Mandi Junub

Aqidah, 7 Mei 2020

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr wb.

Bolehkah mandi junub tanpa sebab ? 

Cara agar tidak was was dalam mandi junub, wudhu dan shalat?



-- Pikri (Bogor)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

1. Mandi junub atau mandi besar adalah salah satu cara bersuci dari hadatz besar. Bersuci atau thaharah masuk dalam kategori ibadah, karena itu pelaksanaan dan tatacaranya harus sesuai ketentuan syariat. karena itu maka mandi junub itu dikerjakan atau tidak, mengacu pada adanya perinta Allah dan rasulNya. Jika ada perintah, maka dikerjakan, jika tidak ada perintah maka tidak dikerjakan.

Mandi junub  dilaksanakan jika ada sebab yang mengharuskannya,seperti melakukan hubungan badan, mimpi basah dll. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا

Dan jika kalian junub maka bersucilah.” (QS. Al-Ma`idah : 6)

Mengenai caranya Rasulullah bersabda:”

عن عائشة رضي الله عنها قالت : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا اغتسل من الجنابة غسل يديه ، ثم توضأ وضوءه للصلاة ، ثم اغتسل ، ثم يخلل بيده شعره حتى إذا ظن أنه قد أروى بشرته أفاض عليه الماء ثلاث مرات ، ثم غسل سائر جسده

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha; dia berkata, “Bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dari janabah maka beliau mulai dengan mencuci kedua telapak tangannya, kemudian berwudhu sebagaimana wudhunya untuk shalat, kemudian memasukkan jari-jarinya kedalam air kemudian menyela dasar-dasar rambutnya, sampai beliau menyangka air sampai kedasar rambutnya kemudian menyiram kepalanya dengan kedua tangannya sebanyak tiga kali kemudian beliau menyiram seluruh tubuhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu jika tidak ada sebab ,maka mandi junub tidak perlu dikerjakan.

Adapun jika seseorang mandi,kemudian dia memakain tatacara mandi junub,hal itu tetap diperbolehkan,tapi tidak bisa disebut mandi junub yang bernilai ibadah,tapi mandi biasa. Wallahu alam. (As)

  1. was-was itu biasanya muncul karena adanya keraguan dan ketidak yakinan yang bersangkutan terhadap kesempurnaan dan sahnya mandi junub,wudlu dan shalat. Maka untuk menghilangkan rasa was-was adalah dengan menggantinya dengan keyakinan,keyakinan didapatkan dengan cara mengetahui syarat dan rukun sahnya amalan tersebut. Lalu melakuan semua itu dengan benar dan penuh konsentrasi ,maka akan hilanglah ras was-was tersebut. Rasulullah bersabda:

نْ أَبِي مُحَمَّدٍ الحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ سِبْطِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَيْحَانَتِهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ.

رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ، وَقاَلَ التِّرْمِذِيُّ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ.

Dari Abu Muhammad Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kesayangannya radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku hafal (sebuah hadits) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Tinggalkanlah yang meragukanmu lalu ambillah yang tidak meragukanmu.’” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) [HR. Tirmidzi, no. 2518; An-Nasa’i, no. 5714. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih]



-- Amin Syukroni, Lc