Surah An-Nashr Makkiyah Atau Madaniyah?

Al-Qur'an, 2 Maret 2010

Pertanyaan:

Ada 2 pendapat yang mengatakan An-Nashr termasuk surat makkiyah dan An-Nashr termasuk surat madaniyah. Di sekolah anak saya yang masih kelas 2 SD diajari kalau An-Nashr itu makkiyah, sedangkan saya menjelaskan itu madaniyah. Mohon bagaimana menjelaskan ke anak SD ttg perbedaan pendapat ini? Terimakasih. Wassalamualaikum.

-- Herlina (Pasuruan)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam Wr.Wb.

Alhamdulillah, wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:

Pertama-tama mohon maaf Ibu, yang justru kami pertanyakan adalah tentang adanya pendapat yang mengatakan bahwa, surah An-Nashr termasuk surah makkiyyah, itu pendapat ulama mana, dan dari sumber kitab apa? Karena sejauh yang kami tahu dan baca dalam kitab-kitab tafsir, kami belum menemukan adanya pendapat itu. Yang kami temukan justru kesepakatan semua riwayat begitu pula seluruh kitab tafsir dengan satu penegasan bahwa, An-Nashr adalah surah madaniyyah!

Itulah yang disebutkan oleh para ulama tafsir tentang surah ini. Misalnya Imam Al-Qurthubi (w. 671 H.) menegaskan dalam tafsirnya bahwa, surah An-Nashr merupakan surah madaniyyah secara ijma’. Ia dinamakan “Suratut-taudi’” (surah perpisahan). Dan ia adalah surah yang terakhir turun, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas ra. dalam Shahih Muslim. (Tafsir Al-Qurthubi: Al-Jami’ Li-ahkaamil Qur’an: X/229). Imam Asy-Syaukani (w. 1250 H.) juga mengatakan hal yang sama: Surah An-Nashr disebut dengan nama “Suratut-taudi’”, dan merupakan surah madaniyyah dengan tanpa adanya perbedaan. (Tafsir Fathul Qadir oleh Asy-Syaukani: V/508).

Memang banyak riwayat tentang turunnya surah pendek yang sangat istimewa ini, dimana nilai dan fadhilahnya menyamai seperempat Al-Qur’an (lihat HR. At-Tirmidzi dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu). Namun seluruhnya – seperti yang telah disebutkan – justru mengisyaratkan dan atau menegaskan bahwa, ia adalah salah satu surah madaniyyah.

Sampai-sampai ada riwayat – seperti kata Al-Qurthubi diatas – yang bahkan menegaskan bahwa, surah An-Nashr merupakan surah yang diturunkan terakhir kali, yakni pada pertengahan hari-hari tasyriq di Mina pada haji wada’ (HR. Muslim dan An-Nasaa-i dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dan HR. Al-Bazzar serta HR. Al-Baihaqi dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma), sebagai pertanda telah sempurnanya ajaran Islam dan telah berakhirnya tugas suci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mengemban amanah besar dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu, turunnya surah ini dipahami sebagai tanda telah dekatnya ajal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan diantara riwayat-riwayat itu adalah sebagai berikut:

Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita bahwa, di hari-hari terakhirnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam banyak mengucapkan dzikir dan doa: “Subhanallah wabihamdih, astaghfirullah, wa atubu ilaih”, dan beliau bersabda (yang artinya): “Sungguh Rabb-ku (Tuhan-ku) telah memberitahuku bahwa aku akan mendapatkan suatu tanda pada ummatku, dan Dia memerintahkan jika telah mendapatkannya agar aku bertasbih memuji-Nya dan beristighfar kepada-Nya, karena sungguh Dia Maha Penerima taubat, dan aku telah mendapatkannya, …lalu beliaupun membaca surah An-Nashr” (HR. Ahmad dan Muslim).

Dan dalam hadits lain disebutkan bahwa, setelah surah An-Nashr turun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam ruku’ dan sujud beliau banyak membaca dzikir: Subhanaka Allahumma [Rabbana] wa bihamdika, Allahumma-ghfirli, dalam rangka melaksanakan perintah Allah dalam Al-Qur’an surah An-Nashr ayat 3 (lihat HR. Muttafaq ‘alaih dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan HR. Ahmad dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu).

 Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma – dikuatkan oleh Amirul mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu – memahami surah An-Nashr sebagai tanda dari Allah akan dekatnya ajal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dimana ketika ditanya oleh Amirul Mukminin ‘Umar bin Al-Khattab, di hadapan para sahabat senior, tentang tafsir surah ini, Ibnu ‘Abbas ra. Menjawab: Itu adalah pertanda telah dekatnya ajal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana Allah memberitahukan hal itu kepada beliau (lihat HR. Al-Bukhari).

Dan dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas pula, beliau mengatakan bahwa, ketika turun surah An-Nashr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu memanggil putri beliau Fathimah ra. seraya bersabda: “Sesungguhnya telah disampaikan berita kematianku kepadaku”. Maka Fathimahpun menangis, tapi kemudian tersenyum setelah dibisiki Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kabar gembira bahwa, beliau adalah anggota keluarga yang paling dulu menyusul Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (ke Surga). Atau menurut riwayat lain: beliau adalah penghulu seluruh wanita penghuni Surga kecuali Maryam binti ‘Imran. (HR. Al-Baihaqi dan At-Tirmidzi dari Ibnu ‘Abbas ra.).

Adapun keterkaitan antara penaklukan kota Mekkah dan masuknya ummat manusia ke dalam Islam secara berbondong-bondong, sehingga keduanya disebutkan secara bergandengan dalam surah ini, adalah karena memang selama bertahun-tahun dalam dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, suku-suku masyarakat Jazirah Arab di luar Mekkah memilih menunggu sikap akhir suku Quraisy terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan risalah Islam yang dibawa oleh beliau. Sehingga begitu mengetahui kota Mekkah ditaklukkan dan masyarakatnya telah menjadi pengikut beliau, merekapun serta merta masuk Islam secara berbondong-bondong (lihat HR. Al-Bukhari dar ‘Amru bin Salamah radhiyallahu ‘anhu).

Itulah sebagian riwayat yang mengisyaratkan atau menyebutkan atau menegaskan bahwa, An-Nashr adalah surah madaniyyah, yang bahkan turun pada akhir periode Madinah. Dan itu dikuatkan dengan isi dan kandungan surah dengan hanya tiga ayat pendek tersebut, dimana tema utamanya adalah perintah syukur dengan bertasbih, bertahmid dan beristighfar, atas nikmat puncak yang Allah anugerahkan. Yakni yang berupa pertolongan dan kemenangan gilang gemilang dari Allah, penaklukkan kota Mekkah, dan masuk Islam-nya masyarakat jazirah Arab secara berbondong-bondong. Dan karunia nikmat puncak itu, sebagaimana telah sama-sama kita ketahui, semua baru terwujud pada masa-masa terakhir kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, di Madinah.

Maka saran, usul dan masukan dari kami, sekaligus menanggapi pertanyaan Ibu, adalah sebaiknya Ibu melakukan tabayyun dan klarifikasi ke pihak ustadz/ustadzah atau guru anak Ibu di sekolah, untuk berdialog tentang masalah ini. Siapa tahu telah terjadi misinformasi dalam hal ini. Jika informasi dari anak Ibu ternyata tidak benar, maka Ibu tinggal meminta pada Bapak/Ibu guru agar meluruskan penangkapan dan pemahaman anak Ibu.

Adapun jika ternyata memang benar informasi itu dari Bapak/Ibu guru, maka kewajiban Ibu untuk mengingatkan beliau akan kekeliruannya. Jika beliau menerima pelurusan dari Ibu – setelah dialog – dan setuju hanya ada satu pendapat, yakni An-Nashr surah madaniyyah, maka sebaiknya pula Ibu minta agar beliaulah sendiri yang menyampaikan ralat kepada anak-anak didiknya termasuk anak Ibu. Karena itu lebih hikmah dan akan lebih efektif hasilnya serta lebih positif pengaruhnya. 

Demikian jawaban dari kami, semoga bisa dipahami dengan baik dan bermanfaat. Wallahu a’lam, wa Huwal Muwaffiq ila aqwamith-thariq, wa Huwal Hadi ila sawa-issabil.



-- Ahmad Mudzoffar Jufri, MA