Mengajukan Khulu'

Pernikahan & Keluarga, 14 Oktober 2020

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustd,

Suami saya jarang sekali sholat, kalo diingatkan selalu marah2 dan sering menyalahkan Allah karena sudah hampir 1 tahun ini belum bekerja.

Suami selalu bilang, "Salah saya apa sampai nasib saya seperti ini." Saya sudah sering mengingatkan untuk bersabar dan memperbaiki sholatnya. Tapi suami tidak mau mendengarkan, bahkan terkesan menyalahkan saya, dan bilang saya sombong karena saya bekerja dengan penghasilan yang Alhamdulillah masih bisa mencukupi kebutuhan keluarga, meski suami tidak bekerja.

Selain itu, saya baru mengetahui jika suami saya ternyata sudah 2 tahun lebih suka main perempuan, berbuat maksiat dan berzina. Ini saya dapatkan buktinya dari invoice2 atas nama suami yang check in di hotel2 melati selama 3-4 jam. 

Saat ini suami malah pergi dengan selingkuhannya, tanpa pamit dan tidak ada kabar apapun. ini saya tahu waktu sehari setelah suami kabur, dia bilang pergi dengan temannya. Tapi setelah saya selidiki, ternyata pergi dengan selingkuhannya, dan suami saya membenarkannya. tapi suami beralasan jika dia pergi untuk mencari nafkah dan ditolong oleh selingkuhannya.

Saya tidak percaya ustad, karena mereka perginya ke rumah orang tua selingkuhannya, dan sampai sekarang tidak ada kabar sama sekali. Termasuk ibu dan keluarganya juga tidak tahu keberadaannya.

Dengan kondisi semacam ini, apakah saya bisa mengajukan khulu' ustad? Apalagi keluarga dan keluarga suami saya juga mendukung saya untuk mengajukan khulu', mengingat suami pergi dari rumah tanpa pamit, dan tidak memberikan nafkah lahir dan batin selama 6 bulan.

Terima kasih,

Wassalamualaikum



-- Farida (Jakarta)

Jawaban:

Assalaamu 'alaikum wrwb.

Siapapun dari kita yang berkeluarga, tentu menghendaki kedamaian dalam kehidupan rumahtangganya, karena hanya dengan suasana damai sajalah, suami istri akan bisa membangun dan mengatur rumah tangganya dengan baik

Namun yang namanya problem dan masalah keluarga itu memang bisa terjadi dalam rumah tangga siapa saja, termasuk di keluarga anda tentunya, sebagaimana anda telah ceritakan, tetapi yakinlah bahwa anda tidak sendirian

Dan ketika terjadi masalah dalam keluarga yang bisa menyebabkan hilangnya suasana damai, mestinya harus segera diupayakan untuk diurai dengan berbagai cara, agar suasana damai bisa kembali bisa dirasakan bersama.

Upaya untuk mengurai masalah tersebut bisa dimulai dan in syaa Allah akan efektif, kalau ada kesiapan suami istri untuk membangun komunikasi yang baik, dengan masing2 menyampaikan masalah yang dirasakan, dilanjutkan dengan  saling memberikan masukan, memusyawarahkan masalah yang ada, dan bila diperlukan bisa dengan menghadirkan fihak ketiga yang mempunyai kompetensi untuk menjadi penengah

Dan karena itu, seyogyanya anda tidak membiarkan masalah anda dengan suami tersebut berlarut larut tidak ada ujungnya, Untuk itu segeralah komunikasikan hal tersebut dengan suami anda, ajaklah duduk bersama dengan cara yang baik dan dengan bahasa yang lembah lembut, pilihlah waktu yang kondusif, sehingga suasana komunikasi bisa berjalan dengan baik, cair dan bahkan santai, Kemudian komunikasikan masalah anda kepada suami dan saya melihat sepertinya sangat diperlukan hadirkan fihak ketiga yang kalian berdua yakini mempunyai kompetensi dalam hukum pernikahan dan kalian yakini mampu untuk menjadi penengah dalam mengurai problem yang sedang anda hadapi, sekaligus memberikan nasihat kepada suami secara khusus dalam upaya bersama mencari solusi terbaik

Disamping upaya tersebut, ada hal mesti anda lakukan yaitu mendekat kepada Allah dengan optimal, memohon agar Allah berkenan untuk memberikan yang terbaik untuk keluarga anda

Bila upaya komunikasi dengan suami sulit untuk anda lakukan dan suami tetap dengan sikapnya, maka menurut kami, mengajukan khulu' menjadi solusi terkhir yang bisa anda tempuh.

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA