Was Was Menghina Allah

Lain-lain, 15 Oktober 2020

Pertanyaan:

*Assalamualaikum pak ustadz 

Saya ingin bertanya! saya selalu ingin mengucapkan kata kata sepert i"Tuhan yesus"dan saya tidak sengaja membaca "sab"

Padahal hati saya tidak menginginkan nya?saya juga merasa tidak dekat dengan Allah swt? Apa yang saya harus lakukan? 

Dan Apakah saya sudah murtad? 



-- Shella Aprilia Nur L (Tulungangung)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Untuk menjawab beberapa pertanyaan sekitar was-was yang sering melanda hati dan pertanyaan lainya, ada beberapa poin yang bisa disampaikan:

  1. Amalan manusia itu dinilai oleh Allah sebagai kebaikan atau keburukan harus dilakukan dengan kesadaran dan dengan sengaja. Harus dengan niat, bukan hanya sekedar bisikan hati. Rasulullah saw bersabda:

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) .

Jika amalan seseorang dilakukan di luar kesadaran dan keinginannya maka amalan itu tidak dinilai sebagai kebaikan maupun kesalahan di mata Allah swt.

  1. Orang yang melakukan sesuatu kesalahan karena terpaksa atau tidak disengaja tidak dicatat oleh Allah sebagai kesalahan. Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِى الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku karena aku (apa yang mereka lakukan) tanpa ada kesengajaan, lupa dan apa yang mereka dipaksa untuk melakukannya.” [Hadits Hasan riwayat Ibnu Majah dan Al Baihaqi]

  1. Ucapan “Tuhan yesus” yang terbersit di hati dan ada dorongan untuk mengucapkannya, maka bisa dilihat dari beberapa sisi. Jika menyebut “ Tuhan yesus, Tuhan latta, Tuhan uzza dll” tanpa mengakui itu semua sebagai Tuhan yang sah dan benar maka hal tersebut tidak berdosa. Seperti ketika kita membicarakan adanya sesembahan selain Allah yang dipertuhankan seperti Tuhan yesus, Tuhan lata dll.

Tapi jika menyebut semua Tuhan-Tuhan itu sebagai Tuhan yang benar,seperti benarnya Tuhan Allah dalam Islam, yang berhak disembah, maka itu sudah masuk dalam kategori syirik. Yang pelakunya bisa murtad karenanya.

  1. Cara mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan yang wajib dan melakukan yang sunnah secara kontinyu. Rasulullah saw bersabda:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ ، وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أحْبَبْتُهُ ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإنْ سَألَنِي أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku; yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardhukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya.”(HR Bukhari)

Dan rasulullah juga bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. (HR Muslim).

Jangan memaksakan diri untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan sunnah yang berat, tapi dimulai dengan mendekatkan diri dengan amalan sunnah yang ringan dan mudah dikerjakan agar bisa dikerjakan secara kontinyu. Jika hal tersebut sudah bisa dekerjakan dengan baik, boleh menambah amalan sunnah yang lain. Tapi perlu diingat bahwa semua amalan sunnah itu dikerjakan setelah amalan wajib ditunaikan dengan baik. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc