Mohon Pencerahan

Akhlaq, 28 Juni 2020

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

7 tahun lalu sy menikah dan bercerai setelah 1,5 tahun usia pernikahan.. Kemudian sy menikah dg org lain, dan mantan suami sy jg menikah lg dg perempuan lain.. Kemudian sy bercerai lagi dg suami sy, setahun kemudian sy kembali dengan suami pertama tetapi sy menjadi istri kedua. Kami menikah lg tanpa di ketahui keluarga. Dan skr keluarga suami sy mengetahui hal tersebut dan meminta suami sy utk menceraikan sy.. Dengan alasan bakti kpd orgtua dan takut utk menjalani pernikahan dg sy tanpa  restu dan ridho orgtua, skr suami sy berniat menceraikan sy..

Saya tau sebagai istri kedua sy tdk bs menolak dan hrs menerima apapun keputusan suami sy walaupun sy sangat tidak menginginkan hal itu terjadi.. Skr saya dan suami dalam masa merenung dan islah mencari solusi. Pertanyaannya apa yg hrs sy dan suami sy lakukan skr? Apa saya dan suami hrs benar² bercerai? Krn keluqrganya sangat menolak pernikahan kami.. Sy mohon pencerahannya pak ustadz .. Jazakallah khair.. 



-- Annisa (Jakarta)

Jawaban:

Wa'alaikumussalam wr. wb.

Kami bisa memahami dilematisnya sikap Anda dan juga sikap suami. Tapi apa boleh buat. Kondisi dilematis ini kan memang sudah merupakan realita yang bagaimanapun harus diterima, dihadapi dan disikapi. Dan terjadinya tentu juga bukan secara ujug-ujug begitu saja. Melainkan sebagai konsekuensi, resiko dan akibat dari pilihan langkah yang telah diambil sejak awalnya.

Lalu harus bagaimana? Yang bisa dan harus menjawab pertanyaan bukanlah ustadz atau siapapun. Tapi tak lain adalah suami sendiri sebagai pelaku. Ya faktor penentunya terletak pada kesiapan suami. Kesiapan seperti apa dan bagaimana? Ya kesiapan dia dalam menghadapi konsekuensi dan resiko selanjutnya dari pilihan langkah yang hendak diambil.

Karena setiap pilihan pasti ada akibat, resiko dan konsekuensinya. Apakah itu pilihan dengan tetap mempertahkan kedua istrinya, atau dengan mempertahankan salah satunya dengan melepaskan yang lain, ataukah bahkan dengan melepaskan kedua-duanya sekaligus. Itulah opsi-opsi pilihan yang ada dan yang mungkin diambil. Dan, seperti yang telah kami sampaikan dimuka, masing-masing pilihan pasti ada akibat, resiko dan konsekuensinya sendiri yang sangat mungkin berbeda dengan akibat, resiko dan konsekuensi dari pilihan yang lain. 

Nah disinilah suami harus menentukan pilihan langkah setelah menjawab pertanyaan: akibat, resiko dan konsekuensi dari pilihan langkah manakah, diantara opsi-opsi pilihan tersebut, yang menurutnya paling ringan dan yang dia merasa paling mampu serta paling siap untuk menaggung dan menghadapinya. Maka, secara normatif umum, berarti pilihan itulah yang paling tepat untuk diambil.

Sekian tanggapan dari kami, semoga bisa dipahami dan manfaat.

 



-- Ahmad Mudzoffar Jufri, MA