Apakah Sudah Jatuh Talak 3 Dan Bagaimana Cara Rujuknya?


Pertanyaan:

Assalammualaikum warohmatullohiwabarokatu.

Saya menikah sudah hampir 5th dan mempunyai anak permpuan 2.Anak pertama saya merawatnya dan yang ke2 saya titipkan ke saudara yang belum mempunyai anak.

Lalu Saya berbuat selingkuh,sehinggah Saya ketahuan dan kita ribut besar dan pisah rumah.

1.Suatu waktu saya pernah berkata "klo mau berpisah, urusin saja di KUA" dan niat saya klo kita pisah istri saya harus mengurus surat2 perceraian d KUA tapi istri saya tidak mau mengurus surat perceraian karna saya yang salah jadi saya yang harus mengurus. tapi saya tidak mau mengurus karna tidak mau pisah.

2.lalu kami bersatu kembali selama 3 bulan dan terjadi pertengkaran lagi sehingga istri minta pulang ke rumah orang tua tapi saya tidak mengjinkan,trus istri tetap keras kepala minta pulang ke rumah orang tua sampai saya berkata "pergi-pergi saja,tdk pulang selama na juga tidak apa-apa" dan saya berniat untuk pisah rumah saja karna kemauan istri agar kita berpikir kejelekan suami istri dalam berumah tangga.akhirnya kita berkumpul kembali dan saya berkata "pertengkaran ini saya anggap talak ke2 dan rujuk yang ke2 agar tidak terjadi keributan lagi.

3.selang 1 bulan kami ribut kembali karena Saya telat menjemput istri,dan istri mau pisah dari rumah.dan saya sempat berkata "kamu tanya kakak cara mengurus ke KUA bagaimana dan syaratnya apa saja (karna kakak sudah bercerai), daripada pisah rumah tapi tidak ada status" dan niat saya pada waktu itu "saya siap d cerai istri saya klo istri saya tidak terima diri saya lagi.

Pertanyaan saya:
1.apa hukumnya anak ke2 saya di titipkan ke saudara? karna pihak keluarga istri setuju dan pihak keluarga saya tidak setuju, karna saya kekurangan biaya untuk merawatnya.
2.apakah saya sudah men"talak" istri saya pada cerita ke1, cerita ke2, cerita ke3?
3.saya sekarang sudah menjatuhkan talak ke berapa?
4.bagaimana cara rujuk na?
5.apa yang harus saya perbuat sekarang atas cerita saya ini?

Terima kasih. Walaikumsalam warrohmatullohiwabarokatuh.

-- Wahyudi Nugroho (Tangerang)

Jawaban:

Wa'alaikumussalam wrwb.

Talaq humnya halal, tetapi ia perbuatan halal yang paling di benci oleh Allah, dan ia adalah hak suami, tetapi dalam pandangan Islam ia/talaq itu adalah merupakan solusi terakhir, ketika upaya perbaikan dan damai tidak lagi dapat diusahakan

Dan talak bisa dilakukan dengan dua cara : 1. dengan kalimat yang jela,yang menunjukkan arti talaq (mis. suami mengatakan kepada istrinya : saya cerai kamu atau saya talak kamu). Talak dengan cara ini, akan jatuh sah, meskipun suami mengucapkan dengan senda gurau  2. dengan kalimat sindiran ( mis. pulang saja kamu ke orang tuamu, atau kita pisah sajalah).  Dan dengan cara ini, berlaku sah dan tidaknya talaq, akan ditentukan oleh niat suami ketika mengucapkannya

Berdasarkan hal tersebut diatas, maka apa yang telah anda lakukan, insya Allah hukumnya sebagai berikut :

1. Ketika anda mengatakan : "Kalau mau berpisah, urusin saja ke KUA ", dan ternyata istri anda tidak mengurus, maka insya Allah belum jatuh talaq

2. Ketika anda mengatakan kepada istri "pergi, pergi dst ", itu adalah kalimat sindiran, yang jatuhnya perceraian akan tergantung pada niat anda. Akan tetapi karena anda dengan kata-kata tersebut  tidak berniat untuk mentalaq istri, maka insya Allah juga tidak jatuh talaq

3. Dengan kalimat sindiran yang anda ucapkan pada kali ketiga, insya Allah telah jatuh talaq, karena anda berniat dengan ucapan tersebut untuk mentalaq istri

Jadi, dengan peristiwa sebagaimana yang anda telah ceritakan, maka berarti anda telah mentalaq istri anda dengan talak satu. Dan kalau anda mau meruju' istri anda, maka apabila telah habis masa iddahnya ( 3 X haidh, yang dihitung semenjak jatuhnya talaq ), anda harus melakukan akad nikah kembali sebagai mana yang anda lakuklan saat akad nikah dulu ( ada wali, 2 saksi, ijab qabul dan mahar ). tetapi kalau belum habis masa niddah, maka anda bisa langsung ucapkan kepada istri anda, bahwa anda merujuknya

Adapun berkenaan dengan anak anda, maka bila dengan kondisi ekonimi anda, akhirnya anda berat untuk mengasuh langsung anak anda sendiri, bisa saja anda menitipkannya kepada saudara untuk mengasuhnya, tetapi seyogya dikomunikasikan dulu dengan keluarga semua

Wallahu a'lam bishshawab.

Wassalamu 'alaikum wrwb.

-- Agung Cahyadi, MA