Assalamu'alaikum ustadz, Mohon izin bertanya. Saya adalah seorang istri yang kesulitan menerima sifat buruk suami, hingga terkadang saya merasa menyesal menikah dengannya. Sebelum menikah dia berjanji berhenti merokok, tp ternyata dia ingkar janji, dia juga dulu bilang sholat 5 waktu, tp ternyata masih sering bolong-bolong. Dulu sebenarnya saya ragu menikah dengannya, tp karena faktor usia dan orang tua setuju, akhirnya saya ikuti kata orang tua untuk menikah. Suami juga orangnya mudah emosi, cuek, suka menyalahkan dan keras kepala. Saya sudah berusaha bertahan tp kadang penyesalan itu sering muncul dan rasanya ingin menyerah. Tapi saya juga masih memikirkan nasib anak, hingga saya terus berusaha bertahan meskipun ada rasa penyesalan, sedih dan tidak bahagia. Saya ingin mencoba menjadi istri yang baik, tp jika saya ingat sifat suami yang buruk, rasanya sulit sekali menerima takdir ini. Bagaimana menurut ustadz? Apa yang harus saya lakukan? Apakah saya harus terus bertahan? Bagaimana cara agar tidak menyesal dan mencoba memahami takdir ini? Karena penyesalan ini yang membuat saya ingin menyerah.
Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Sifat baik dan buruk pada diri manusia adalah sebuah keniscayaan. Tidak ada seorang pun yang sempurna dan sepenuhnya sesuai dengan harapan kita. Demikian pula diri kita sendiri. Bisa jadi kita merasa sudah memiliki banyak kebaikan, tetapi dalam pandangan orang lain masih terdapat kekurangan dan kelemahan.
Terkait keburukan yang ada pada diri suami, ada beberapa nasihat yang ingin kami sampaikan:
Jangan sampai keburukan yang sedikit menutupi banyak kebaikan yang dimilikinya. Memang tabiat manusia cenderung lebih sensitif terhadap keburukan dan lebih mudah mengingat kesalahan daripada kebaikan. Karena itu, latihlah diri untuk melihat dan mengingat kebaikan-kebaikan suami agar hati lebih lapang dalam menerimanya.
Melihat orang yang kondisinya lebih sulit akan membantu menumbuhkan rasa syukur. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
"Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam urusan dunia) dan janganlah memandang orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu lebih membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Cobalah melihat keadaan orang lain yang rumah tangganya menghadapi masalah yang lebih berat. Dengan demikian, Anda akan lebih mudah menerima kekurangan yang ada pada suami dan lebih bersyukur atas nikmat yang masih Allah berikan.
Mungkin ada sifat suami yang tidak Anda sukai. Namun bisa jadi hal itu menjadi sarana bagi Anda untuk meraih pahala melalui kesabaran, nasihat, dan usaha memperbaiki keadaan. Bisa jadi pula itu menjadi ladang dakwah pertama bagi Anda sebelum berdakwah kepada orang lain.
Renungkanlah, mungkin di balik kondisi suami tersebut Allah telah menyiapkan banyak kebaikan yang belum Anda ketahui. Allah Ta'ala berfirman:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)
Menikah merupakan salah satu bentuk ibadah yang sangat agung. Dengan menikah, seseorang telah menyempurnakan separuh agamanya. Tinggal bagaimana ia menjaga separuh agama yang lainnya dengan ketakwaan kepada Allah.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نِصْفَ الدِّينِ فَلْيَتَّقِ اللَّهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي
"Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karena itu, hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam menjaga separuh agama yang lainnya." (HR. Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 625)
Karena itu, wajar jika dalam pernikahan terdapat berbagai ujian. Justru melalui ujian itulah kualitas keimanan, kesabaran, dan ketakwaan seseorang diuji. Orang yang bersabar dalam menghadapi ujian rumah tangga akan memperoleh keberuntungan dan pahala yang besar di sisi Allah.
Perlu diingat pula bahwa tidak ada ujian yang berlangsung selamanya. Setiap ujian akan berlalu dan digantikan dengan ujian yang lain. Karena itu, hadapilah dengan kesabaran dan tawakal kepada Allah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ
"Ketahuilah bahwa apa yang telah ditakdirkan menimpamu tidak akan pernah luput darimu, dan apa yang telah ditakdirkan luput darimu tidak akan pernah menimpamu."
Demikian yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat dan menjadi sebab bertambahnya kesabaran serta ketenangan hati. Wallahu a'lam bish-shawab. (as)