Terimakasih,

Hendri (Palembang)



-- Hendri Wijaya (Palembang )

Jawaban:

Wa'alaikum salam warahmatuLLAHI wabarakaatuH

Bapak Hendri Wijaya ang dirahmati ALLAH SWT.

Maaf Anda harus sadari hal mendasar dari masalah yang menimpa keluarga Anda. Bahwa suami yang bahagia adalah suami yang bisa membahagiakan istrinya.

Ketika suami melakukan banyak hal yang bisa membuat bahagia istrinya bahagia maka sebenarnya kebaikan itu untuk Anda sendri, suaminya. Anda suami yang bahagia.

ALLAH SWT menjamin:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

46. Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya.
( QS, Fushilat 46 )

Nah modal sayang diantara Anda berdua adalah bibit penting untuk menjaga dan merawat keharmonisan keluarga.

Dengan alasan dan modal sayang seharusnya Anda bisa menahan  emosi, temperamental dalam diri Anda. Suami itu seharusnya bersikap lembut pada istri. Istri itu suka dengan kelembutan, niscaya beliau merasa dihargai dan merekatkan hubungan hati.

  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha (yang artinya): “Hendaklah kamu bersikap lemah lembut, karena sikap lemah lembut itu tidak ada pada sesuatu, kecuali akan membuatnya indah, dan tidak hilang dari sesuatu, kecuali akan membuatnya jelek” (HR. Muslim).

Kalau Anda sayang kepada  istri seharusnya Anda bisa menghargai, mendengar pendapat istri karena beliau sebagai istri punya kewajiban untuk membentuk dan menjaga keluarga agar tetap harmonis. Ingat islam melarang dengan keras untuk merendahkan orang lain.

Dan emosi anda memulangkan istri jelas belumtentu talak karena meulangkan itu maknanya mengusir. Maka kepastian jatuh talak tergantung niat.

Dan belajarlah untuk bersikap lebih bijak mensikapi istri setelah melahirkan dengan sesar. Beliau sampai sesar dan berpengaruh kurang mantab berhubungan, maaf itu juga ada andil Anda. Maka kendalikan gelora sex Anda. Ketika Anda menolak keinginan istri untuk berhubungan maka Anda juga rugi dan menzolimi diri sendiri.

Semoga masukan ini bisa menumbuhkan dan menjaga keluarga Anda tetap harmonis.

WaLLAHU a'lam bishshowaab

 



-- Selamet Junaidi