Hukum Meminjamkan Barang Atau Uang Lalu Mengambil Keuntungan Dari Pinjaman Tersebut

Fiqih Muamalah, 21 Desember 2020

Pertanyaan:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saya pernah membaca bahwa ada kaidah yang para ulama sepakati dalam masalah ini berbunyi,

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا فَهُوَ رِبَا

“Setiap pinjaman yang menghasilkan manfaat adalah riba.”

Dalam Shahîh Al-Bukhâry, dari Abu Burdah bin Abu Musa radhiyallâhu ‘anhu, beliau menyebutkan nasihat Abdullah bin Salâm radhiyallâhu ‘anhu kepada beliau. Abdullah bin Salâm radhiyallâhu ‘anhu berkata,

إِنَّكَ بِأَرْضٍ الرِّبَا بِهَا فَاشٍ، إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ، فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ، أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ، أَوْ حِمْلَ قَتٍّ، فَلاَ تَأْخُذْهُ فَإِنَّهُ رِبًا

“Sesungguhnya engkau berada pada suatu negeri[1] yang riba tersebar pada (negeri) tersebut. Apabila engkau memiliki hak (piutang) terhadap seseorang, kemudian orang itu menghadiahkan sepikul jerami, sepikul gandum, atau sepikul makanan ternak kepadamu, janganlah engkau ambil karena itu adalah riba.”

 

Yang ingin saya tanyakan adalah:

1. Jika kita meminjamkan suatu kendaraan kepada seseorang, lalu kita meminta tolong kepada orang yang meminjam kendaraan tersebut untuk membelikan sesuatu keperluan kita dengan menggunakan kendaraan kita yang dipinjamnya, sedikit atau banyak.

Atau orang yang meminjam kendaraan itu menawarkan diri untuk membelikan barang keperluan sedikit atau banyak jumlahnya dengan menggunakan kendaraan kita yang sedang dipinjamnya.

Berdasarkan kaidah yang saya tuliskan diatas, Apakah itu termasuk riba ustadz?

 

2. Jika ada seseorang berhutang sejumlah uang kepada kita lalu kita sering bertemu dan bergaul dengannya. Kemudian orang yang berhutang tersebut memberikan sesuatu barang atau membantu kita dengan pertolongan tertentu baik jasa atau barang, sebelum dia melunasi hutangnya.

Berdasarkan hadits yang saya tulis diatas, apakah itu termasuk riba?

.



-- Mufti (Binjai)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Para ulama – rahimahumullâh – sudah menjelaskan permasalahan tambahan dalam pembayaran hutang dengan sangat jelas. Mereka menyatakan bahwa tambahan nilai atau manfaat dari hutang ada dua keadaan:

1). Apabila tambahan tersebut menjadi syarat akad hutang-piutang. Hal ini jelas dilarang berdasarkan ijma’ Ulama. Demikian juga manfaat (jasa) yang disyaratkan, seperti pernyataan seseorang: “Saya pinjamkan kepadamu uang dengan syarat kamu membantu saya melakukan ini dan itu”. Ini termasuk dalam rekayasa penghalalan riba dan masuk dalam kaedah yang disampaikan para Ulama: “Semua hutang yang menghasilkan keuntungan manfaat maka ia adalah riba”.

2). Apabila tambahan tersebut adanya setelah pembayaran dan tidak disyaratkan sebelumnya. Ini diperbolehkan dengan dasar hadits Abu Rafi Radhiyallahu anhu yang berbunyi:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اسْتَسْلَفَ مِنْ رَجُلٍ بَكْرًا فَقَدِمَتْ عَلَيْهِ إِبِلٌ مِنْ إِبِلِ الصَّدَقَةِ فَأَمَرَ أَبَا رَافِعٍ أَنْ يَقْضِىَ الرَّجُلَ بَكْرَهُ فَرَجَعَ إِلَيْهِ أَبُو رَافِعٍ فَقَالَ لَمْ أَجِدْ فِيهَا إِلاَّ خِيَارًا رَبَاعِيًا. فَقَالَ « أَعْطِهِ إِيَّاهُ إِنَّ خِيَارَ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً ».

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminjam dari seorang seekor onta yang masih muda. Kemudian ada satu ekor onta sedekah yang dibawa kepada beliau. Beliau lalu memerintahkan Abu Rafi’ untuk membayar kepada orang tersebut pinjaman satu ekor onta muda. Abu Rafi’ pulang kepada beliau dan berkata: “Aku tidak mendapatkan kecuali onta yang masuk umur ketujuh”. Lalu beliau menjawab: “Berikanlah itu kepadanya! Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang paling baik dalam membayar hutangnya”. (HR Muslim)

Berdasarkan hal tersebut diatas, maka ketika anda meminjamkan motor, kemudian anda mensyaratkan agar ia menolong anda untuk membeli suatu barang, maka itu riba yang diharamkan, hal tersebut akan berbeda apabila ketika anda meminjamkan motor, kemudian orang tersebut dengahn suka rela menawarkan kepada anda untuk membantu anda melakukan pembelian suatu barang, maka hal tersebut boleh dan bukan termasuk riba

Sama juga dengan pertanyaan anda yang kedua, apabila orang yang berhutang kepada anda memberikan sesuatu dengan suka rela dengan tanpa anda memintanya, maka in syaa Allah itu boleh dan tidak termasuk riba

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamju 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA