Sudah Tidak Dianggap Lagi

Pernikahan & Keluarga, 21 Juni 2020

Pertanyaan:

Saya seorang istri sudah menikah memasuki tahun ke 10 dan baru mempunyai 1 anak. Setelah menikah saya ikut suami ke daerah rantau yang mana di daerah rantau tersebut saya tidak mempunyai sanak famili dari pihak saya, sedangkan suami hampir seluruh keluarga besarnya berdomisili di daerah rantau tsb termasuk orang tua suami adik dan kakaknya. 

2 tahun ini saya cekcok dgn keluarga suami dan seperti tidak dianggap lagi oleh keluarga suami. Permasalahannya berawal pada saat itu suami sedang tidak mempunyai pekerjaan dan berniat ingin mencari pekerjaan di daerah lain (beda pulau) sementara kondisi saat itu kami tidak memiliki sedikitpun tabungan untuk kehidupan saya dan anak selama ditinggal. Kesimpulannya saya dan anak tinggal sementara dirumah mertua selama suami pergi. Suami meyakinkan paling lama 1minggu sudah pasti mulai bekerja tapi nyatanya sampai 1 bulan belum juga ada pekerjaan yang jelas. Selama dirumah mertua sdh merasa tidak nyaman, dan saya meminta suami untuk balik, tetapi keluarganya tidak menyetujui karena keluarganya ingin suami saya tetap bertahan disana sampai dapat pekerjaan. Akhirnya suami kembali dan saat itulah saya dan keluarganya cekcok sampai sekarang.

Setelah kejadian itu suami tetap berhubungan baik dgn keluarganya kecuali saya, suami sendiri seperti tidak ingin jadi pendamai saya dan keluarganya, suami lebih terbuka dan dominant kepada keluarganya, saya merasa sdh tidak dianggap lagi padahal untuk kehidupan sehari hari 70% saya yang banting tulang. Saya dan suami sering bertengkar hingga pisah kamar, sehari hari tidak pernah ngobrol hanya seperlunya.

Yang saya tanyakan saya harus bersikap bagaimana menghadapi kehidupan rumah tangga yang sudah tidak harmonis ini.

Saat bertengkar suami pernah berkata "saya ingin bercerai" tapi saya tidak jawab apa. Apakah ini sudah termasuk talak dan bagai mana solusinya

Mohon nasehat dan sarannya, sebelumnya saya ucapkan terimakasih



-- Febi (Tangerang Selatan)

Jawaban:

Assalaamu 'alaikum wrwb.

Siapapun dari kita yang berkeluarga, tentu menghendaki kedamaian dalam kehidupan rumahtangganya, karena hanya dengan suasana damai sajalah, suami istri akan bisa membangun dan mengatur rumah tangganya dengan baik

Namun yang namanya problem dan masalah keluarga itu memang bisa terjadi dalam rumah tangga siapa saja, termasuk di keluarga anda tentunya, sebagaimana anda telah ceritakan, tetapi yakinlah bahwa anda tidak sendirian

Dan ketika terjadi masalah dalam keluarga yang bisa menyebabkan hilangnya suasana damai, mestinya harus segera diupayakan untuk diurai dengan berbagai cara, agar suasana damai bisa kembali bisa dirasakan bersama.

Upaya untuk mengurai masalah tersebut bisa dimulai dan in syaaAllah akan efektif, kalau ada kesiapan suami istri untuk membangun komunikasi yang baik, dengan masing2 menyampaikan masalah yang dirasakan, dilanjutkan dengan  saling memberikan masukan, memusyawarahkan masalah yang ada, dan bila diperlukan bisa menghadirkan fihak ketiga yang mempunyai kompetensi untuk menjadi penengah

Dan karena itu, seyogyanya anda tidak membiarkan masalah berlarut larut tidak ada ujungnya, Untuk itu segeralah komunikasikan hal tersebut dengan suami anda, ajaklah duduk bersama dengan cara yang baik dan dengan bahasa yang lembah lembut, pilihlah waktu yang kondusif, sehingga suasana komunikasi bisa berjalan dengan baik, cair dan bahkan santai, Kemudian komunikasikan masalah anda kepada suami, kalau diperlukan hadirkan fihak ketiga yang kalian berdua yakini mempunyai kompetensi dalam hukum pernikahan dan kalian yakini mampu untuk menjadi penengah dalam mengurai problem yang sedang anda hadapi dalam upaya bersama mencari solusi terbaik.

Adapun keinginan suami untuk cerai tersebut tidak secara otomatis menjatuhkan hukum cerai, karena sekedar keinginan, hal tersebut akan berbeda hukumnya ketika suami mengatakan kepada anda sebagai istrinya : kamu saya cerai

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA