Doa Orang Terzolimi

Akhlaq, 22 Oktober 2020

Pertanyaan:

Assalamualaikum,

Ustad, suami saya telah berselingkuh selama 2 tahun, dan saya baru mengetahuinya akhir2 ini. Dan posisi suami saya saat ini pergi dari rumah dengan selingkuhannya.

Saya benar2 sakit hati, ustad. Lalu saya sms suami saya, mengatakan jika suami saya telah berbuat zolim pada saya, saya bilang suami saya pengecut, tidak bertanggungjawab, dan perkataan buruk lainnya. Kemudian suami saya membalas sms saya dengan jawaban, "percuma berjilbab jika perkataannya buruk," 

Kemudian, kepada selingkuhan suami saya, saya kirim sms kepadanya, saya sebut dia sebagai pelacur perebut suami orang, tukang zina dan perkataan buruk lainnya.

Bahkan saya berdoa kepada Allah, agar suami saya dan perempuan (saya bahkan menyebut nama perempuan itu dalam doa saya) itu diberikan balasan atas perbuatannya karena telah mengkhianati dan menyakiti hati saya dan anak saya.

Saya pernah berdoa kepada Allah: 

"Ya Allah, saya sangat sakit dengan perlakuan pelacur itu -YENI YUNIAWATY- balaskan sakit hati saya, ya Allah.

Panjangkanlah umur YENI YUNIAWATY, sengsarakan hidupnya di dunia dan akherat, miskinkanlah hidup di dunia dan akherat, hinakanlah hidupnya di dunia dan akherat, dan matikanlah dia dalam keadaan hina."

Saya berdoa seperti itu, ustad.

Saya tahu doa saya sangat buruk. Saya melakukannya karena saya sangat sakit hati dengan perempuan itu, padahal dia juga statusnya masih suami orang. Saya merasa terzolimi oleh suami saya dan perempuan itu.

Apalagi sampai sekarang suami saya belum kembali dan masih bersama perempuan itu, bahkan tidak diketahui keberadaannya di mana. Hilang kontak sama sekali.

ustad,

1. Apa perkataan suami saya tentang "percuma berjilbab jika perkataannya buruk" berarti akhlak saya buruk?

2. Apakah saya diperbolehkan berdoa buruk karena saya merasa terzolimi seperti itu kepada Allah?

3. Apakah doa saya bisa dikabulkan Allah? Saya pernah membaca, doa orang yang terzolimi pasti dikabulkan Allah.

4. Sampai saat ini saya masih sering merasa sakit hati. Saya bukannya tidak menerima takdir Allah dan tidak ikhlas, tapi ini benar-benar sulit buat saya ustad. Apalagi pernikahan kami sudah berjalan 15 tahun, dan selama ini menurut saya baik2 saja dan tidak ada persoalan yang berarti. Saya harus bersikap bagaimana ustad? Saya sudah mencoba mendekatkan diri terus-menerus kepada Allah, zikir, mengaji, tapi masih saja mengingat dan merasa sakit, bahkan masih sering menangis.

Mohon pencerahannya, ustad.

terima kasih.

Wassalamualaikum 

 



-- Saadah (Surabaya)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Sungguh apa yang menimpa Anda sangatlah berat, semoga Allah memberikan kesabaran dan limpahan rahmatNya dan semoga  Anda dan anak Anda dalam lindungan Allah swt. kami akan jawab satu persatu:

  1. Mengenai perkataan suami Anda bahwa Anda berperangai buruk karena Anda telah mengatakan bahwa dia lelaki yang pengecut dan perkataan buruk lainnya, tentu tidak serta merta Anda berperangai buruk, kecuali apa yang dikatakan suami Anda adalah benar adanya, tapi bukankah Anda mengatakan itu karena berdasarkan kepada realita dan fakta yang ada ? Anda sedang menyampaikan fakta dan bukan mengada-adakan sesuatu. Justru ketika Anda menegur suami Anda dengan teguran yang kerasa seperti itu adalah bukti bahwa Anda adalah orang yang baik, karena Anda mengingkari perbuatan yang munkar atau buruk. Siapapun yang melihat kemungkaran maka dia harus mengubahnya dan mengingatkannya, dengan cara yang paling ringan sampai dengan cara yang paling berat dan keras. Rasulullah bersabda:

