Was Was Setelah Shalat

Sholat, 2 April 2021

Pertanyaan:

Assalamualaikum, izin bertanya

Bagaimana hukumnya apabila saya mengalami keraguan yang sangat berat beberapa saat setelah shalat? Perlu diketahui saya sangat sering sekali ragu setiap kali ibadah.

Misalnya, setelah shalat subuh, saya ragu apakah saya sudah membaca shalawat nabi atau belum, dan saya juga ragu apakah sudah salam atau belum. Namun keraguan ini terjadi setelah saya menyelesaikan shalat saya. Apakah sah shalatnya ataukah wajib qadha?

Sebagai pertanyaan tambahan, apabila ragunya ketika ditengah-tengah shalat, namun mengingat saya orang yang sering sekali ragu, apakah keraguannya dianggap ataukah saya mengabaikannya saja?

Terima kasih.

 



-- Adi (Jakarta Timur)

Jawaban:

 Wa'alaikumussalaam wrwb.

Keraguan memang kerap dialami oleh sebagian manusia. Biasanya rasa ragu kerap datang disaat kita menghadapi suatu keputusan atau pilihan yang akan kita ambil. Apakah akan yakin dengan keputusan tersebut ataukah tidak? Atau bahkan keraguan bisa timbul disaat kita akan beramal. Jika keraguan itu muncul setelah beramal maka hal itu tidak dianggap.

Karena jika seseorang telah selesai mengerjakan suatu amalan, berarti amalan yang telah dikerjakan tersebut telah dilakukan dengan baik, karena pastinya jika kita beramal kita mengharapkan ridha dari Allah SWT. Jika kita merasa ragu itu hanyalah bisikan syaitan.

Jika keraguan itu muncul disaat atau ditengah-tengah kita ingin beramal maka hendaknya keraguan itu tidak dianggap. Jika dalam melakukan ibadah atau amalan dan di kondisi tersebut kita ragu, apakah kita sudah mengerjakannya apa belum. Maka hukum dari ragu-ragu tersebut adalah bahwa orang tersebut belum melakukan amalan tersebut.

Untuk lebih jelasnya Syaikh Muhammad bin Shâlih al ‘Utsaimîn rahimahullah menyebutkan dalam Manzhûmah Ushûlil-Fiqh wa Qawâ’idihi pada bait ke-38 :

وَالـشَّــكُّ بَــعْـدَ الْـفِـعْـلِ لَا يُــؤَثِّــرُ
وَهَــكَـذَا إِذَا الـشُّــكُــوْكُ تَــكْـثــرُ

“Dan keraguan setelah perbuatan tidaklah berpengaruh.”

Selain itu terdapat dalil yang mendasarinya. Di antara dalil yang mendasari kaidah ini adalah firman Allâh Azza wa Jalla yang berbunyi :

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allâh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”  [al-Baqarah/2:286]

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah pada saat menafsirkan ayat ini mengatakan:

“Maksud ayat ini, Allâh Azza wa Jalla tidak membebani seorang pun diluar kemampuannya. Ini merupakan wujud kelembutan, kasih sayang dan kebaikan Allâh Azza wa Jalla kepada hamba-Nya.”

Perkara yang berat adalah jika hamba Allah mempunyai rasa ragu di dalam dirinya. Hal ini tertuang Dalam ayat yang lain Allâh Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّمَا النَّجْوَىٰ مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikit pun kepada mereka, kecuali dengan izin Allâh.” [al Mujâdilah/58:10].

Keragu-raguan yang muncul dari orang yang sering merasa ragu pada hakikatnya berasal dari setan. Keraguan yang dirasakan oleh manusia juga merupakan salah satu jenis bisikan syetan yang mengganggu manusia. Oleh karena itu, keraguan itu tidak perlu kita hiraukan. Sebagaimana  dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa setan senantiasa menggoda manusia untuk berbuat baik.

Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِيْ مِنَ اْلإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ

Sesungguhnya setan berjalan di dalam diri manusia di tempat mengalirnya darah [4]

Demikian pula, kaidah ini telah ditunjukkan oleh sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu hadits shahih tentang seorang laki-laki yang merasakan sesuatu di perutnya seolah-olah laki-laki ini ia telah berhadats, sehingga ia merasa ragu-ragu apakah telah berhadats ataukah belum, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini bersabda :

لاَ يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا , أَوْ يَجِدَ رِيْحًا

Artinya: “Janganlah ia keluar dari shalatnya sehingga mendengar suara atau mendapatkan baunya, yaitu, janganlah ia keluar dari shalatnya hanya karena yang ia rasakan itu sampai benar-benar yakin bahwa ia telah berhadats.”

Demikian, semoga Allah berkenann untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamju 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA