Istri Menjadi Tulang Punggung Dan Merasa Tertekan

Pernikahan & Keluarga, 3 September 2020

Pertanyaan:

Umur pernikahan kami sudah 13 tahun. Selama ini saya yang menjadi tulang punggung dalam rumah tangga saya.Suami saya tidak memiliki pekerjaan tetap, beberapa kali saya memberi modal usaha selalu gagal.Hal itu yang membuat beban pikiran saya, dan selalu menjadi pemicu konflik dalam rumah tangga saya. Ditambah lagi suami saya selalu cemburu jika saya chat dan berbicara dengan laki-laki lain meskipun dengan rekan kerja dan hanya sebatas urusan pekerjaan. Saya merasa terkekang. Saya selalu dihantui perasaan takut salah dimata suami saya jika sama berkomunikasi dengan lawan jenis. Saya sudah tidak tahan lagi dengan kondisi rumah tangga saya. Tetapi saya selalu berpikir bagaimana saya melanjutkan hidup saya dengan anak-anak saya dimana saya hidup ditempat tinggal saya saat ini tanpa ada sanak saudara sama sekali.Siapa yang akan melindungi kami dan menolong kami jika kami mengalami kesulitan. Dan bgaimana dengan ketiga anak saya jika mereka akan menjadi korban perceraian orang tuanya. Saya tidak tahu harus melakukan apa.



-- Retno Setiyowati (Belitung Timur)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Siapapun dari kita yang berkeluarga, tentu menghendaki kedamaian dalam kehidupan rumahtangganya, karena hanya dengan suasana damai sajalah, suami istri akan bisa membangun dan mengatur rumah tangganya dengan baik

Namun yang namanya problem dan masalah keluarga itu memang bisa terjadi dalam rumah tangga siapa saja, termasuk di keluarga anda tentunya, sebagaimana anda telah ceritakan, tetapi yakinlah bahwa anda tidak sendirian

Dan ketika terjadi masalah dalam keluarga yang bisa menyebabkan hilangnya suasana damai, mestinya harus segera diupayakan untuk diurai dengan berbagai cara, agar suasana damai bisa kembali bisa dirasakan bersama.

Upaya untuk mengurai masalah tersebut bisa dimulai dan in syaa Allah akan efektif, kalau ada kesiapan suami istri untuk membangun komunikasi yang baik, dengan masing2 menyampaikan masalah yang dirasakan, dilanjutkan dengan  saling memberikan masukan, memusyawarahkan masalah yang ada, dan bila diperlukan bisa dengan menghadirkan fihak ketiga yang mempunyai kompetensi untuk menjadi penengah

Dan karena itu, seyogyanya anda tidak membiarkan masalah berlarut larut tidak ada ujungnya, Untuk itu segeralah komunikasikan hal tersebut dengan suami anda, ajaklah duduk bersama dengan cara yang baik dan dengan bahasa yang lembah lembut, pilihlah waktu yang kondusif, sehingga suasana komunikasi bisa berjalan dengan baik, cair dan bahkan santai, Kemudian komunikasikan masalah anda kepada suami dan saya melihat sepertinya sangat diperlukan hadirkan fihak ketiga yang kalian berdua yakini mempunyai kompetensi dalam hukum pernikahan dan kalian yakini mampu untuk menjadi penengah dalam mengurai problem yang sedang anda hadapi, sekaligus memberikan nasihat kepada anda dan suami anda dalam upaya bersama mencari solusi terbaik

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrw



-- Agung Cahyadi, MA