Waswas Talak

Lain-lain, 16 Februari 2021

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustad, 

Saya yang bertanya tentang was was talak kinayah beberapa hari lali dan sudah ustadz jawab. Jazalallahu khair wa barakallahu fiik atas jawabannya. 

Ustadz yg jadi masalah, suami saya tetap tidak mengakui jika dulu pernah menceraikan saya. Apalagi dulu, bbrp hari setelah sy minta cerai melalui telpon dan suami mengatakan "terserah", suami seringkali mengatakan tidak akan pernah menceraikan saya. Dan itu yang menjadi patokan suami jika kami belum bercerai.

Saya juga menanyakan hal ini secara langsung ketika suami pertama kali kembali pulang, dan jawabannya tetap tidak pernah menceraikan saya.

Saya sudah pernah mengajak suami untuk menikah ulang, tapi suami tidak bersedia, karena suami yakin tidak jatuh talak atas kata-katanya waktu itu.

Apa yanh harus sy lakukan ustad? 

Mohon solusinya. 

Jazakallahu khair. Wassalamualaikum

 



-- Vita (Jakarta)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Kami coba salin kembali pertanyaan Anda yang lalu

“Ustad, sy dulu pernah meminta cerai kepada suami saya karena suami saya ketahuan selingkuh dan pergi dari rumah selama 5 bulan. Waktu itu saya bilang minta diceraikan, dan suami cuma menjawab "TERSERAH" kemudian waktu saya minta dia mengatakan, "sy ceraikan kamu," suami cuma menjawab "terserah, itu sama saja"”

Yang  kami garis bawahi adalah “ terserah, itu sama saja” . bukankah pernyataan itu jika dilengkapi akan berbunyi “ terserah, itu sama saja”. “terserah” itu ya sama dengan ucapan “saya cerai kamu”.

Itu yang mendasari kami mengatakan kalimat kinayah “terserah” menjadi sharih karena setelah mendapatkan klarifikasi bahwa terserah sama saja dengan “saya cerai kamu”.

Hal lain yang menyebabkan kami berkesimpulan jatuhnya talak meskipun diucapkan saat marah adalah karena kami memahami dari pernyataan Anda yang menceritakan bagaimana proses kalimat itu terucap, adalah bahwa suami Anda mengucapkan dalam keadaan marah yang masih terkendali dan dalam kesadaran diri. Sehingga talaknya orang yang marah seperti itu sah.

Tetap jika suami Anda mengucapkan tanpa disadari karena emosinya yang menutupi akal sehatnya, maka kata-katanya tidak teranggap ada, karena diucapkan secara tidak sadar dan tanpa kendali dirinya. Rasulullah bersabda:

 ﻻَ ﻃَﻼَﻕَ ﻭَﻻَ ﻋِﺘَﺎﻕَ ﻓِﻲْ ﺇِﻏْﻼَﻕٍ

Tidak ada Talak dan membebaskan budak dalam keadaan (hati/akal) tertutup” (HR Abu Dawud).

Yang menjadi pertanyaan adalah: bagaimana kondisi suami Anda saat mengucapkan kata-kata “terserah, itu sama saja”. Apakah dalam kondisni marah yang terkedali atau marah yang tidak terkendali ? Anda dan suami yang yang bisa menjawabnya.

Jika antara keyakinan Anda dan suami Anda berbeda, silahkan Anda berdua berkonsultasi secara langsung ke KUA atau ke tokoh agama yang Anda yakini bisa memahami masalah anda, sehingga Anda dan suami Anda bisa saling menceritakan dan mendiskusikan nya secara terbuka dan bertatap muka, harapannya hilang syubhat atau ketidak jelasan status pernikahan Anda.

Jika orang terjebak pada syubhat, maka hendaknya dia menjauhi syubhat dan meninggalkanya, hal itu lebih aman dan lebih menenangkan. Rasulullah bersabda:

إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ كَالرَّاعِى يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ

Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada pengembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim )

Maka jika Anda menikah ulang kembali itu lebih menenangkan dibandingkan tidak menikah ulang. Jika ternyata telah terjadi talak maka pernikahan baru Anda memperbaharui status pernikahan Anda, jika tidak terjadi talak maka tidak mengapa.

Tinggalkan yang meragukan dan ambil sikap yang meyakinkan. Rasulullah bersabda:

عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ الحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ سِبْطِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَيْحَانَتِهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ.

رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ، وَقاَلَ التِّرْمِذِيُّ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ.

Dari Abu Muhammad Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kesayangannya radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku hafal (sebuah hadits) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Tinggalkanlah yang meragukanmu lalu ambillah yang tidak meragukanmu.’” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) [HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i]

Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc