Tinggal Bersama Dengan Mertua

Lain-lain, 15 Februari 2021

Pertanyaan:

Assalamualaikum Pak Ustad. 

Saya mau bertanya mengenai hukum tinggal bersama mertua. Begini Pak Ustad, saya dan calon suami saya mempunyai niat baik untuk melangkah kejenjang lebih serius, dalam prosesnya saya dan calon saya tersebut menyamakan visi dan misi kami, selain daripada mengungkap keinginan satu sama lain. Calon suami saya meminta kepada saya untuk mengizinkan dia membawa orangtunya (ibunya) tinggal bersama dengan kami kelak, alhamdulillah calon suami saya sudah mempunyai tempat tinggal sendiri dan dia meminta hal tsb kepada saya. Saya pribadi memang ingin tinggal sendiri tanpa dengan mertua/orangtua dengan alasan saya belum siap jika menghadapi masalah2 yg ada jika tinggal bersama mertua. Namun calon suami saya bersikeras untuk tetap dengan pilihannya sbg bentuk tanggung jawabnya kepada orangtua, saya sangat bingunh karena saya sendiri sebenarnya tidak apa2, namun belum memantapkan diri dan percaya diri untuk mengatakan bahwa saya sanggup. Menurut pak ustad, jalan apa yg harus saya ambil dan bagaimana hukum tinggal dengan mertua? Apakah tinggal dengan mertua bisa menimbulkan banyak perkara seperti pengalaman orang2 yang sudah?



-- Nadya (Bogor)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Alhamdulillah Allah memudahkan jodoh Anda ,semoga Anda bisa segera melaksanakan akad nikah dan semoga keluarga yang akan Anda bangun nanti menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Allahumma aamin .

Permintaan calon suami Anda,agar ibunya hidup serumah dengan dirinya adalah wajar, apalagi jika ibunya seorang diri. Tentu sebagai anak laki-laki memiliki kewajiban untuk merawat ibunya meskipun dia telah menikah, hal ini sedikit berbeda dengan kewajiban anak perempuan setelah dia menikah,suaminyalah yang menjadi priorotas melebihi orang tuanya. Perempuan  menjadi hak penuh  suaminya.

Rasulullah Saw ditanya Aisyah., “Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita? Rasulullah menjawab: “Suaminya” (apabila sudah menikah). Kemudian Aisyah Radhiyallahu ‘anha bertanya lagi: “Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki? Rasulullah menjawab: “Ibunya,” (HR. Muslim).

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dia berkata; “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “kemudian siapa lagi?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” dia menjawab: “Kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka dengan demikian jangan jadikan keinginan calon suami Anda untuk mengajak serta ibunya tinggal bersama dia dan Anda menjadi penghalang untuk segera pernikahan. Adapaun kekhawatiran Anda, karena Anda pernah mendengar cerita yang tidak baik ketika ada mertua dan menantu serumah, maka yang harus Anda sadari bahwa pengalaman orang dan nasib orang itu berbeda-beda.

Banyak menantu atau anak terbantu dengan adanya orang tua bersama mereka. Pengalaman orang tua sangat dibutuhkan, tenaga orang tua sedikti banyak juga membantu pekerjaan rumah meskipun mereka tidak diminta, biasanya mereka akan membantu dengan sukarela. Bukankah sekarang justru banyak pasangan baru yang sibuk banyak menitipkan anak kepada orang tuanya? Itu artinya bahwa keberadaan orang tua tidak selamanya buruk.

Yang perlu Anda siapkan adalah bagaimana Anda mengenal karakter ibu mertua Anda, dengan mengenal beliau maka akan mudah beradaptasi dan saling memahami. Proses saling mengenal dan memahami mutlak diperlukan oleh mereka yang baru kenal dan bertemua serta tinggal satu rumah. Hal ini dibutuhkan bukan hanya kepada ibu mertua Anda, bahkan juga kepada suami Anda. Rumusnya adalah hendaklah kalian saling mengenal agar kalian saling memahami,jika kalian saling memahami maka kalian saling akan saling membantu.

Jika Anda ragu dan belum mantap hidup bersama dengan mertua, hal itu wajar karena belum menjalaninya. Jika Anda telah menjalaniya maka Anda tahu menempatkan diri. Terjadinya kesalah pahaman itu niscaya terjadi, memang untuk saling memahami harus didahului kesalah pahaman. Itu proses yang harus dilalui agar bisa saling memahami.

Bertawakallah kepada Allah maka Allah akan memudahkan segalanya insya Allah. Azam dan tekad menikah sudah ditetapkan,selanjutnya saatnya bertawakal kepada Allah. Allah berfirman:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.(QS.3:159)

Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc