Durhaka Dan Perwalian

Pernikahan & Keluarga, 25 Juli 2008

Pertanyaan:

Saya seorang wanita, 26 tahun, masih single. Saya adalah putri tunggal dari orang tua saya. Saat ini saya sedang dekat dengan duda beranak satu. Istrinya meninggal karena sakit jadi cerainya adalah cerai mati. Putrinya berumur 4 th, dan diapun sudah dekat dengan saya. Saya sangat paham dan mengerti tentang kepribadian duda tersebut. Akhlak dan agamalah yang membuat saya tertarik padanya. Tetapi sayangnya orang tua dan semua saudara-saudara saya tidak ada yang setuju jika saya menikah dengan duda tersebut. Alasan utama ketidaksetujuan mereka adalah tentang status duda yang disandang, serta banyak lagi alasan-alasan lain yang membuat sikap ketidaksetujuan orang tua saya, yang kesemuanya adalah alasan duniawi. Sampaisampai orang tua dan keluarga saya menuduh bahwa duda tsb telah mengguna-guna saya agar mencintainya.

Saya sangat menyayangkan sikap dan pandangan orang tua saya yang melenceng dari tuntunan agama Islam. Padahal menurut saya bukan masalah status seorang pria /calon suami, yang paling penting adalah akhlak dan agamanya serta bisa membimbing dan menjadi imam seorang istri. Saya merasa banyak dibimbing dan dituntun agama dan akhlak saya oleh duda tsb. Saya merasa menemukan kedamaian dan kenyamanan dengannya. Sementara orang tua saya memaksa saya agar menikah dengan mantan pacar saya yang pernah dekat dengan saya selama sekitar 8 tahun, yang dalam pandangan dan penilaian saya, pilihan orang tua saya tsb tidak bisa menjadi imam saya dalam rumah tangga kelak.

Pertanyaan saya : 1). Apakah saya termasuk anak durhaka karena saya menentang perintah orang tua saya yang dalam pandangan saya tentang perintah tsb melenceng dari tuntunan Islam? 2). Apakah bisa jika saya menikah tanpa persetujuan / perwalian orang tua / keluarga saya? Bagaimana caranya?



-- Wati (Surabaya)

Jawaban:

Assalamu 'alaikum wr wb.

Mbak Aminah yang dirahmati Allah, tujuan pernikahan dalam Islam ialah untuk mencari kedamaian, bukan hanya kedamaian antara suami dan istri, tetapi juga kedamaian dalam keluarga besar ; suami, istri, kedua orang tua dan kerabat yang lainnya. Bagaimana anda akan merasakan damai hidup dengan suami, sementara orang tua dan saudara-saudara anda tidak pernah menyetujui hubungan kalian ?! Bahkan kami khawatir kalau anda paksakan juga menikah dengan laki-laki tersebut, kedua orang tua dan saudara-saudara anda nantinya akan mengacuhkan anda atau mungkin bahkan akan mengisolir anda, dan tentu itu semua tidak pernah anda harapkan, karena dengan demikian berarti anda tidak akan pernah merasakan kedamaian tersebut.

Sebenarnya kami sangat merasa prihatin mendengar cerita anda, terutama yang anda katakan, bahwa anda merasa menemukan kedamaian dan kenyamanan dengan seorang laki-laki yang bukan muhrim anda, artinya sampai sejauhmana hubungan anda dengannya padahal dia adalah orang lain yang menurut Islam mestinya tidak boleh terlalu dekat dengan seorang wanita yang bukan muhrimnya.

Atau mungkin, sebab tidak setujunya keluarga anda tersebut, disebabkan karena mereka melihat sudah terlalu jauhnya hubungan laki-laki tersebut dengan anda, yang semestinya itu tidak dilakukan oleh seorang yang baik agamanya dan akhlaqnya?

Untuk itu, sebaiknya yang seyogyanya segera anda lakukan ialah memutuskan hubungan sementara dengan laki-laki tersebut, dan anda bangun komunikasi yang baik dengan semua keluarga anda terutama dengan orang tua untuk mencari solusi terbaik dengan cara bermusyawaroh bersama, sebab sebagai seorang wanita, sahnya pernihakan anda sangat tergantung pada wali anda.

Semoga Allah senantiasa berkenan untuk membimbing kita semua ke jalan yang diridhoi-Nya. Wallahu a'lam bishowwab. Wassalamu 'alaikum wr wb.



-- Agung Cahyadi, MA