Sensitif Trauma Luka

Pernikahan & Keluarga, 24 Januari 2026

Pertanyaan:

Bismillah ustad saya ibu rumah tangga dengan 2 anak, qodarullah saya pernah buka hp suami ada chat wanita yg dihapus. Sudah dijelaskan dan minta maaf, tapi saya seperti trauma dan ketakutan dibohongi lagi. Sejak saat itu saya sering ungkit salahnya, suami sudah merasa berubah tp tidak dihargai. Tapi saya sakit hati dan was2 terus, sudah sulit percaya lagi. Alhamdulillah suami tidak maksiat macam2 selama ini, tapi kesalahan dia itu bikin saya was2 dan curiga, otomatis suasana rumah tangga juga berubah.. mohon solusinya ustadz



-- Nurhas (Bekasi)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Perasaan kecewa, sakit hati, dan kehilangan kepercayaan kepada suami yang pernah berkhianat adalah sesuatu yang wajar. Namun, kewajaran tersebut dapat berubah menjadi tidak wajar apabila berlarut-larut dan berlebihan. Jika dibiarkan, hal itu dapat berkembang menjadi beban mental yang terus menghantui diri sendiri dan mengganggu ketenangan jiwa.

Oleh karena itu, untuk memulihkan kembali kepercayaan Anda kepada suami, ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan, di antaranya:

  1. Pahami harapan Anda sendiri.
    Renungkan apa yang sebenarnya Anda harapkan dari suami setelah peristiwa pengkhianatan itu, ketika ia telah meminta maaf dan berusaha menjadi lebih baik. Bisa jadi Anda berharap ia menjadi lebih baik dari sebelumnya, atau setidaknya kembali seperti kondisi semula.
    Mengembalikan kepercayaan dan kondisi rumah tangga seperti sediakala tentu bukan perkara mudah, tetapi bukan pula hal yang mustahil. Yang paling terluka dalam pengkhianatan adalah hati, dan hati yang terluka tidak akan pulih dalam waktu singkat. Karena itu, jangan menuntut diri Anda untuk segera sembuh. Beri waktu; perlahan tapi pasti, insyaAllah luka itu akan mereda.
  2. Berdamailah dengan masa lalu.
    Biarkan apa yang telah terjadi benar-benar berlalu, dan fokuslah pada masa depan. Masa lalu adalah lembaran lama yang perlu ditutup, lalu diganti dengan lembaran baru yang diisi dengan sikap dan harapan yang baru pula. Semakin cepat Anda berdamai dengan masa lalu, semakin cepat pula proses pemulihan batin Anda.
  3. Yakini bahwa semua terjadi atas ketentuan Allah.
    Apa yang terjadi adalah takdir Allah yang harus dijalani. Allah pasti memiliki hikmah dan kehendak di balik setiap ujian yang diberikan. Dalam proses ini, lakukan muhasabah diri dengan jujur: adakah kekurangan yang perlu diperbaiki? Ataukah kesalahan itu murni berasal dari suami? Muhasabah bukan untuk menyalahkan diri sendiri, melainkan untuk memperbaiki dan melangkah ke depan dengan lebih bijak.

Demikian yang dapat disampaikan. Semoga bermanfaat dan menjadi jalan menuju ketenangan hati.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
(as)



-- Amin Syukroni, Lc