Meminta Cerai Pada Suami

Pernikahan & Keluarga, 5 Januari 2021

Pertanyaan:

Saya berumah tangga dengan suami baru menginjak 3 tahun. Tapi masalah yang datang itu sebenarnya sepele tapi menjadi pelik karna sifat suami dan saya yang tidak menerima. Setiap ribut saya selalu mint cerai karna benar-benar tidak  tahan. Suami pernah KDRT ketika saya hamil anak ketiga, tp saya maafkan. Saya  kasih kesempatan. Tetapi setelah kejadian itu suami juga tidak ada perubahan. Suami juga tidak memberikan hak kepada istri, seperti istri meminta di imami sholat, sering menolak sampai istri tidak berani lg meminta diimami sholat. Istri ditempatkan dirumah mertua (ortu suami) menjadikan suami kurang tanggung jawab dalam hal menafkahi (makan, nafkah pribadi barang istri) . Pertanyaannya, apakah dengan hal2 demikian, apakah istri salah dan dosa meminta cerai? Karna setiap ribut tidak ada solusi yg baik dan selalu diselesaikan dengan berhubungan intim saja tanpa adanya komunikasi lebih mendalam agar tidak meributkan masalah yg ini2 saja. Suami juga tidak pernah terbuka soal keuangan. P

 



-- Safiera Apriliya (Bogor)

Jawaban:

Assalaamu 'alaikum wrwb.

Siapapun dari kita yang berkeluarga, tentu menghendaki kedamaian dalam kehidupan rumahtangganya, karena hanya dengan suasana damai sajalah, suami istri akan bisa membangun dan mengatur rumah tangganya dengan baik

Namun yang namanya problem dan masalah keluarga itu memang bisa terjadi dalam rumah tangga siapa saja, termasuk di keluarga anda tentunya, sebagaimana anda telah ceritakan, tetapi yakinlah bahwa anda tidak sendirian

Dan ketika terjadi masalah dalam keluarga yang bisa menyebabkan hilangnya suasana damai, mestinya harus segera diupayakan untuk diurai dengan berbagai cara, agar suasana damai bisa kembali bisa dirasakan bersama.

Upaya untuk mengurai masalah tersebut bisa dimulai dan in syaa Allah akan efektif, kalau ada kesiapan suami istri untuk membangun komunikasi yang baik, dengan masing2 menyampaikan masalah yang dirasakan, dilanjutkan dengan  saling memberikan masukan, memusyawarahkan masalah yang ada, dan bila diperlukan bisa dengan menghadirkan fihak ketiga yang mempunyai kompetensi untuk menjadi penengah

Dan karena itu, seyogyanya anda tidak membiarkan masalah anda dengan suami tersebut berlarut larut tidak ada ujungnya, Untuk itu segeralah komunikasikan hal tersebut dengan suami anda, ajaklah duduk bersama dengan cara yang baik dan dengan bahasa yang lembah lembut, pilihlah waktu yang kondusif, sehingga suasana komunikasi bisa berjalan dengan baik, cair dan bahkan santai, Kemudian komunikasikan masalah anda kepada suami, dan saya melihat sepertinya sangat diperlukan hadirnya fihak ketiga yang kalian berdua yakini mempunyai kompetensi dalam hukum pernikahan dan kalian yakini mampu untuk menjadi penengah dalam mengurai problem yang sedang anda hadapi, sekaligus memberikan nasihat kepada suami anda secara khusus perihal konskwensi dari sebuah pernikahan, hal tersebut perlu segera anda lakukan dalam upaya bersama mencari solusi terbaik

Dan apabila suami benar-benar menyesali atas kesalahan-kesalahanya dan bertaubat kepada Allah, maka sudah semestinya anda memaafkannya. Disamping upaya tersebut, ada hal mesti anda lakukan yaitu mendekat kepada Allah dengan optimal, memohon agar Allah berkenan membuka hati suami anda dan berkenan untuk memberikan yang terbaik untuk keluarga anda

Tetapi kalau upaya optimal sudah anda lakukan, tetapi suami tetap dengan sikapnya semula sebagai anda ceritakan, maka barangkali cerai bisa menjadi solusi terakhir yang bisa anda tempuh, dan ketika suami anda tidak mau menceraikan anda, maka anda bisa mengajukan gugat cerai ke Pengadilan Agama, dan insya Allah akan diproses, bahkan ketika suami anda tidak mau hadir ke Pengadilan

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA