Istri Pergi Tanpa Seijin Suami


Pertanyaan:

Assalamu'alaiku wrwb.

Ustadz, saya sudah 5 tahun berumah tangga. Jujur dulu saya sempat berpacaran dengan istri, sebelum kami menikah. Selama saya berpacaran, saya selalu mengajarkan hal-hal yg baik dan syar'i pada pacar saya (sekarang istri). Saya orang jogja dengan perangai yg lemah lembut, sedangkan istri saya orang sumatra dengan perangai yg agak kasar baik dalam berbicara maupun tingkah laku. Selama dua tahun kami pacaran, akhirnya saya putuskan untuk melamarnya, karena saya sudah melihat banyak sekali perubahan yg terjadi padanya seperti yg saya harapkan, dia benar2 mendekati kata sholehah.

Tapi lambat laun dengan berjalannya waktu, istri saya kembali pd sifat aslinya, kasar dan sering tidak menggubris dan tdk mau mendengarkan kata2 saya. Padahal Allah telah mengingatkannya dg dua kali kejadian, yg pertama istri saya sakit mendadak dan setelah sembuh dia mencium kaki saya dan meminta maaf kpd saya. Yang kedua, Allah menghadirkan Ustadz Arifin Ilham ke Bengkulu, dan kebetulah kami menyaksikan beliau berceramah, dan begitu mengherankan ketika beliau berceramah, segala yg diucapkannya sama dengan apa2 saja yg saya lakukan terhadap istri saya, dan alhamdulillah istri saya bisa berubah lagi, karena dia sangat menghormati sang ustadz karena Ustadz Arifin memang idola istri saya.

Tapi saya sedih karena perubahan itu tdk brlangsung lama. hanya sekitar tiga minggu saja. dan kini sifatnya kembali lg sprti semula, kasar dan tidak mendengarkan kata2 saya. Berawal dari masalah uang, saya mendapatkan rejeki tambahan/tak terduga. Bersamaan dengan itu bbrp waktu sebelumnya ibu saya minta tolong dikirim uang karena ibu saya berhutang dg tetangganya. Sebenarnya kami pun dalam keadaan berhutang kpd ibu saya dg cicilan Rp. 500rb perbulannya, sehingga posisinya adalah ibu saya minta tolong segera dicicil utang kami karena memang butuh uang dan posisi kami telah menunggak 4 bulan. Akhirnya saya putuskan utk menggunakan rejeki tak terduga tadi utk mencicil utang tersebut. Namun di lain pihak ternyata istri saya tdk setuju, dia marah dan kemudian pulang ke rumah orang tuanya tanpa saya ijinkan. Ini hari kedua dia ada disana. Mohon petunjuk ustadz segera. Syukron.



-- Hamba Allah (Bengkulu)

Jawaban:

Wa'alaikumussalam wr wb.

Alhamdulillahi Robbil 'alamin ashalatu wassalamu 'ala asyrofil Mursalin  wa'ala alihi wa ashabihi ajma'in.

Ada dua permasalahan penting pada kasus yang disampaikan:

Pertama, uang Rp. 500.000, yang anda kirimkan ke ibu, sebagai cicilan dari hutang anda.

Kedua, pulangnya istri anda ke orang tuanya tanpa izin.

Untuk permasalahan yang  pertama,  semestinya istri tidak perlu marah dengan apa yang telah anda lakukan dengan mengirimkan uang ke ibu, karena ibu adalah tanggung jawab anaknya, apalagi bahwa uang tersebut sebagai cicilan hutang yang merupakan kewajiban yang harus segera ditunaikan. Dan sebagai suami, semestinya andapun tidak harus memberitahukan semua penghasilan kepada istri, dan istripun tidak mempunyai hak untuk mengetahui semua penghasilan suami. Namun demikian, apabila ada keterbukaan dan keterusterangan dari kedua belah pihak dalam rangka membangun komunikasi yang baik, tentu akan lebih baik.

Dan untuk permasalahan kedua, bahwa sesungguhnya kepergian seorang istri dari rumah suaminya dengan tanpa mendapat izin, termasuk dalam kategori perbuatan "nusyuz/kemaksiatan".  Dan kewajiban anda sebagai suami untuk menyikapinya dengan bijaksana dalam rangka memperbaikinya, sesuai dengan petunjuk Allah dalam Al Qur'an surat Annisa'/ke 4, ayat ke 34.

Wallahu a'lam bishshawab.

Wassalamu 'alaikum wr wb.

-- Agung Cahyadi, MA