Was Was Talak Kinayah

Lain-lain, 14 Februari 2021

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustad,

Semoga ustad selalu dulindungi dan dirahmati Allah.

Ustad, sy dulu pernah meminta cerai kepada suami saya karena suami saya ketahuan selingkuh dan pergi dari rumah selama 5 bulan. Waktu itu saya bilang minta diceraikan, dan suami cuma menjawab "TERSERAH" kemudian waktu saya minta dia mengatakan, "sy ceraikan kamu," suami cuma menjawab "terserah, itu sama saja"

Nah setelah 5 bulan, suami saya kembali pulang, dan mengakui kesalahannya, berniat bertobat dan memperbaiki diri. waktu suami saya kembali, yang pertama kali saya tanyakan pada suami adalah, apakah maksud kata-katanya "TERSERAH" waktu itu berarti suami benar2 berniat menceraikan saya, tapi suami saya menjawab TIDAK ADA NIAT SAMA SEKALI UNTUK MENCERAIKAN SAYA. 

Saya menanyakan hal ini sampai 2 kali, tapi suami saya ngotot jika saat itu hanya marah dan tidak berniat sama sekali menceraikan saya.

Tapi saya waswas ustad, saya khawatir jika perktaan suami saya masuk dalam  talak kinayah.

Mohon bantuan penjelasannya ustad, apakah perkataan suami saya tersebut sudah masuk jatuh talak? 

Apa yang harus saya lakukan ustad.

Jazakallahu khayr



-- Vitalia (Jakarta)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Rasulullah saw bersabda :

عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ الحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ سِبْطِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَيْحَانَتِهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ.

رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ، وَقاَلَ التِّرْمِذِيُّ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ.

Dari Abu Muhammad Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kesayangannya radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku hafal (sebuah hadits) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Tinggalkanlah yang meragukanmu lalu ambillah yang tidak meragukanmu.’” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) [HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i]

Hadits diatas menyuruh kita agar supaya meninggalkan yang meragukan dan lebih memilih yang meyakinkan. Dalam masalah yang Anda tanyakan ada hal meragukan yaitu apakah sudah jatuh talak atau belum jatuh talak. Antara perkataan dia “terserah, itu sama saja” dan pernyataan dia setelah dia kembali ke rumahnya,bahwa dia tidak berniat untuk bercerai.

Perkataan suami Anda  "terserah, itu sama saja" ketika dia diminta untuk menegaskan kalimat cerai “ saya cerai kamu”. Menunjukkan bahwa kalimat “ terserah” sama dengan “ saya cerai kamu” dengan demikian kata “ terserah “ yang asalnya kata kinayah menjadi jelas maksudnya  dan menjad sharih ketika telah mendapatkan klarifikasi bahwa itu adalah kalimat cerai yang sharih. Maka dengan demikian telah jatuh talak satu.

Dan pernyataan suami anda bahwa dia ucapkan itu dalam keadaan marah, tidak membatalkan kalimat talaknya, karena marahnya masih dalam kendali diri, terbukti ketika dimintai klarifikasi dia masih bisa menjelaskannya. Kalimat cerai diucapkan serius maupun bercanda hukumnya sama. Rasulullah bersabda:

ثَلاَثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلاَقُ وَالرَّجْعَةُ

Tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama dianggap serius: (1) nikah, (2) talak, dan (3) rujuk”. (HRTirmidzi,abu Dawud dan ibnu Majah)

Kapan kalimat talak itu diucapkan ? pertanyaan ini penting untuk dijawab untuk memastikan awal masa iddah, sehingga bisa diketahui apakah Anda sekarang ini masih dalam masa iddah atau telah keluar dari masa iddah.

Masa iddah karena talak adalah tiga quru’: tiga kali bersih atau tiga kali haid. silahkan dipilih. Allah berfirman:

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ

Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’ (al-Baqarah:228)

jika kalimat itu diucapkan lima bulan lalu maka Anda telah keluar dari masa iddah. Jika Anda dan suami ingin rujuk maka harus memulai proses baru untuk rujuk, seperti proses pernikahan awal. Tapi jika kalimat itu diucapkan sekitar sebulan lalu, maka Anda masih dalam masa iddah, dan untuk rujuk, suami Anda cukup menyatakan keinginannya untuk rujuk tanpa melakukan proses seperti nikah awal.

Wallahu a’lam bishowab.(as)



-- Amin Syukroni, Lc