Selalu Curiga Terhadap Suami

Akhlaq, 9 November 2020

Pertanyaan:

Assalamualaikum, saya menikah selama 8 tahun. Pernikahan kami tidak berlangsung baik karena diawali dengan kebohongan masa lalu suami saya yang baru saya ketahui keluarga aslinya 2 tahun setelah menikah. setelah menikah dia juga membohongi saya dan keluarga dengan berpura2 kuliah s2 dan bekerja di sebuah tempat yg bagus,ternyata aslinya dia malah sedang menganggur. Hal ini membuat saya kehilangan rasa percaya kepada suami,saya tidak mudah mempercayai omongannya lagi. Dan selama menikah dia tidak seperti ayah2 lain yg suka memamerkan foto anaknya,dia malah cenderung menyembunyikan saya dan anak saya sebagai keluarganya. Tapi anehnya 2 kali saya memergoki suami memasang foto anak kecil yang saya tidak kenal itu siapa di status wa nya. Ketika saya tanya dia beralasan temannya yang iseng, sedangkan yang kedua tidak menjelaskan apa2 cuma permintaan maaf saja yang keluar. Puncaknya tadi malam, sorenya saya telpon suami eh malamnya tiba2 ada sms yg intinya menyuruh jangan mengganggu suami saya,saya dianggap selingkuhan suami saya sendiri. Semalaman suami tidak bisa dihubungi. Dan sekarang baru suami sms dengan no lain bilang kalo nomernya hilang, jujur saya sudah nggak percaya lagi dengan suami saya. Saya sering berpikir untuk bercerai saja tapi saya juga kasihan sama anak. Sebaiknya saya harus bagaimana?di satu sisi saya benar2 nggak percaya lagi dengan suami, di sisi lain anak saya juga butuh figur seorang ayah. Apakah perceraian adalah jalan yang terbaik?



-- Tata (Brebes)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullah wabarakatuhu.

Pernikahan adalah syariat Allah swt. Semua syariat Allah ditetapkan untuk memberi kebaikan kepada manusia. Tujuan pernikahan untuk menghadirkan kehidupan yang penuh dengan ketenangan dan kasih sayang, menjaga pandangan dan kemaluan dari perbuatan terlarang, melahirkan keturunan dan melaksanakan sunnah nabi Muhammad saw.

Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan kejujuran antara calon suami dan istri sebelum mereka memutuskan untuk menikah. Kejujuran diperlukan karena sesungguhnya menikah adalah menyatukan dua hal yang berbeda dalam satu ikatan yang disebut ikatan pernikahan,sebuah ikatan yang kokoh. Kejujuranlah yang menjadikan perbedaan dapat disikapi dengan saling memahami dan saling membantu satu sama lain.

Bagaimana kalau kebohongan itu telah terjadi dalam sebuah pernikahan yang kemudian berdampak pada hilangnya kepercayaan kepada pasangan dan hilangnya keharmonisan keluarga?

Allah maha pengasih dan penyayang. Segala syariat yang diturunkan kepada manusia selalu bertujuan baik. Jika tujuan itu tidak dapat dicapai -malah yang terjadi adalah keburukan- Allah selalu memberi jalan keluar untuk keluar dari masalah. Misalnya pernikahan. Jika dalam pernikahan tidak diperolah kebahagiaan dan justru yang terjadi adalah kedhaliman, maka bercerai adalah jalan keluarnya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Tapi sebelum keputusan cerai diambil,lakukan musyawarah terlebih dahulu dengan keluarga besar. Karena keluarga besarlah yang dulu dimintai pendapat sebelum keputusan untuk menikah diambil. Kedua orang tua harus dimintai pendapat dan diajak menyelesaikan masalah. Orang yang melakukan musyawarah tidak akan menyesal dikemudian hari. Allah memerintahkan untuk musyawarah dalam firmanNya:

وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ

Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakal kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya” [Ali-Imran/3 : 159]

Ketika kelurga besar diajak bermusyarah maka mereka nanti juga akan membantu memikirkan masa depan keluarga itu setelah perceraian. wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc