Tentang Kalimat Talak

Pernikahan & Keluarga, 21 Juli 2010

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum Wr Wb

Pak ustadz yang saya hormati, saya ada persoalan mengenai kalimat talak yang pernah saya ucapkan ke istri saya.
saya pria 29 tahun baru menikah sekitar 3 bulan lalu. istri saya mempunyai karakter cepat marah kalau saya melakukan kesalahan sekalipun kesalahan itu kecil, dan setiap kali dia marah ujung2nya pasti nusyuz atau mengabaikan hak-haknya sebagai istri misalkan tidak ada pelayanan kepada saya sebagai suami baik di rumah dan kebutuhan biologis, suka keluar rumah tanpa ijin/pamit dsb. dan setiap kali dia marah pun selalu minta cerai ke saya, tetapi saya tidak menggubrisnya.

terakhir sekitar 3 minggu lalu istri saya marah lagi hanya karena persoalan kecil, dan selama 2 minggu saya tidak pernah di layani (nusyuz). sampai pada suatu malam saya emosi/marah melihat kelakuan istri saya seperti itu dan memarahinya. dalam keadaan marah itu saya tidak dapat mengontrol emosi dan keluar kata-kata saya seperti ini "kalau memang mau cerai, urus saja besok, saya sudah capek kamu beginikan terus". nah pada saat mendengar kata2 saya seperti itu istri menganggap saya telah mentalaq-nya. tidak berapa lama kemudian saya mulai bisa mengontrol emosi dan menenangkan diri kemudian menyadari apa yang saya ucapkan tadi dan langsung meminta maaf kalau apa yang saya ucapkan tadi adalah keliru.

yang jadi pertanyaan saya pak ustadz adalah :
1. Apakah kata-kata saya tersebut sudah di kategorikan jatuh talak ?? (mengingat kata2 saya tersebut merupakan jawaban dari permintaannya untuk cerai)
2. jika memang itu sudah jatuh talak I dan saya merujuk istri saya tetapi istri saya tidak mau rujuk, bagaimana hukumnya kalau sampai habis masa iddah nya (3 kali bersuci) tetap tidak mau menerima rujukan saya pak ustadz??


sekian penjelasan dan pertanyaan saya pak ustadz, mohon di beri pemahaman untuk saya dan istri saya


Wassalam

-- Syam (Palopo)

Jawaban:

Wa'alaikumussalam wr wb

Thalaq memang tidak boleh dibuat main-main, karena thalaq bisa jatuh sah meskipun dilakukan dengan cara bergurau, diriwayatkan dalam hadits riwayat imam Tirmidzi bahwa Rasulullah saw bersabda yang artinya sebagai berikut : " Tiga perkara yang apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh dianggap sah, dan apabila dilakukan dengan bergurau juga dianggap sah, yaitu nikah, thalaq dan ruju' "

Ada 2 lafadz/kalimat yang biasa dipakai dalam thalaq, yaitu 1. jelas ( seperti cerai, thalaq ).  2. kinayah/sindiran ( sep. saya sudah bosan, kamu kembali saja keorang tuamu )

Apabila seorang suami mengatakan kepada istrinya dengan kalimat yang jelas ( saya cerai kamu misalnya ), maka telah jatuh thalaq, meskipun itu dikatakan dengan cara bergurau. Tetapi apabila yang dipakai adalah kalimat kinayah/sindiran ( saya bosan dengan kamu misalnya ), maka hukumnya sesuai dengan niat suami ketika ia mengucapkannya, apabila ketika ia mengucapkan kalimat tersebut berniat untuk menceraikan istrinya, maka jatuh thalaq saat ia mengucapkannya, dan apabila tidak berniat tahalaq, maka juga tidak jatuh thalaq

Menurut kesimpulan kami dari cerita saudara Syam, bahwa kalimat yang anda ucapkan tersebut termasuk kinayah/sindiran, yang karenanya jatuh atau tidaknya tergantung pada niat anda saat mengucapkannya.

Dan apabila niat anda saat mengucapkan kalimat tersebut adalah merespon permintaan istri agar anda menceraikannya, maka telah jatuhlah hukum cerai, tetapi karena cerai tersebut atas permintaan istri dan anda hanya merespon permintaannya, maka cerai ini disebut dengan " KHULU' " dan istri wajib mengembalikan mahar yang telah diterima dari anda atau yang senilai dengannya ( kecuali anda merelakannya ). Dan menurut mayoritas ulama' khulu' termasuk fasakh, sehingga tidak masuk dalam bilangan thalaq ( bukan thalaq I ), dan masa iddah dalam khulu' adalah satu kali haidh, namun ia adalah bain sughro, sehingga apabila anda mau ruju' ( setelah habis masa iddah ) maka harus akad baru ( ada wali, 2 saksi,ijab qobul dan wajib mahar )

Dan kalau sehabis masa iddah, mantan istri anda tidak mau diajak ruju', maka anda tidak mempunyai hak untuk memaksanya

Wallahu a'lam bishshowab.

Wassalamu 'alaikum wr wb.

-- Agung Cahyadi, MA