Hukum Jagong

Fiqih Muamalah, 16 Juni 2010

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum wr. wb.

Dalam budaya jawa ada kebiasaan 'jagong' (menghadiri undangan hajatan dengan membawa sumbangan/amplop berisi sejumlah uang). Yang menjadi persoalan adalah bahwa hampir setiap orang yang mendapat undangan jagong selalu mengeluh, apalagi kalau ada beberapa undangan. Bahkan termasuk tetangga yang punya hajat juga mengeluh. Keluhan ini biasanya terkait dengan isi amplop yang harus disumbangkan. Dilemanya: kalau tidak jagong, akan 'dirasani', kalau nyumbang sedikit juga 'dirasani'. So, saya jadi berpikir, mengadakan hajatan itu menyusahkan banyak orang, apakah ini berarti HARAM?



-- Muhammad Haqqo (Wonosari)

Jawaban:

Assalamu 'alaikum wr wb.

Alhamdulillahi Robbil 'alamin Ashshalat wassalamu 'ala asyrofil Mursalin wa 'ala alihi wa ashabihi ajma'in.

Jagong atau menghadiri undangan dalam sebuah acara yang halal, termasuk dalam kategori fiqh muamalah yang hukum asalnya adalah boleh, berdasarkan kaidah " الأصل في المعلات الاباحة جتي يرد دليل التحريم " yang artinya : Hukum asal dari muamalah adalah boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkan.

Berdasarkan kaidah tersebut, maka apabila dalam acara jagong sebagaimana yang bapak sebutkan, justru akan menimbulkan hal-hal  negatif, sebagaimana disebutkan, maka seyogyanya tidak dilaksanakan, karena madharatnya lebih banyak daripada manfaatnya.

Wallahu a'lam bishshawab.

Wassalamu 'alaikum wr wb.

 



-- Agung Cahyadi, MA