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

  1. Doa keburukan untuk orang lain karena merasa terdhalimi. Hukum asal mendoakan keburukan orang lain itu tidak diperbolehkan. Rasulullah saw bersabda:

قَالَ أَبُو دَاوُدَ: حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ حَبِيبٍ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: سُرق لَهَا شَيْءٌ، فَجَعَلَتْ تَدْعُو عَلَيْهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "لَا تُسَبّخي عنه"

Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Mu'az, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Habib, dari Ata, dari Siti Aisyah yang menceritakan bahwa pernah ada yang mencuri barang miliknya, lalu ia mendoakan kecelakaan terhadap pelakunya. Maka Nabi Saw. bersabda: Janganlah kamu mendoakan kecelakaan terhadapnya.

Tapi jika doa keburukan itu dilakukan oleh orang yang terdholimi untuk orang yang telah mendholiminya maka hal itu diperbolehkan. Allah berfirman:

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS.annisa 148)

Ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa Allah tidak menyukai bila seseorang mendoakan kecelakaan terhadap orang lain, kecuali jika ia dianiaya olehnya. Maka saat itu Allah memberikan rukhsah kepadanya untuk mendoakan kecelakaan terhadap orang yang berbuat aniaya terhadapnya. Hal ini disebutkan melalui firman-Nya:

{إِلا مَنْ ظُلِمَ}

kecuali oleh orang yang dianiaya. (An-Nisa: 148)

  1. Doa orang yang terdholimi akan dikabulkan Allah swt, bahkan semua doa dikabulkan Allah swt. Allah berfirman

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِين

Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina“. (QS. Ghafir: 60)

Rasulullah saw bersabda:

“Takutlah kepada doa kaum yang teraniaya, lantaran tidak ada hijab antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan)”. (HR Bukhari)

Bentuk pengabulan doa itu ada tiga:

  1. Doa dikabulkan segera seperti yang diminta
  2. Doa dikabulkan dengan ditangguhkan di akhirat,sebagai simpanan baginya.
  3. Dikabulkan dalam bentuk keselamatan dari keburukan yang semestinya menimpa dirinya.

 ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا. قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ :اللَّهُ أَكْثَرُ

Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR. Ahmad )

  1. Sikap yang bisa diambil dalam mengahadapi peristiwa yang berat ini dengan melakukan instrospeksi diri dan menerima takdir ini dengan ridla. Mulailah dengan melakukan evaluasi diri, apakah selama ini Anda telah melakukan yang terbaik buat suami Anda atau masih ada yang perlu lebih diperbaiki lagi, meskipun bisa jadi Anda merasa telah melakukan yang terbaik dan Anda merasa kondisi keluarga Anda baik-baik saja. Apakah ibadah dan taqarrub Anda kepada Allah dalam kondisi baik-baik saja? Sudahkan Anda mensyukuri nikmat keluarga yang telah Allah berikan? Bukankah rasa syukur menambah nikmat dan mengkufurinya mencabut nikmat ?

Jika Anda telah melakukan evaluasi diri ,langkah yang bisa diambil selanjutnya adalah menerima semua yang terjadi sebagai takdir Allah yang harus diterima dengan ridla. Ketentuan Allah pasti yang terbaik buat hambaNya. Dan semua ini terjadi atas kehendaknya. Dan Allah juga maha mampu mengembalikan kondisi yang buruk ini menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Setelah itu pasrahkan segalanya kepada Allah dan fokuslah kemasa depan yang masih terbuka lebar untuk melakukan yang lebih baik. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc