Status Pernikahan Siri Setelah Menandatangani Surat Perjanjian Cerai

Pernikahan & Keluarga, 4 Januari 2021

Pertanyaan:

Assalamualaikum, saya perempuan usia 27 tahun. Sudah 3 tahun saya menjalani status sebagai istri sirih dari seorang laki-laki beristri dan beranak 3.

pernikahan kami di ketahui seluruh keluarga ketiga belah pihak. Tapi biarpun mereka tau dan membiarkan kami menikah istri pertama kerap kali marah dan cemburu dengan saya. Padahal saya sudah berusaha untuk berlaku baik dan pantas demi menjaga perasaan dia dan anak-anaknya. Pada dasarnya beliau tidak ikhlas dan tidak bisa menerima kehadiran saya.

dan karna suami saya berkomitment tidak akan meninggalkan keluarga pertamanya setiap dia terhimpit dengan situasi bersama istri pertamanya saya selalu dijadikan sasaran dan dia selalu minta udahan setiap kali dia lelah dan menyerah dalam berpoligami.

Dan akhirnya ada satu ketika sayapun sudah gak kuat karna berkali-kali di talak dgn suami saya. Saya ajukan dia untuk menulis surat peryataan di atas materai bahwa kita memang benar berpisah.

Awalnya dia ragu namun akhirnya dia ttd juga. Meskipun hanya kita berdua yang menyaksikan perceraianya, tp Saya mengabari istri pertamanya agar kalo nanti dia masih kelayapan diluar itu sdh bukan dgn saya lagi.

namun setelah kejadian itu menurut pengakuan suami, dia menyesal dan terbawa emosi aja bilang begitu, dan dia tdk sungguh-sungguh. Dan dia tdk bisa kehilangan saya.

setiap harinya mengemis dan meminta saya untuk kembali sm dia.

Tp karna saya merasa tidak sanggup lagi menjadi istri sirih dan diperlakukan tdk adil saya menolak.

namun suami saya terus berusaha mengambil hati saya dan berjanji akan berlaku adil dengan memberikan apa yg saya mau selama ini. Seperti kesetaraan antar para istri (karna selama ini jatah saya selalu dikurangi ; nafkah, jumlah bermalam dgn alasan yg disana punya anak sedangkan saya tdk) dan melegalkan status pernikahan kami.

tapi istri pertama yg mengetahui itu menolak memberi izin, dan tidak bisa menerima suaminya kembali lg sm saya. dan saat ini suami saya sedang berusaha untuk mendapatkan restu lagi dari dia. Karna saya bilang saya tdk mau menerima dia kembali jika istrinya tdk ikhlas. Selain karna nantinya malah jadi dosa, rumah tangga saya dan merekapun tdk akandamai karna selalu terjadi kecemburuan dan perselisihan.

Jujur saya tidak mau berharap banyak, jika saya harus mundur tanpa mendapatkan apapun saya sdh ikhlas.

tapi saya penasaran, dan Pertanyaan saya, status saya dgn suami apakah sudah bercerai atau belum ? Dan jika memang nanti istrinya merestui kita harus ijab kabul lagi atau hanya mendaftarkan pernikahannya saja ?



-- Beby (Banjarmasin)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Para Ulama telah sepakat bahwa tidak dibutuhkan saksi saat menjatuhkan talak. Karena itu, jika seorang suami menjatuhkan talak pada istrinya meskipun tidak ada orang lain sebagai saksinya, maka talaknya dihukumi sah dan mereka berdua dihukumi telah bercerai.

Sayid Sabiq dalam kitabnya Fiqhus Sunnah mengatakan, sebagaimana pendapat kebanyakan ulama, bahwa talak jatuh saat suami mengucapkannya meski tanpa ada saksi. Tidak ada keharusan ada saksi saat suami menjatuhkan talak pada istrinya. Karena talak merupakan hak khusus bagi suami sehingga tidak butuh orang lain sabagai saksi saat mengucapklannya.

ﺫﻫﺐ ﺟﻤﻬﻮﺭ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻠﻒﻭﺍﻟﺨﻠﻒ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﻄﻼﻕ ﻳﻘﻊ ﺑﺪﻭﻥ ﺇﺷﻬﺎﺩ، ﻻﻥ ﺍﻟﻄﻼﻕﻣﻦ ﺣﻘﻮﻕ ﺍﻟﺮﺟﻞ ، ﻭﻻ ﻳﺤﺘﺎﺝ ﺇﻟﻰ ﺑﻴﻨﺔ ﻛﻲ ﻳﺒﺎﺷﺮﺣﻘﻪ، ﻭﻟﻢ ﻳﺮﺩ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭﻻﻋﻦﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ، ﻣﺎ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﻣﺸﺮﻭﻋﻴﺔ ﺍﻻﺷﻬﺎﺩ

“Kebanyakan ulama salaf maupun khalaf  berpendapat bahwa talak jatuh meski tanpa saksi. Hal ini karena talak merupakan hak khusus bagi suami sehingga tidak butuh saksi saat melakukannya. Selain itu, tidak ada nash dari Nabi Saw. maupun sahabatnya tentang syariat mempersaksikan talak.”

Berdasarkan penjelasan tersebut diatas, kalau suami anda memang sudah mentalak anda berkali kali (paling tiga kali), maka mestinya kalian sudah tidak lagi bersatatus sebagai suami istri dan sudah tidak boleh untuk ruju' kembali, karena sudah pernah jatuh tolak 3 (bain besar), kecuali anda menikah lagi dengan laki-laki lain dan berhubungan suamki istri, dan kemudian terjadi perceraian dengan tanpa adanya reka yasa

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA