Bapak Tega Memisahkan Hubungan Mantu,dgn Istri Dan Anak2nya

Akhlaq, 6 November 2020

Pertanyaan:

SDH hampir 3 bulan suami d usir bapak saya,,apa yg harus saya lakukan terhadap bapak yg egois tingkat tinggi,selalu salah apa yg kulakukan,dan bentak2/ marah2 terus ,haruskah anak perempuan nya meninggalkan bapak sendirian,,,karena saya masih py suami yg masih mampu menafkahi 

Apakah anak perempuan nya durhaka ma BPK, karena anak perempuannya ingin jadi istri sholekha



-- Yayuk (Surabaya)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Anda sedang menghadapi problem yang cukup rumit, tapi selalu ada jalan keluar dari masalah itu ketika dikembalikan kepada agama. Satu sisi Anda wajib berbakti kepada orang tua. Pada sisi yang lain -karena Anda sudah bersuami- wajib taat kepada suami dan menunaikan kewajiban kepadanya .

Kewajiban Anda sebagai anak adalah berbakti kepada kedua orang tua, selama orang tua dalam koridor ketentuan syariat Allah swt. Karena ridha Allah dan murkanya tergantung ridha dan murka orang tua. Jika orang tua ridha, maka Allahpun juga akan rdha dan sayang, jika orang tua marah, maka Allahpun juga marah. Rasulullah bersabda:

رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua” (HR at-Tirmidzi , al-Hakim )

Akan tetapi jika orang tua menyuruh untuk berbuat yang melanggar syariat maka tidak ada kewajiban untuk mentaati perintah dan kemauannya, tetapi tetap wajib berlaku baik dalam urusan lain. Allah swt berfirman:

وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا‌ وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا‌ۖ وَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّ ‌ۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ١٥

 

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Qs. Lukman : 15)

Rasulullah bersabda:

Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf” (HR Bukhari dan  Muslim).

Kewajiban istri kepada suaminya adalah taat kepada suami dan menunaikan kewajiban kepadanya, melayaninya lahir dan batin. Seorang wanita jika telah menikah, maka ketaatan kepada suami lebih diutamakan daripada ketaatananya kepada orang tuanya. Rasulullah bersabda:

Dari ‘Aisyah Ra, berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Siapakah manusia paling besar haknya atas wanita?” Beliau menjawab: “Suaminya.” Kemudian aku bertanya lagi, “Lalu siapa manusia yang paling besar haknya atas laki-laki?” Beliau menjawab, “Ibunya.” (HR. al-Hakim).

Dan Rasulullah juga bersabda:

“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan wanita supaya bersujud kepada suaminya. Seandainya suami memerintahkan isterinya supaya berpindah dari bukit Ahmar ke bukit Aswad, atau dari bukit Aswad ke bukit Ahmar, maka ia harus melakukannya.”(HR.Ibnu Majah)

Dalam kasus ini yang bisa Anda lakukan adalah :

  1. Hendaknya Anda memilih suami Anda. Karena dia yang paling berhak atas diri Anda.
  2. Bersikaplah yang baik kepada ayah Anda pada urusan-urusan yang lain, seperti tetap jaga komunikasi dengan ayah, membantu dalam urusan lain, berlaku sopan dst. Dalam urusan dia mengusir suami Anda, Anda harus berada dipihak suami.

Semoga dengan demikian, ayah dan suami Anda bisa saling mengalah untuk menang bersama. Tidak ada kerukunan jika tidak saling mengorbankan egonya masing-masing. Karena semua orang punya ego yang harus diterima oleh orang lain,tapi jika memaksakan egonya harus diterima seratus persen oleh orang lain, tidak akan pernah terjadi kerukunan. Wallahu a’lam bishowab (as)



-- Amin Syukroni, Lc