Menceritakan Aib Masa Lalu

Fiqih Muamalah, 11 November 2020

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustadz, bolehkah saya menceritakan dosa masa lalu saya yakni saya pernah terpapar video porno kepada orang tua saya? tetapi saya sudah taubat. saya ingin menceritakannya supaya mereka memberi arahan untuk saya. 

apakah ini sama halnya dengan konsultasi kepada ustadz, ulama dll? karena tujuan saya menceritakan kepada orang tua adalah untuk diberi arahan dan bimbingan.

Apakah hal ini menjadikan dosa saya susah untuk diampuni karena saya menceritakannya?

 

mohon penjelasannya, terimakasih wassalamualaikum.



-- Hamba Allah (Purwokerto)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Tidak ada seorang pun manusia di muka bumi yang luput dari dosa, Dosa maupun kesalahan adalah aib yang wajib disembunyikan.

Rasulullah SAW melarang umatnya untuk tidak membuka atau menceritakan aib sendiri kepada orang lain. Beliau mengajarkan kepada kita agar menyembunyikan dosa-dosa maupun aib kita dan kemudian bertaubat.

Rasulullah SAW bersabda :

كُلُّ أُمَّتِيْ مُعَافَى إِلَّا اْلمُجَاهِرِيْنَ
Semua ummat kuitu di dalam maafnya Allah, dan cepat sekali diampuni Allah. (HR. Bukhari)

Namun, apabila menceritakan dosa itu kepada ustadz, ulama, atau kiyai yang kompeten dengan maksud untuk meminta nasihat maka hukumnyan diperbolehkan. Sebagaimana para sahabat datang kepada Rasulullah  memohon pendapat telah berbuat dosa ini itu dan lain sebagainya.

Allah Ta'ala berfirman di dalam sebuah hadits qudsi riwayat Al-Bukhari dan Muslim: "Aku (Allah) telah menyembunyikan dan menutupi aib hamba Ku dan dia yang membukanya sendiri. Aku (Allah) tutupi supaya orang lain tidak tahu dosanya, dia sendiri yang membuka dan merobek tabir yang Kututup agar orang lain tidak tahu kehinaannya. Dia yang membuka kehinaannya pada orang lain padahal Aku menutupinya".

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW juga bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَلِيمٌ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ
Sesungguhnya Allah Ta'ala Maha Pemurah, kekal, dan Maha Penutup, Dia mencintai rasa malu dan sikap sitru (menutup aib). (HR Abu Dawud dan An-Nasai).
 
Berdasarkan hal tersebut, maka apabila ayah anda termasuk yang anda yakini bisa memberikan nasihat yang befrmanfaat untuk anda, maka tidak ada dosa bila anda menceritakan dosa anda kepada orangtua dengan tujuan yang baik tadi.
 
Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya
Wallahu a'lam bishshawaab
Wassalaamu 'alaikum wrwb.


-- Agung Cahyadi, MA