Was Was Berkata 'ah' Kepada Ibu

Akhlaq, 10 Desember 2020

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pak ustadz bagaimana jika seorang anak yang sedang tidur lalu dibangunkan oleh ibunya, namun anak tersebut seperti marah2 saat sedng dibangunkan untuk shalat subuh, alasannya karena masih merasa ngantuk dan kebetulan lambungnya sdang terasa perih karena punya penyakit maag. Serta ia juga berkata seperti : "iya tunggu, *lalu menghela nafas tapi penuh tekanan*"

Caranya menghela nafas penuh tekanan sesaat, mungkin krna merasa kesal saat dibangunkan, tetapi ia takut itu terdengar seperti berkata 'Ah' kepada ibunya. Setelah itu ia sangat menyesal dan takut apakah itu terhitung berkata 'Ah' kepada ibunya. Ia sangat takut menjadi anak durhaka tetapi terkadang tidak bisa mengontrol emosi dan perasaannya. Akhirnya ia overthinking dan menjadi stress.

Ia pun tidak punya keberanian untuk meminta maaf, apakah ada cara lain untuk bertaubat agar tidak menjadi anak yang durhaka, pak ustadz?

Mohon penjelasannya pak ustadz. 

Terimakasih.

 



-- Lia (Bandung)

Jawaban:

 Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Allah memerintahkan kepada setiap anak agar memuliakan kedua orang tuanya dan berbakti kepadanya. Allah berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” (Al-Israa’ : 23-24).

Allah melarang menyakiti kedua orang tua dengan larangan yang keras, apalagi ketika keduanya berada di usia senja. Termasuk berkata kepadnya dengan perkataan yang menyakitkan meskipun itu ringan, seperti “ah” atau yang sejenisnya.

Karena itu siapapun yang menyikiti orang tuanya harus meminta maaf kepadanya agar dosanya diampuni oleh Allah. Allah tidak mengampuni dosa yang dilakukan seseorang kepada sesamanya. Sesamanyalah yang bisa mengampuninya dengan memaafkan kesalahannya.

Cara taubat dari kesalahan kepada sesama manusia adalah dengan meminta maaf, atau mengembalikan barang yang diambil atau memberi kesempatan untuk menegakkan qishas atas kedzaliman yang dilakukan kepada orang lain. Pelaku salah kepada sesama manusia-jika belum dimaafkan di dunia-akan dibawa urusannya sampai diakhirat, dimana saat itu sudah tidak ada lagi maaf memaafkan. Untuk menghapus kesalahan saat di akhirat nanti adalah  dengan menukar dosa dengan pahala. Rasulullah menjelaskannya dalam sebuah hadits:

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?”.Para sahabat menjawab, ”Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda. ”Tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka” (HR. Muslim)

Itulah cara taubat kepada sesama manusia,termasuk kepada ibu. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc