Rumah Tangga

Lain-lain, 15 Juni 2020

Pertanyaan:

Saya & suami menikah bulan Juli tahun 1995, dan bulan Juli tahun 2020 ini usia perkawinan kami akan memasuki usia 25 tahun. Kami dikaruniai 3 orang anak laki2 yg sudah besar2. Suami saya sudah menikah lagi secara siri dgn perempuan lain sejak bulan Juli 2012, sejak itu suami saya sudah jarang sekali pulang & tidur di rumah saya, dan selama ini saya dibohongi oleh suami saya sampai akhirnya baru sekitar 1 tahun terakhir kemaren saya tahu kalau suami saya itu sudah menikah lagi dan sejak saya bilang ke suami saya kalau saya sudah tahu bahwa dia sudah menikah lagi secara siri dgn perempuan lain,  suami tidak pernah lagi pulang ke rumah & tidak pernah menafkahi saya lahir & bathin. Suami saya sampai saat ini masih saja terus membohongi saya, tempramen, tidak pernah terbuka, jujur & transparan dlm segala hal. Apakah pernikahan saya ini masih layak dipertahankan? 



-- N. Reflita (Tangerang Selatan)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu

Keluarga adalah lembaga yang sakral yang dibangun atas dasar kerelaan antar kedua pasangan yang diikat dengan ikatan yang kokoh dan disaksikan oleh orang banyak. Setelah pernikahan dilangsungkan maka akan berubah tanggung jawab masing-masing. Suami akan menjadi pemimpin bagi keluarganya dan istri menjadi pengelola dalam rumahnya.

Salah satu tugas pokok suami adalah memberi nafkah lahir dan batin. Karena tanggung jawab memberi nafkah inilah,seorang suami dijadikan pemimpin atas istrinya. Allah berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” [An-Nisaa’/4: 34]

Juga firmanNya.

 وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang baik”.[Al Baqarah : 233]

Disamping itu kewajiban suami adalah memperlakukan istri dan keluarganya dengan perlakuan yang baik,penuh kelembutan dan kasih sayang. Allah berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Dan pergaulilah istrimu dengan (akhlak yang) baik. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allâh menjadikan padanya kebaikan yang banyak [An-Nisâ’/4:19

Rasulullah bersabda:


    وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ … رواه الترمذي  

sebaik-sebaik kamu adalah orang yang paling baik kepada istrinya”(HR. Tirmidzi)

salah satu bentuk perlakuan baik suami terhadap istrinya adalah mengkomunikasikan segala yang berdampak kepada kebaikan dan keburukan keluarga,tidak membohongi keluarganya.

Jika dari sekian kewajiban dan perilaku yang wajib dikerjakan oleh suami dan dia tidak mengerjakannya ,maka pilihan diserahkan kepada Anda, mau memilih dengan kondisi sekarang dan bersabar dengan segala resiko yang terjadi atau memilih berpisah,karena itu dipandang lebih baik bagi Anda dan keluarga serta suami. Jika keluarga tetap dipertahankan, akan ada kemaksiatan dan dosa yang dilakukan suami atau muncul kemaksiatan dari Anda kepada suami.  Maka Anda bisa mengajukan gugatan cerai jika itu merupakan jalan terakhir untuk kebaikan Anda dan keluarga. Seperti kisah istri Tsabit bin Qois,dia memilih bercerai denga suaminya,karena khawatir dengan mempertahankan pernikahan akan terjadi kemaksiatan.

جَاءَتْ امرَأَةُ ثَابِت بْنِ قَيْس بْنِ شَمَّاسٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّه مَاأَنقِمُ عَلَى ثَابِتٍ فِي دِيْنٍ وَلاَ خُلُقِ إِلاَّ أَنِّي أَخَافُ الْكُفْرَ فَقَالَ رَسُواللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَرُدِّيْنَ عَلَيْهِ حَدِيقََتَهُ فَقَالَتْ نَعَمْ فَرَدَّتْ عَلَيْهِ وَأَمَرَهُ فَفَارَقَهَا “

Isteri Tsabit bin Qais bin Syammas mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata ; “Wahai Rasulullah, aku tidak membenci Tsabit dalam agama dan akhlaknya. Aku hanya takut kufur”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Maukah kamu mengembalikan kepadanya kebunnya?”. Ia menjawab, “Ya”, maka ia mengembalikan kepadanya dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, dan Tsabit pun menceraikannya” [HR Al-Bukhari]

Semoga Allah membimbing Anda mendapatkan jalan terbaik. Wallahu alam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc