Keraguan

Lain-lain, 14 Oktober 2020

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum pak ustadz

Saya sering dilanda keraguan. Contoh jika saya ingin melakukan perbuatan, saya bingung perbuatan itu dosa atau tidak. Bagaimana cara menyikapinya

Wassalamu'alaikum



-- Yusman (Bandung)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Keraguan muncul dari dari dua hal:

  1. Syubhat, yaitu satu kondisi diamana seseorang dihadapkan kepada sesuatu yang tidak jelas, remang-remang atau abu-abu. Tidak jelas benarnya dan juga tidak jelas salahnya. Untuk menghilangkan keraguan karena syubhat adalah ilmu. Ilmulah yang menjelaskan sesuatu,ilmulah yang membuat batas benar dan salah secara tegas, ilmulah yang memunculkan keyakinan yang bisa menghalau keraguan.

Untuk mendapatkan ilmu harus belajar. Belajar hukumnya wajib bagi seorang muslim. Rasulullah bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim”.

Untuk menjamin kebenaran ilmu harus belajar kepada guru sesuai dengan keahliannya, yang mampu mendampingi dan mengarahkan secara langsung. Hindari belajar hanya mengandalkan media sosial.

  1. Syahwat, nafsu dan kecenderungan buruk seseorang bisa mengaburkan kebenaran. Syahwat mendorong untuk mengotak-atik kebenaran yang telah nyata dengan mendatang beragam alasan untuk lari dari kebenaran, sehingga berubahlah keyakinan menjadi keraguan.

Untuk menghilangkan keraguan yang disebabkan  syahwat hanyalah iman. Iman kepada Allah dan rasulNya sebagai sumber kebenaran absolut yang tertulis dalam al Quran dan hadits. Keduanya merupakan standar kebenaran. Siapa yang berpegang kepada keduanya akan selamat, siapa yang berpaling darinya akan tersesat.

Allah berfirman :

ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُمْتَرِينَ

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu (al Baqrah:147)

Rasulullah bersabda:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِه

Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi)

Jika Anda bertanya bagaimana mensikapi keragu-raguan antara perkara dosa dan tidak, maka kunci jawabannya kembali kepada sebab keraguan itu. Jika sebabnya syubhat, maka carilah ilmunya dan bertanyalah kepada ahlinya. Jika sebabnya syahwat, maka bersihkan pikiran dan hati dari sesuatu selain Allah dan Rasul-Nya, Al Quran dan Sunnah-Nya. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc