Menagih Warisan Rumah

Waris, 3 November 2020

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustad,

Ustadz, saya saat ini menempati rumah warisan dari almarhum abah saya. Saya tinggal dengan ibu saya.

Rumah ini merupakan warisan dari almarhum nenek saya, yang mempunyai anak 3, 2 orang perempuan dan 1 orang laki2 (abah saya).

Setelah nenek saya meninggal, rumah warisan langsung dibagi. Waktu itu saya masih kecil, jadi saya tidak tahu menahu dan tidak ikut campur. 

Waktu dibagi, sepupu saya (anak perempuan budhe saya yg nmr 2) yang mengurus ke notaris, atas sepengatahuan budhe dan abah saya. Rumah akhirnya disertifikatkan mnjadi 2, karena budhe saya yg nomer 1, meminta uang cash.

Waktu abah saya dan budhe saya nmr 2 masih hidup, sertifikat rumah sudah jadi, dan tidak ada masalah apa2. Karena waktu pengukuran luasan tanah juga didampingi abah dan budhe sy yg nmr 2.

Masalahnya, setelah abah saya dan budhe sy yg nmr 2 meninggal, tiba2 anak budhe saya bilang ke ibu saya, kalo pembagian tanah rumah saya ada kelebihan sekian meter. Dan sepupu saya meminta ganti rugi.

Ibu saya bingung ustad, karena kalaupun ada kelebihan tanah di bagian  rumah saya, kenapa tidak dibahas wakti almarhum abah dan budhe sy masih hidup?

Saya dan ibu saya ngotot menjawab demikian, kenapa baru dipermasalahkan sekarang, saat ahli waris pertama sudah meninggal. 

Sepupu tetap ngotot dengan kelebihan tanah itu dan menuntut haknya. 

Menghadapi yang demikian, saya harus bagaiman nggih ustad? 

Mohon bantuannya. Terima kasih

Wassalam



-- Yuyun (Surabaya)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Pengakuan dan klaim sepupu anda/anak bude anda bahwa ada kelebihan tanah dirumah warisan yang sekarang anda tempati dengan ibu anda tersebut tentu perlu bukti atas kebenaran pengakuannya dan sangat tidak cukup hanya sekedar dengan pengakuan dengan ucapan saja

Kalau tidak mampu memberikan bukti dan tetap dalam tuntutannya atas pengakuannya yang tidak disertai dengan bukti tersebut, maka akan lebih baik kalau dengan mendatangkan fihak ketiga, bisa perangkat desa atau badan pertanahan atau notaris yang dulu mengurus sertifikat tanah rumah tersebut

Dan upayakan semuan itu dengan cara yang baik baik dan bijak, sehingga tidak sampai merusak hubungan silaturrahim keluarga

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wfrwb.



-- Agung Cahyadi, MA