Suami Minta Cerai Karna Tidak Ada Restu Orang Tua

Fiqih Muamalah, 6 Juni 2020

Pertanyaan:

Assalammu'alakum wr.wb.

Saya mau tanya pak Ustad. Saya dan suami saya pacaran sudah 9 th, ketika mau menikah orang tua suami saya tidak merestui hubungan kami, dikarenakan orang tua suami saya tidak suka dengan ibu saya yang pernah bercerai.Tetapi suami saya bersikeras tetap ingin menikahi saya, dengan berat hati orang tua suami saya merestuinya tapi mereka tidak mau datang pada saat acara ijab dan ijab dilaksanakan di KUA. Setelah ijab selesai pihak keluarga suami saya membawa pergi suami saya dengan alasan orang tua suami saya sakit, dan saya tidak diperbolehkan ikut. Karna suami saya seorang perantauan dia disuruh langsung berangakat ke perantauan bersama ayah ibunya tanpa berpamitan dengan saya. Seminggu berlalu ayah ibunya kembali kerumah dan saya diam-diam  pergi menemui suami saya, suami saya minta maaf dan menyuruh saya bersabar siapa tau kedepannya saya akan diterima. Hingga saat itu saya hamil 2 bln, saya memutuskan pulang kerumah karna kondisi saya yang tidak memungkinkan, ketika orang tua suami tau saya hamil mereka sangat tidak suka, berbagi cara dilakukan agar suami saya membenci saya. kesalahan-kesalahan saya selalu dicari agar rumah tangga saya berantakan, keluarga suami selalu bilang kalau hubungan kita masih berlanjut dia akan melihat orang tuanya mati, disitu suami saya merasa disuruh memilih antara saya atau orang tuanya, dan yang paling mengejutkan ketika dia mengatakan ingin berpihak pada ibunya. Dari situ komunikasi kita mulai jarang bahkan sangat jarang, saya tlfn saya sms gak pernah ada jawaban. Hingga anak saya lahir saya masih berharap dia akan kembali, tapi setelah setahun tidak ada kabar dia berkabar dengan meminta memutuskan hubungan karna orang tuanya yang masih belum setuju.

Apakah saya sudah ditalak? dan apa yang harus saya lakukan sedangkan saya masih belum ridha untuk berpisah karna saya ingin anak saya tumbuh bersama ibu dan ayah kandungnnya.

Wassalammu'alaikum wr.wb.



-- Meidika (Wonosobo)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Sebetulnya awal proses pernikahan anda itu sudah tidak benar, yaitu dengan memakskan diri untuk melanjutkan pernikahan sebelum ada kepastian ridhonya orang tua, tentu ini bisa menjadi pelajaran yang baik kedepannya, tetapi semua sudah terjadi.

Dan oleh karena belum ada kalimat "TALAK" yang diucapkan oleh suami anda yang ditujukan kepada anda, makam in syaa Allah sekarang masih sah sebagai suami dan istri

Dan semestinya problem keuarga anda tersebut segera dicarikan solusinya, jangan dibiarkan berlarut larut tidak ada ujungnya, dan upaya untuk mengurai masalah tersebut bisa dimulai dan in syaa Allah akan efektif, kalau ada kesiapan antara suami istri untuk membangun komunikasi yang baik, dengan masing2 menyampaikan masalah yang dirasakan, dilanjutkan dengan  saling memberikan masukan, memusyawarahkan masalah yang ada, dan bila diperlukan bisa menghadirkan fihak ketiga yang mempunyai kompetensi untuk menjadi penengah

Untuk itu segeralah komunikasikan hal tersebut dengan suami anda, segeralah kontak suami anda, ajaklah duduk bersama dengan cara yang baik dan dengan bahasa yang lembah lembut, pilihlah waktu yang kondusif, sehingga suasana komunikasi bisa berjalan dengan baik, cair dan bahkan santai, Kemudian komunikasikan masalah anda kepada suami, kalau diperlukan hadirkan fihak ketiga yang kalian berdua yakini mempunyai kompetensi dalam hukum pernikahan dalam Islam dan kalian yakini mampu untuk menjadi penengah dalam mengurai problem yang sedang anda hadapi dalam upaya bersama mencari solusi terbaik.

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA