Haji

Haji & Umrah, 31 Mei 2012

Pertanyaan:

bagaimana tata cara haji yang sesuai tuntunan nabi dan sahabat

-- Agung Sidikwi Yono (Jakarta Timur )

Jawaban:

PELAKSANAAN ‘IBADAH HAJI TAHAP DEMI TAHAP :

 

Dan oleh karena kita dari Indonesia dan tidak mungkin membawa hadyu, maka kita disunnahkan untuk ber-haji dengan cara tamattu’ dengan cara sebagai berikut :

 

IHROM DAN THAWAF  :

Ø  Ber-Ihromlah dari miqot dengan mengucapkan niat yang sesuai dengan cara berhaji yang dipilih/ لبيك اللهم عمرة  ( disunnahkan untuk dilakukan setelah mandi, memotong kuku, memakai wewangian bagi laki-laki dan setelah sholat ), kemudian bacalah talbiyah ( disunnahkan untuk dikeraskan bagi laki-laki ) hingga sampai di Makkah, adapun bacaan talbiyah adalah sebagai berikut :

    لبيك اللهم لبيك  لبيك لا شريك لك لبيك  ان الحمد و النعمة لك و الملك  لا شريك لك  aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian dan ni’mat adalah kepunyaan-Mu demikian juga kerajaan                                       

Ø  Setelah istirahat secukupnya di pemondokan, berangkatlah menuju al Masjid al Haram untuk melaksanakan thawaf dan sa’i

Ø  Masuklah masjid dengan mendahulukan kaki kanan dengan membaca do’a masuk masjid, diantara do’a yang sunnah untuk dibaca adalah sebagai berkut :

 

اللهم  صل  و سلم علي محمد  و علي آل محمد  اللهم افتح لي أبواب رحمتك                  

      Ya Allah, berilah rahmat atas Muhammad dan keluarga Muhammad. Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untukku

Ø  Thowaflah ( putarilah ) Ka’bah 7 kali putaran, dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir di Hajar Aswad   

 

Keterangan :

-    Bagi yang rombongannya langsung menuju Makkah, maka miqotnya di Qarnul Manazil, kurang lebih satu jam sebelum mendarat di bandara King Abdul Aziz. ( untuk itu hendaknya  bersiap-siap untuk berpakaian ihrom lebih dahulu )

Namun bagi yang rombongannya menuju Madinah terlebih dahulu, maka miqotnya di Dzul Halifah / Biir Ali ( untuk itu tidak perlu untuk berpakaian ihrom di atas pesawat )

-    Pakailah kain Ihrom dengan cara Idhtiba’ ( bagi laki-laki ) untuk 3 putaran pertama, dan berjalanlah dengan cara cepat ( bagi laki-laki ) pada 3 putaran tersebut

-    Mulailah thawaf dari Hajar Aswad dengan mengucapkan takbir ( بسم الله  الله أكبر ) dengan mencium Hajar Aswad bila memungkinkan, dan bila tidak mungkin berilah isyarat dengan tangan kanan dari kejauhan, kemudian berjalanlah dengan membaca do’a yang sesuai dengan yang diinginkan

-    Pada setiap kali sampai di rukun Yamani, sentuhlah rukun tersebut  bila mungkin dengan tanpa menciumnya , dan bila tidak mungkin teruskanlah thawaf dengan tanpa memberikan isyarat kepadanya

Ø  dibelakang Maqom Ibrohim bila memungkinkan, dan bila tidak memungkinkan, sholatlah dimana saja dalam masjid

Dan untuk shoalat sunnah thawaf, disunnahkan untuk membaca surat “ Al Kafiruun “ pada roka’at pertama setelah Al- Fatihah, dan surat “ Al-Ikhlash “ pada roka’at kedua “ setelah Al-Fatihah

      Selesai mengerjakan shalat, minumlah air zamzam dengan membaca basmalah lalu membacadoa :

      اللهم اني أسألك علما نافعا  و رزقا واسعا  و شفاء من كل داء

            Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang lapang dan kesembuhan dari segala penyakit

 

Catatan :

-          Jeddah bukanlah miqot, untuk itu ber-Ihromlah diatas pesawat ketika sampai miqot atau yang sejajar dengannya ( bagi yang langsung menuju Makkah )

-          Janganlah masuk melewati Hijir Ismail ketika thawaf, karena sebagian Hijir Ismail adalah bagian Ka’bah

-          Janganlah memaksakan diri untuk mencium Hajar Aswad dengan berdesak-desakan, karena mencium Hajar Aswad hukumnya sunnah, sementara menyakiti orang lain ( karena mendesaknya ) hukumnya  haram

-          Janganlah memaksakan diri untuk sholat thawaf di belakang maqom Ibrahim, karena bisa jadi akan mengganggu jalan thawafnya jama’ah dan karenanya bisa merusak kekhusu’an sholat anda

 

SA’I DAN TAHALLUL :

 

Setelah menyelesaikan thawaf, pergilah menuju bukit Shafa untuk melaksanakan Sa’i      ( antara bukit Shafa dan Marwah ) sebanyak 7 kali putaran :

