Konsul Pernikahan

Pernikahan & Keluarga, 17 Februari 2021

Pertanyaan:

Sy ibu 55 th dg 2 anak.

5 th lalu sy menikah dg duda anak 3.

Saya tinggal di lampung dg suami dan anak2 nya dan anak sy sekolah di semarang tinggal bersama budhe nya.

Pertanyaan saya:

Apakah suami saya berkewajiban menghidupi anak saya. ? Krn menurut sui dia membantu menghidupi anak sy.

Krn sekedar membantu mk suami tdk akan mengirim uang untk hidup buat anak sy. Jk tdk punya uang cukup.

Bagaimana hukumnya menurit Islam.

Tksh. 



-- Wati (Lampung)

Jawaban:

Assalaamu 'alaikum wrwb.

Anak tiri merupakan anak bawaan dari istri dengan suaminya terdahulu. Dalam Islam, anak tiri tidak wajib dinafkahi oleh ayah tirinya, meskipun keduanya sudah menjadi mahram. Ini karena antara ayah tiri dan anak tirinya tidak ada hubungan nasab dan kekerabatan yang menyebabkan ayah tiri wajib menafkahi anak tirinya, kalaupun memberi nafkah hukumnya adalah sunnah dan bukan wajib.

Menurut para ulama, ada tiga hal yang menyebabkan seseorang wajib memberikan nafkah. Pertama, memiliki hubungan nasab dan kerabat. Misalnya, antara ayah kandung dan anak kandung. Kedua, memiliki ikatan pernikahan. Misalnya, antara suami dan istri. Ketiga, karena kepemilikan. Misalnya, seseorang memiliki budak, maka dia wajib menafkahinya.

Menurut ulama Hanabilah, di antara syarat seseorang wajib memberikan nafkah kepada orang lain adalah keduanya harus bisa saling mewarisi. Misalnya, anak kandung berhak mendapatkan warisan dari ayah kandungnya, dan begitu sebaliknya. Jika tidak bisa saling mewarisi, maka tidak ada kewajiban memberi nafkah antara satu sama yang lain.

Dalam Islam, anak tiri tidak berhak mendapatkan warisan dari ayah tirinya, begitu juga sebaliknya. Ini disebabkan karena di antara keduanya tidak ada hubungan nasab yang menyebabkan keduanya bisa saling mewarisi.

Oleh karena itu, ayah tiri tidak wajib memberikan nafkah kepada anak tirinya, begitu juga sebaliknya, anak tiri tidak wajib memberikan nafkah kepada ayah tirinya. Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah  berikut;

الشَّرْطُ الرَّابِعُ: أَنْ يَكُونَ الْمُنْفِقُ وَارِثًا…فَإِنْ لَمْ يَكُنْ وَارِثًا لَمْ تَجِبْ عَلَيْهِ النَّفَقَةُ

Syarat keempat adalah pemberi nafkah harus berstatus sebagai pewaris. Jika bukan pewaris, maka dia tidak wajib memberi nafkah.

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-NYa

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA