Apa Harus Saya Lakukan

Lain-lain, 6 Juli 2020

Pertanyaan:

Assalamualaikum. 

Kepada Para Ustadz Yth. 

Saya Achmad Syukri dari Bogor Jawa Barat. 

Ijjn bertanya dan mohon solusi tentang permasalahan rumah tangga yang saya hadapi. 

1. Lima tahun sudah usia pernikahan kami. Selama ini saya merasa rumah tangga saya tidak harmonis. Ketika saya mendapatkan kesempatan bekerja, istri saya sering tidak setuju lantaran gaji yang tidak cukup katanya. *Apakah istriku kufur nikmat? 

2. Saat istriku dapat kerja, lalu saya di rumah saja mengerjakan pekerjaan rumah. Istriku selalu meminta perhatian lebih dariku (contoh : ingin dipijat dan disisir setiap malam sambil ngobrol berjam-jam). Saya ingin seperti suami orang lain, bisa santai setelah bekerja. Tapi buat istriku, santainya saya bisa berubah jadi petaka. Bila ada masalah sepele bisa jadi masalah besar * Apa yang harus saya lakuakan? 

3. Saat saya mencoba berwirausaha dan menafkahinya 50 rb/hari, istri saya bilang "itu uang receh". Pendapatan kotor harian saya 200-300 rb perhari. Pendapatan bersih 100-150 rb/hari. *Apakah istriku kufur nikmat? 

4. Sekarang saya di rumah saja sejak pandemi covid 19, pendapatan saya 0. Lantas saya yang urus rumah dan jaga anak. Istri saya marah bila ada yg tidak dia suka. Marah seperti kesurupan.. 

*Apakah hubungan kami harus diakhiri? 

Terimakasih atas perhatian dan jawaban ustadz



-- Achmad Syukri (Bogor )

Jawaban:

Wa alaikum salam waramatullahi wabarakatuhu.

Apa tujuan Anda menikah dan berkeluarga? apa Anda sudah memperolehnya sekarang? Apakah kemungkinan Anda akan mendapatkannya dimasa mendatang? jika semua jawabannya adalah “tidak” maka Anda harus berpikir ulang kembali dan mendalam terhadap kelanjutan kelaurga Anda.

Tujuan pernikahan antara lain menjadapatkan ketentraman hati,sakinah mawaddah wa rahmah,mendapatkan keturunan,menjadi lahan beribadah sebagai wujud pelaksanaan perintah Allah sekaligus untuk menyempurnakan agama.

Allah berfirman:

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.(QS. Arruum:21)

"Allah menjadikan kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?." (QS. An-Nahl ayat 72).

Rasulullah bersabda:

"Barangsiapa menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh ibadahnya (agamanya). Dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah SWT dalam memelihara yang sebagian lagi." (HR. Thabrani dan Hakim).

Untuk tujuan tersebut, Islam membagi tugas suami dan istri. Suami menjadi pemimpin dan penanggung jawab keluarga dan istri menjadi penanggung jawab di rumah suaminya. Suami melakukan urusan keluar rumah/publik dan istri melakukan urusan di dalam rumah/domistik. Pembagioan tugas ini bertujuan untuk menciptakan keteraturan sehingga tercipta kemaslahatan dan kebahagiaan dalam keluarga. Rasulullah bersabda :

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala Negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Suami bertugas memimpin keluarga secara umum, bertanggung jawab memenuhi kebutuhan nafkah keluarganya sesuai kemampuannnya ,memimpin dan mengendalikan anak dan istrinya menuju keselamatan dunia akhiratnya, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (at-Tahrîm/66:6)

Adapun tugas istri adalah mengatur rumah suaminya,tempat tinggal yang disediakan oleh suaminya. Sehingga rumah menjadi surga untuk penhuninya. Kebutuhan rumah dialah yang mengatur dan melaksanakannya

Kadar nafkah yang harus diberikan suami kepada istrinya tergantung kepada keluasan rizki yang yang didapat dari hasil jerih payahnya bekerja. Allah berfirman

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آَتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آَتَاهَا

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya” (QS. Ath Tholaq: 7).

Seorang istri harus menerima berapapun nafkah yang diberikan oleh suaminya dan mensyukurinya. Bersyukur akan menambah nikmat,kufur nikmat akan menghancurkan nikmat. Seorang istri yang tidak mensyukuri Allah diancam dengan nerakaNya, rasulullah bersabda:


أُرِيْتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ. قِيْلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Diperlihatkan neraka kepadaku. Ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita yang kufur.”

Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?”

Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang waktu, kemudian ia melihat darimu sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya), niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim )

Seorang istri bisa saja membantu menambah penghasilan suami ,tapi tidak boleh sampai meninggalkan tugas pokoknya sebagai ibu rumah tangga. Karena statusnya hanya membanntu,bukan mengambil alih tugas utama suaminya.

Itulah pembagian tugas suami-istri, jika dijalankan sesuai denagn ketentan Allah,insya Allah akan tecapai tujuan berkeluarga. Maka ada beberapa hal yang perlu Anda lakukan antara lain:

  1. Berusahalah sekuat tenaga untuk menjadi pemimpin dalam keluarga.
  2. Berikan nasehat dan teguran kepada istri, agar dia bersyukur dengan nafkah yang diberika suami,jangan kufur nikmat.Jangan karena tuntutan lebih besar lalu mengubah aturan allah. Mengubah perempuan jadi pemimpin di dalam rumah. Jadi bapak rumah tangga.

Itulah ketentuan Allah,jika dirubah maka kekacauan rumah tangga akan menjadi bencana. Rumah tangga yang sudah melenceng seperti ini harus dikembalikan ke posisinya semula dan ditata ulang,jika tidak bisa ditata ulang maka keluarga seperti ini tidak bisa dilanjutkan lagi. Wallahu alam bishowab.(as)



-- Amin Syukroni, Lc