Ø  Ketika mendekati bukit Shafa, bacalah firman Allah dari surat 2 ayat 158 sebagai berikut :

ان الصفا و المروة من شعائر الله فمن حج البيت أو اعتمر فلا جناح عليه أن يطوف بهما     و من تطوع خيرا فان الله شاكر عليم                                                    

Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar Allah, maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-umroh, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya, dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui

Ø  Naiklah kebukit Shafa dan menghadaplah kearah Ka’bah dan bacalah dzikir sebagai berikut ( sebaiknya diulang 3 kali ) dengan mengangkat kedua tangan :

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر                                                                                   

لا اله الا الله وحده لا شريك له  له الملك و له الحمد وهو علي كل شئ قدير  لا اله الا الله وحده صدق وعده و نصر عبده و أعز جنده و هزم الأحزاب وحده

     Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada tuhan selain Allah sendiri, tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Ia berkuasa atas segala sesuatu, tiada tuhan selain Allah sendiri, Ia lestarikan janji-Nya, dan Ia tolong hamba-Nya, dan Ia muliakan tentara-Nya  dan Ia hancurkan sendiri tentara-tentara musuh

Ø  Turunlah dari bukit Shafa menuju ke bukit Marwah dengan berjalan kaki biasa dan berdo’alah sesuai yang dikehendaki, dan berlarilah kecil ( bagi laki-laki ) ketika sampai ditanda hijau hingga tanda hijau berikutnya

Ø  Sesampainya dibukit Marwah, menghadaplah ke Ka’bah dan bacalah dzikir sebagaimana yang anda baca dibukit Shafa dengan tanpa membaca ayat al Qur’an yang anda baca dibukit Shafa

Ø  Berjalanlan menuju bukit Shafa, hingga bila sampai ditanda hijau berlarilah kecil ( bagi laki-laki ) sampai tanda hijau berikutnya, lalu berjalanlah biasa hingga sampai dibukit Shafa, dan lakukanlah ketika sampai dibukit Shafa sebagaimana yang anda lakukan ketika memulai Sa’i ( dengan membaca Ayat Al Qur’an dan dzikir )

Ø  Lakukanlah hal tersebut sampai selasainya sa’i ( 7 putaran, dimulai dari bukit Shafa dan berakhir dibukit Marwah )

Ø  Setelah selesai melaksanakan sa’i, bertahalullah dengan memotong rambut anda/ dilakukan oleh orang yang tidak sedang ber-ihrom, ( untuk yang berhaji tamattu’ saja ) dan dengan demikian halallah bagi anda seluruh larangan ihrom

Ø  ( Adapun yang haji Ifrod dan Qiron, anda tetap wajib dalam keadaan ihrom hingga melempar jumroh ‘Aqobah tanggal 10 Dzul Hijjah nanti )

 

Catatan :

-          Disunnahkan bagi laki-laki dalam bertahallul untuk menggundul rambutnya

-          Tidak disunnahkan pada saat berdo’a dibukit Shafa atau Marwah untuk memberi isyarat dengan tangan kearah Kiblat

-          Tidak disunnahkan bagi wanita untuk berlari-lari kecil diantara dua tanda hijau

 

 

 

TANGGAL 8 DZUL HIJAH :

Hari ini disebut dengan hari Tarwiyah

Ø  Karena berhaji Tamattu’, maka ber-Ihromlah dari tempat tinggal anda pada waktu dhuha setelah melakukan sunnah-sunnah ihrom, ( adapun yang berhaji Ifrod dan Qiron  tentunya masih dalam keadaan ihrom, untuk itu tidak perlu ber-Ihrom/niat lagi ), kemudian perbanyaklah untuk membaca talbiyah

Ø  Berangkatlah menuju Mina ( bila memungkinkan ) sebelum dhuhur, dan shalatlah dhuhur, ashar, maghrib dan isyak di Mina diwaktunya masing-masing dengan meng-qoshar shalat-sholat 4 roka’at tanpa dijama’

Ø  Menginaplah malam 9 Dzul Hijah di Mina dan shalatlah shubuh di Mina

Ø  Berangkatlah menuju ‘Arofah setelah terbitnya matahari dengan memperbanyak membaca talbiyah dan dzikir lain yang anda kehendaki

 

Catatan :

-          Bila tidak memungkinkan untuk ke Mina tanggal 8 Dzul Hijjah dan menginap malam 9 Dzul Hijjah, maka bisa langsung menuju ke ‘Arofah

 

TANGGAL 9 DZUL HIJJAH :

 

Hari ini disebut dengan hari ‘Arofah, karena pada saat itu adalah waktu pelaksanaan salah satu rukun haji yaitu wuquf dipadang ‘Arofah

 

