Suami Ku Tidak Suka Perempuan

Pernikahan & Keluarga, 15 Februari 2021

Pertanyaan:

Assalamualaikum pak Ustad. Sy telah menikah selama 12 tahun. Dikaruniai 2 orang anak putra putri. Sy merasa ada yg aneh dengan suami saya. Setelah menikah saya merasa suami saya tidak menginginkan saya sepenuhnya. Trauma pada malam pertama inilah yang membuat saya sampai saat ini merasa tidak diinginkan oleh suami saya. Kami beberapa kali berdebat soal kebutuhan biologis saya yg tdk tercukupi. Saya bertanya adakah masalah pada dirinya. Dijawabnya tidak ada. Kami berhubungan paling banyak hanya 4x dalam setahun selama 12 tahun menikah. Dan dia bahkan tidak pernah mencoba menyentuh saya terlebih dahulu. Sy merasa disini ada yg aneh. Bukankah laki laki normal tertarik dengan maaf payudara wanita. Sy sungguh tdk mengerti.  Saya mencoba mensyukuri semua kebaikannya tp yg sy lihat justru semakin banyak keburukannya. Dia sangat mudah sekali meninggalkan sholat.  Hobi memandangi hp. Tdk tergerak hatinya meski sy nasihati tuk menjaga sholat. Bagaimana ya ustad. Sy jd sulit menjadi ibu yg baik karena ketidakbahagiaan ini. Sy gampang marah sama anak2. Sy memjadi tidaksabaran. Sungguh emosi negatif yg ada didiri saya. Dia pun sulit diajak bicara.  Tdk peka dan selalu menghindar. Sy sering berdo tp sepertinya harus diimbangi dengam usaha dari diro saya. Oleh karena itu sy mencoba berkonsultasi disini dalam upaya mencari solusi dalam masalah pernikahan saya. Apakah keputusan yng terbaik untuk saya adalah meninggalkannya demi jiwa saya dan agama saya.

 



-- Vita (Jakarta)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Siapapun dari kita yang berkeluarga, tentu menghendaki kedamaian dalam kehidupan rumahtangganya, karena hanya dengan suasana damai sajalah, suami istri akan bisa membangun dan mengatur rumah tangganya dengan baik

Namun yang namanya problem dan masalah keluarga itu memang bisa terjadi dalam rumah tangga siapa saja, termasuk di keluarga anda tentunya, sebagaimana anda telah ceritakan, tetapi yakinlah bahwa anda tidak sendirian

Dan ketika terjadi masalah dalam keluarga yang bisa menyebabkan hilangnya suasana damai, mestinya harus segera diupayakan untuk diurai dengan berbagai cara, agar suasana damai bisa kembali bisa dirasakan bersama.

Upaya untuk mengurai masalah tersebut bisa dimulai dan in syaa Allah akan efektif, kalau ada kesiapan suami istri untuk membangun komunikasi yang baik, dengan masing2 menyampaikan masalah yang dirasakan, dilanjutkan dengan  saling memberikan masukan, memusyawarahkan masalah yang ada, dan bila diperlukan bisa dengan menghadirkan fihak ketiga yang mempunyai kompetensi untuk menjadi penengah

Tetapi masalah rumah tangga anda sebagaimana yang anda ceritakan diatas memang luar bisa dan tentu tidak mudah untuk di-urai

Dan karena itu, seyogyanya anda tidak membiarkan masalah anda dengan suami tersebut berlarut larut tidak ada ujungnya, Untuk itu segeralah komunikasikan hal tersebut dengan suami anda, ajaklah duduk bersama dengan cara yang baik dan dengan bahasa yang lembah lembut, pilihlah waktu yang kondusif, sehingga suasana komunikasi bisa berjalan dengan baik, cair dan bahkan santai, Kemudian komunikasikan masalah anda kepada suami, dan saya melihat sepertinya sangat diperlukan hadirnya fihak ketiga yang kalian berdua yakini mempunyai kompetensi dalam hukum pernikahan dan kalian yakini mampu untuk menjadi penengah dalam mengurai problem yang sedang anda hadapi, hal tersebut perlu segera anda lakukan dalam upaya bersama mencari solusi terbaik

Disamping upaya tersebut, ada hal mesti anda lakukan yaitu mendekat kepada Allah dengan optimal, memohon agar Allah berkenan membuka hati suami anda secara khusus untuk memberikan yang terbaik untuk keluarga anda

Ketika upaya optimal sudah anda lakukan, tetapi suami tetap dengan sikapnya dan anda sebagai istri sudah tidak lagi bisa bersabar dengan sikap-sikap suami anda, maka barangkali cerai bisa menjadil pilihan anda terakhir kali setelah segala upaya sudah tidak lagi ada harapan bisa mendatangkan solusi.

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb



-- Agung Cahyadi, MA