Pilih Yang Mana


Pertanyaan:

Ass,Ustadz saya anak tunggal dlm keluarga,saya sdh menikah&punya 2 anak,suami saya sering marah2&maki2 saya klo saya ada salah tpi dia sendiri tdk mau diingatkan masalah sholat&puasa,klo lgi marah sama saya dia tdk peduli masalah repotnya saya dlm mengurus kerjaan rumah&yg selalu membantu kerepotan saya ya orang tua saya krna rmh kita berdampingan,klo disuruh memilih hidup bersama orang tua/suami,saya hrs pilih yang yg mana?soalnya disini suami saya sering tdk menghargai orang tua saya&sering menyakiti saya,saya tidak mau meninggalkan orang tua saya karena smp skrg pun saya msh membutuhkan orang tua saya disaat kadang suami tdk peduli dgn saya,tpi kadang saya juga tidak tega meninggalkan suami saya krna dia tdk punya keluarga lagi selain saya tpi saya juga tdk mampu menghadapi sifat&kelakuannya yg sering nyakitin saya,saya hrs bagaimna Ustadz.



-- Siti Mahmudah (Kalsel)

Jawaban:

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Pahit getir dan manis kehidupan adalah bagian dari perjalanan hidup yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Justru dengan adanya kepahitan, kita dapat merasakan manisnya kehidupan. Dengan adanya kekasaran dan kemarahan suami, kita menjadi lebih menghargai kelembutan seorang ibu. Dengan adanya sikap kurang peduli dari suami, kita menjadi lebih menghargai perhatian dan bantuan orang tua.

Anda hidup bersama siapa pun, maka manis dan pahitnya kehidupan tetap akan Anda rasakan. Jika saat ini kebahagiaan dan kesedihan datang silih berganti melalui suami dan orang tua, maka seandainya suatu saat Anda terlepas dari satu bentuk kesulitan, bukan berarti seluruh kesulitan akan berakhir. Bisa jadi Allah menggantinya dengan ujian yang datang melalui jalan yang lain.

Karena itu, terimalah kenyataan hidup ini dengan sabar dan syukur. Sesungguhnya kehidupan seorang mukmin tidak lepas dari dua sikap mulia tersebut: sabar ketika menghadapi ujian dan syukur ketika menerima nikmat. Inilah keistimewaan seorang mukmin yang sejati.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya adalah baik baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun menjadi kebaikan baginya." (HR. Muslim)

Perlu dipahami pula bahwa ketika seorang perempuan telah menikah, maka kewajiban taat dan berbakti yang paling utama setelah kepada Allah adalah kepada suaminya. Hal ini berbeda dengan seorang laki-laki yang sepanjang hidupnya memiliki kewajiban besar untuk berbakti kepada kedua orang tuanya.

Oleh karena itu, berusahalah untuk terus menerima keadaan suami dengan penuh kesabaran. Tetaplah berdoa dan berikhtiar untuk memperbaiki keadaan. Bisa jadi suatu saat Allah memberikan perubahan yang lebih baik pada diri suami Anda. Kalaupun perubahan itu belum datang, bisa jadi Allah akan memberikan kekuatan kepada Anda untuk lebih mampu menerima keadaan tersebut sehingga tidak lagi merasakan sakit sebagaimana yang dirasakan saat ini.

Demikian yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat dan menjadi sebab ketenangan hati serta bertambahnya kesabaran dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Wallahu a'lam bish-shawab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc