Luntur Cinta Pada Suami

Lain-lain, 11 Februari 2021

Pertanyaan:

Assalaamu'alaykum...

Ustadz, izinkan sy bertanya perihal rumah tangga saya...

Sy ibu rumah tangga sekaligus berdagang...suami jg berdagang..dalam berdagang sy lebih di depan dari pada suami, baik dalam tenaga maupun pikiran...suami sy menganggap sy "ngoyo"..sedangkan sy berpikir itu kerja keras...jadi dalam berdagang omset sy jauh lebih besar...sy sebenarnya tidak masalah dengan itu, tp suami sy sering mengeluh capek, karena membantu saya...sehingga sering menimbulkan keributan...jika sy berhenti berdagang, suami juga tidak mengizinkan karena kebutuhan rumah tangga tidak terpenuhi...

Suami sya menganggap sy sombong karena hal itu...sy sering marah karena sya lebih cape...suami saya sering tidur siang tp menganggap tidak pernah istirahat..karena sore harus membantu sya kepasar...

Hal itu sering menimbulkan keributan..selain itu suami yang dulu bisa sy anggap tempat untuk menggantungkan diri tidak terwujud..dalam hal nafkah maupun agama...suami sy sudah tidak pernah sholat di masjid dan tidak pernah mengajak sy ta'lim...

Yang ingin sy tanyakan, apakah hal ini kebencian terhadap suami  yang bersumber dr syaithan...sy sering berpikir ingin bercerai...nasehati sy ya ustadz...sy harus bagaimana karena sy sudah malas berbicara dengan suami, dan suami sy juga tidak pernah mengajak sy berbicara...



-- Siti (Kebumen)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Salah satu risiko yang harus dihadapi pasangan yang sama-sama bekerja, apalagi perkerjaannya sama, adalah terjadi persaingan dan jika suami kalah maka suami merasa rendah diri, dan merasa tidak bisa menjadi kepala keluarga. Meskipun persaingan itu tidak terucap dan tidak tampak. Dampaknya adalah suami justru kurang bergairah dalam bekerja dan tidak tangguh menghadapi tantangan. Lebih berbahaya lagi jika dia kemudian menyerah dan berpangku tangan dan hilang gairah hidupnya. Dia akan merasa malu dihadapan orang lain karena dia tidak lebih berhasil dari istrinya.

Sebagai kompensasinya dia mudah marah,mudah tersinggung, mudah capek karena tidak bergairah bekerja, ketika dia membatu istrinya dia merasa menjadi “pembantu” bagi usaha istrinya, sehingga cenderung dia ogah membantu.

Mungkin bagi Anda sebagai istri tidak mengganggap itu sebagai masalah, tapi otak bawah sadar laki-laki itu masalah. Maka nasehat yang bisa kami sarankan adalah:

  1. Jadikan usaha Anda dan suami sebagai satu usaha bersama, dimerger menjadi satu usaha bersama, sehingga tidak ada lagi istilah ini usaha suami dan ini usaha istri, tapi ini usaha keluarga. Jadikan suami Anda sebagai pimpinan usaha baru ini,meskiun nantinya bisa jadi peran Anda masih besar di usaha bersama itu.
  2. Jadikan dia benar-benar imam dalam keluarga dengan menjadikannya tempat berlindung dan bertanya dalam urusan agama, bisa jadi Anda sudah tahu, tapi jangan terlalu sering-sering bertanya kepadanya, dia akan tertekan. Dengan begitu dia akan merasa menjadi pembimbing kelauarga dan penjaga keluarga dari sengatan api neraka. Harapannya kemudian dia menyadari untuk kembali mengajak Anda taklim dan kembali shalat berjamaah di masjid.
  3. Berdoalah kepada Allah memohoon kepadanya keutuhan keluarga dan keharmonisan rumah tangga dan keberkahan usaha. Allah yang maha kuasa untuk mengubah situasi ini menjadi lebih baik.
  4. Berbicaralah kepada suami, jangan malas Berbicara adalah cara untuk mengungkapakan pikiran dan perasaan. Jika tidak disampaikan dengan cara saling berbicara dan berdialog maka yang muncul adalah praduga dan suudzan. Karena orang akan menyangka dari apa yang dilihat dan diakukan orang lain. Dan praduga membuka pintu lebar buat setan membisikkan pikiran buruk kepada orang lain.
  5. Berlindunglah dari godaan setan dengan membaca dzikir di waktu pagi maupun petang agar keluarga yang sudah dibina dengan baik ini tetap langgeng sampai akhir hayat. Setan akan terus berusaha mencari celah untuk memisahkan pasangan suami istri, dan itu merupakan prestasi yang tinggi bagi setan. Rasulullah bersabda:

إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat (setan) seperti engkau” (HR Muslim )

Wallahu a’lam bi shhowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc