Suami Tidak Berlaku Adil

Pernikahan & Keluarga, 30 Agustus 2020

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustadz

Saya baru saja menikah 3 bulan lalu secara siri, saya adalah istri kedua, bulan pertama pernikahan suami masih berusaha adil, dengan membagi jatah kunjung 3 hari di saya, dan 3 hari di madu saya, sementara ahad saya minta agar suami bisa membaginya bergiliran setiap ahad, tapi itu hanya berlaku sebulan saja, dengan alasan depresi karena pembagian hari kunjung saya dijatuhi talak karena mengingatkan hari-hari yang seharusnya jadi hak saya, sebulan lalu kami sepakat untuk rujuk dengan syarat yang diminta madu saya bahwa jatah berkunjung ke saya hanya 1 atau 2 hari seminggu, dan saya harus meminta izin terlebih dulu jika ingin menghabiskan ahad dengan suami dan hanya dibatasi 1 kali ahad dalam sebulan, sebulan ini suami hanya mengunjungi saya seperti permintaan madu saya, jarangnya kami bertemu ditambah lagi dengan susahnya kami berkomunikasi, pesan-pesan saya jarang direspin suami, dan telpon saya juga tidak pernah diangkat, saya berusaha ikhlas menjalani ini semua, tapi bulan ini saya merasa tidak kuat lagi dengan semua aturan yang dibuat, saya merasa pernikahan dipermainkan, bahkan ketika saya tanyakan kapan akan diresmikan secara negara, respon suami kurang, saya merasa dia lebih memperhatikan keluarganya, sementara saya terkatung-katung tidak dianggap sebagai bagian keluarga, tidak ditanya sehat atau sedang memerlukan apa, saya takut dengan perasaan saya sendiri, di dalam hati menguatkan diri untuk ikhlas, agar suami terhindar dari perhitungan Allah karena tidak mampu adil, apakah saya harus mempertahankan pernikahan ini, dan tetus berkata ikhlas, tapi hati juga terus merasa sakit?

Mohon nasehatnya ustadz, syukron 🙏🙏



-- Hanaa (Jakarta)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Siapapun dari kita yang berkeluarga, tentu menghendaki kedamaian dalam kehidupan rumahtangganya, karena hanya dengan suasana damai sajalah, suami istri akan bisa membangun dan mengatur rumah tangganya dengan baik

Namun yang namanya problem dan masalah keluarga itu memang bisa terjadi dalam rumah tangga siapa saja, apalagi dalam pernikahan poligami seperti di keluarga anda tentunya, sebagaimana anda telah ceritakan, tetapi yakinlah bahwa anda tidak sendirian

Dan ketika terjadi masalah dalam keluarga yang bisa menyebabkan hilangnya suasana damai, mestinya harus segera diupayakan untuk diurai dengan berbagai cara, agar suasana damai bisa kembali bisa dirasakan bersama.

Upaya untuk mengurai masalah tersebut bisa dimulai dan in syaa Allah akan efektif, kalau ada kesiapan suami istri untuk membangun komunikasi yang baik, dengan masing2 menyampaikan masalah yang dirasakan, dilanjutkan dengan  saling memberikan masukan, memusyawarahkan masalah yang ada, dan bila diperlukan bisa dengan menghadirkan fihak ketiga yang mempunyai kompetensi untuk menjadi penengah

Dan karena itu, seyogyanya anda tidak membiarkan masalah berlarut larut tidak ada ujungnya, Untuk itu segeralah komunikasikan hal tersebut dengan suami anda, ajaklah duduk bersama dengan cara yang baik dan dengan bahasa yang lembah lembut, pilihlah waktu yang kondusif, sehingga suasana komunikasi bisa berjalan dengan baik, cair dan bahkan santai, Kemudian komunikasikan masalah anda kepada suami dan saya melihat sepertinya sangat diperlukan hadirkan fihak ketiga yang kalian berdua yakini mempunyai kompetensi dalam hukum pernikahan dan kalian yakini mampu untuk menjadi penengah dalam mengurai problem yang sedang anda hadapi, sekaligus memberikan nasihat kepada anda dan suami anda dalam upaya bersama mencari solusi terbaik

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrw



-- Agung Cahyadi, MA