Disunnahkan bagi jama’ah haji pada hari tersebut untuk menju Namiroh sebelum waktu dhuhur ( bila memungkinkan ), dan setelah masuk waktu dhuhur disunnahkan bagi Imam untuk berkhutbah memberikan mau’idhoh, kemudian shalat dhuhur dan ashar dengan qoshar dan jama’ taqdim dengan tidak melaksanakan shalat qobliyah atau ba’diyah, ( dan apabila rangkaian ibadah tersebut tidak memungkinkan untuk dilaksanakan di Namiroh, maka bisa dilaksanakan di ‘Arofah )

Dan disunnahkan bagi jama’ah haji ketika melaksanakan wuquf untuk memperbanyak ibadah berupa do’a, istighfar, dzikir, membaca al Qur’an dan yang lainnya

Diantara do’a yang dibaca Rasulullah saw ketika wuquf di Arofah :

لا اله الا الله وحده لا شريك له  له الملك  و له الحمد  و هو علي كل شيء قدير                    

 Tiada tuahan selain Allah sendiri, tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian dan Ia berkuasa atas segala sesuatu

 

Catatan :

Ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh sebagian jama’ah, antara lain :

-          Berdiam diluar batas ‘Arofah kemudian berangkat ke Muzdalifah dari tempatnya

-          Keluar dari ‘Arofah menuju Muzdalifah sebelum masuk waktu maghrib

-          Berdesak-desakan naik ke jabal Nur

-          Menghadap jabal Nur ketika berdo’a

 

 

DI MUZDALIFAH :

 

Setelah sampai di Muzdalifah, disunnahkan untuk segera shalat Maghrib dan Isyak dengan jamak dan qoshor dengan satu adzan dan dua iqomah, kemudian memperbanyak membaca talbiyah dan dzikir sesuai yang diinginkan

Dan seyogyanya menginap di Muzdalifah hingga melaksanakan shalat shubuh, tetapi bagi yang mempunyai udzur syar’i diperkenankan untuk meninggalkan Muzdalifah menuju Mina setelah lewat tengah malam

Dalam perjalanan menuju Mina tetap disunnahkan membaca talbiyah dan disunnahkan mengambil 7 butir kerikil di Muzdalifah yang akan dipakai untuk melempar jumroh ‘Aqobah tanggal 10 Dzul Hijjah, adapun kerikil lainnya yang akan dipergunakan untuk melempar jumroh tanggal 11 Dzul Hijjah dan selanjutnya dapat diambil di Mina

 

Catatan :

Beberapa kesalahan yang banyak terjadi di Muzdalifah :

-          Sibuk mengambil kerikil sesampainya di Muzdalifah sebelum shalat Maghrib dan Isyak

-          Beranggapan bahwa kerikil untuk melempar jumroh harus diambil di Muzdalifah

-          Mencuci kerikil

 

TANGGAL 10 DZUL HIJJAH :

 

 Hari ini disebut dengan hari Nahr dan Hari Raya ‘Iedul Adha

 Sesudah sampai di Mina, amalan yang pertama kali disunnahkan untuk segera dilaksanakan ialah melontar jumroh ‘Aqobah ( dengan 7 kerikil satu persatu dengan membaca takbir setiapkali melempar ), dan segera setelah itu untuk melakukan amalan-amalan berikut :

-          Memulai membaca takbir ‘ied

-          Tahallul dengan memotong rambut/ dilakukan oleh yang tidak sedang dalam keadaan ihrom ( dengan demikian halallah seluruh larangan ihrom kecuali behubungan suami istri )

-          Menyembelih al Hadyu bagi yang berhaji Tamattu’ atau Qiron

Catatan :

Ada beberapa kesalahan yang sering terjadi ketika jumroh :

-          Meyakini bahwa yang dilempar adalah syetan, sehingga melemparnya dengan marah

-          Melempar jumroh dengan batu besar atau dengan kayu atau sepatu atau dengan yang lainnya selain kerikil

-          Melempar tujuh kerikil sekaligus, padahal semestinya kerikil dilemparkan satu persatu dan harus tepat sasaran dengan membaca takbir setiap kali melempar

-          Bagi yang berhaji Tamattu’ atau Qiron dan ingin menyembelih al Hadyu,

Janganlah tergiur dengan harga kambing yang murah, kecuali setelah anda pastikan kelayakan kambing tersebut dan disembelih pada waktunya  (tanggal 10 Dzul Hijjah sesudah lempar jumroh Aqobah atau pada hari-hari tasyriq)

 

THOWAF IFADHAH :

 

Setelah melempar jumroh ‘Aqobah pada hari Nahr, diperkenankan untuk melaksanakan thowaf Ifadhah dengan 7 kali putaran kemudian Sa’i ( bagi yang berhaji Tamattu’ ), adapun yang behaji Ifrod atau Qiron tidak perlu Sa’i apabila sudah sa’i ketika melakukan thawaf Qudum dahulu ( dengan terlaksanakannya thawaf Ifadhoh, maka halallah seluruh larangan Ihrom termasuk berhubungan suami istri ), setelah selesai melaksanakan thawaf Ifadhah, maka diharuskan segera kembali ke Mina sebelum maghrib untuk mabit



-- Agung Cahyadi, MA