Suami Kurang Menjaga Batasan Dalam Bergaul Dengan Lawan Jenis

Lain-lain, 31 Desember 2020

Pertanyaan:

Bismillah 

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.  Semoga ustad dan seluruh team selalu berada dalam lindungan Allah. Ustad, sy sdh menikah selama 14 thn. Suami bekerja di salah satu instansi pemerintah. Di kntr dia dikenal sbg org baik bahkan digelari ustad dan sering mengisi khutbah di mesjid. Hanya saja yg sy khawatirkan, suami kurang menjaga pergaulannya dengan teman wanita dikantornya sedangkan dia paham batasan2nya. Sy sering mendapati bila tugas keluar kota banyak foto2nya dengan teman wanitanya disimpan di hpnya. Hal ini membuat sy sedih, marah dan kecewa. Sy sdh mencoba membicarakan hal tsb tp blm ada perubhan. Mohon masukannya ustad, bagaimana baiknya sy bersikap. Selama ini sy tetap menjalankan kewajiban sy sbg istri tp rasa cinta pada suami berkurang krn jangankan menjaga km anak dan istrinya dr api neraka, dirinya sendiri malah bermudah2 dalam dosa. Tolong nasehat ustad bagaimana baiknya saya bersikap. Jazakumullahu khairan 



-- Umi Fawwaz (Mdn)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullah wabarakatuhu.

Usia pernikahan Anda sudah cukup untuk mengenal karakter satu dengan yang lain. Tapi perlu difahami bahwa perjalana pernikahan itu sepanjang hidup. Tentu ada jalan naik dan turunnya serta jalan lurus dan berkeloknya. Disinilah diperlukan seni dan kecakapan menjalaninya. Perilaku suami Anda yang  tidak menjaga pergaulan dengan lawan jenis ketika di kantor atau ketika melakukan perjalanan keluar kota yang dibuktikan dengan adanya foto-foto yang disimpan di HPnya, diperlukan sikap yang tepat dari Anda agar tidak semakin memburuk situasinya..

Jika perilaku itu adalah perilaku baru, bukan perilaku lamanya, maka harus dilakukan adalah koreksi dan evaluasi terhadap kehidupan berkeluarga Anda  selama ini . Apakah ada kebiasaan yang berubah dari Anda atau suami Anda dari sebelumnya? coba amati dan perhatikan. Jika ada yang berubah maka segera dicari sebabnya dan solusinya. Karena suatu perilaku baru itu tidak timbul begitu saja, tapi merupakan akibat dari perilaku yang lainnya. Suatu contoh, jika seorang istri tidak menyesuaikan penampilannya dengan penampilan dan pergaulan wanita di luar sana yang lebih menarik, dan dia tidak mengupdate pengetahuannya,bisa jadi itu menjadi pemicu suami yang sedang turun imannya untuk mencari variasi pergaulan yang lebih menarik hatinya. Contoh lain, bila suami berubah sikap dan perhatiannya kepada istrinya,maka itu bisa menjadi penyebab sang istri menurunkan ketertarikannya kepada suaminya. Intinya yang harus difahami bahwa suatu perilaku dan sikap itu terjadi karena ada penyebab yang memicunya. Maka kenalilah penyebabnya, maka Anda akan mudah mencari solusinya.

Jika perilaku suka dekat dengan lawan jenis itu merupakan perilaku lamanya sejak dulu, maka yang harus dilakukan adalah menyadarkan akan kesalahan perilakunya. Hal itu diperlukan karena tidak semua orang yang memiliki pengetahuan tentang sesuatu otomatis perilakunya sesuai dengan pengetahuannya. Maka disinilah pentingnya nasehat karea nasehat adalah inti dari agama. Rasulullah bersabda:

عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِي رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam umumnya.” (HR. Muslim)

Sebaik baik nasehat adalah yang tidak  merendahkan harga diri orang yang bersalah. Untuk kasus suami Anda,Anda bisa mengingatkan dengan nada bertanya,tidak dengan mendebat atau menggurui. Misal Anda bisa bertanya: “mas, apa yang bisa dilakukan orang tua agar anaknya terjaga dari perbuatan buruk yang menyeretnya ke neraka Allah ya? Mas siapa sih yang disebut mahram? bagaimaana batas pergaulan dengan mereka ya? Dan lain-lain. Pertanyaan-pertanyaan itu akan mengingatkan ilmu yang telah dikuasainya dan akan menyadarkan tanggung jawabnya.

Bisa juga nasehat dimintakan dari orang lain yang lebih alim dari dirinya atau dari orang yang lebih dipercaya. Karena seorang suami atau laki-laki pada umumnya egonya sangat tinggi sehingga ketika dinasehati oleh istrinya kecenderungannya menolak.

Hal lain yang perlu Anda lakukan adalah meningkatkan rasa cinta kepadanya dan bersabar menghadapinya, meskipun dia telah membuat Anda kecewa. Jika Anda semakin jauh dan tidak respek serta perhatian sama dia, justru itu yang akan menjadi pemicu untuk terus kebablasan dalam pergaulan yang kurang baik, dan bisa jadi dia lebih tertarik dan lebih cinta kepada wanita lain. Suami Anda perlu ditolong dan diselamatkan dari perbuatan yang tidak baik. kalau tidak ada yang mau menolongnya maka bisa jadi dia benar-benar tenggelam dan hanyut dan keburukan, naudzu billah mindzalik.

Terakhir bagian penting yang tidak boleh ditinggalkan adalah berdoa. Allahlah pemilik hati, Dia yang meneguhkan hati hambaNya yang Dia kehendaki dan Dia sesatkan siapa yang Dia kehendaki. Semoga dengan doa yang Anda selalu panjatkan maka Allah akan mengubah perilakunya. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc