Sholat Hajat Dan Istikharah

Sholat, 12 Mei 2008

Pertanyaan:

Ustadz, mohon dijelaskan tentang hukum sholat hajat dan sholat istikharah. Juga apa perbedaan diantara keduanya? Dan bagaimana cara melakukannya? Terima kasih.



-- Muhammad Ismail (Surabaya)

Jawaban:

Sholat hajat dan sholat istikharah adalah bagian dari sholat sunnah yang dianjurkan untuk kita laksanakan, dengan perbedaan sebagai berikut:

Sholat hajat adalah sholat yang dianjurkan untuk kita lakukan, apabila kita mempunyai hajat tertentu, baik hajat kepada Allah atau kepada manusia, dengan cara : berwudhu sempurna kemudian sholat dua raka’at di waktu siang atau malam hari (selain waktu-waktu yang dilarang untuk sholat). Hal itu berdasarkan beberapa hadits yang artinya sebagai berikut :
”Barangsiapa yang mempunyai hajat kepada Allah atau kepada manusia, maka hendaklah berwudhu dan menyempurnakannya kemudian sholat 2 raka’at …“ (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah).

“Barangsiapa berwudhu dan menyempurnakannya, kemudian mengerjakan sholat dua raka'at dengan sempurna, maka ia diberi Allah apa saja yang ia minta, baik segera maupun kemudian.” (HR. Ahmad)

Adapun sholat istikharah ialah sholat sunnah yang dianjurkan untuk kita kerjakan, ketika kita menghadapi suatu permasalahan yang kita sendiri masih ragu-ragu untuk memilih mana yang terbaik, dengan cara : berwudhu dengan sempurna kemudian sholat dua raka'at di siang hari atau malam hari (selain waktu-waktu yang dilarang untuk shalat). Hal itu berdasarkan hadits riwayat Bukhari. Dan disunnahkan setelah sholat membaca do'a yang artinya sebagai berikut:

“Ya Allah, saya memohon pilihan menurut pengetahuan-Mu ,dan saya memohon ketetapan dengan kekuasaan-Mu, dan saya memohon karunia-Mu yang besar, karena sesungguhnya Engkaulah Yang Berkuasa dan saya tidak memiliki kekuasaan, Engkaulah Yang Maha Tahu sedangkan saya tidak mengatahui apapun. Engkau Maha Mengetahui perkara ghaib. Ya Allah, jika Engkau ketahui bahwa urusanku ini (sebutkan keperluannya) baik untukku, dalam agamaku, kehidupanku serta akibat urusanku – baik untuk sekarang atau masa datang – maka taqdirkanlah untukku, mudahkanlah serta berikanlah keberkahan kepadaku di dalamnya. Sebaliknya jika Engkau ketahui bahwa urusan ini (sebutkan keperluannya), buruk untukku, dalam agamaku, kehidupanku serta akibat urusanku – baik untuk sekarang atau masa datang -, maka jauhkanlah hal itu dariku dan jauhkanlah diriku darinya, serta takdirkanlah untukku yang terbaik saja dimana saja berada, kemudian ridhokanlah hatiku dengan takdir-Mu itu.” (HR. Bukhari).

Wallahu a'lam bishowab.



-- Agung Cahyadi, MA