Kapan Berkurban?

Makanan & Sembelihan, 20 Februari 2008

Pertanyaan:

Ustadz, sebentar lagi kan Idul Adha. Yang saya tahu, saat Idul Adha kita diperintahkan untuk berkurban. Tapi saya masih bingung, seperti apa sih ukuran kemampuan seseorang sehingga yang bersangkutan sudah diperintahkan berkurban? Dan sebenarnya berkurban itu hukumnya wajib ataukah sekadar sunnah? Mohon penjelasannya. Terima kasih.

-- Abdul Fattah (Surabaya)

Jawaban:

Seluruh ulama bersepakat bahwa berkurban hanya diperintahkan kepada seorang muslim, baligh, berakal dan  mampu, dengan sedikit perbedaan pendapat  diantara mereka dalam menafsirkan makna "mampu" tersebut sebagai berikut.
Para ulama Hanafiyyah (pengikut madzhab Imam  Abu Hanifah) mengatakan bahwa seseorang dikatakan mampu jika ia telah memiliki harta 200 dirham atau senilai 595 gram perak sesuai dengan nishab zakat perak, dan harta tersebut adalah harta yang lebih dari kebutuhan pokok  (yakni kebutuhannya dan kebutuhan mereka yang dibawah tanggung jawabnya).
Para ulama Malikiyah (pengikut madzhab Imam Malik) & Hanabilah (pengikut madzhab Imam Ahmad) mengatakan bahwa seseorang disebut mampu jika ia telah memiliki harta senilai harga hewan kurban, meskipun harta tersebut diperolehnya dengan cara berhutang, jika ia berkeyakinan mampu untuk mengembalikannya, dengan catatan apabila kebutuhan pokoknya dan kebutuhan pokok mereka yang bawah tanggung jawabnya telah tercukupi.
Sementara para ulama Syafi'iyyah (pengikut madzhab Imam Syafi'i) mengatakan bahwa seseorang disebut mampu jika ia telah memiliki kelebihan harta - dari yang dibutuhkannya dan yang dibutuhkan oleh mereka yang dibawah tanggung jawabnya - untuk Hari Raya Adha dan hari-hari tasyriq.
Adapun tentang hukum berkurban, menurut mayoritas ulama hukumnya adalah "sunnah  muakkadah" (sunnah yang sangat ditekankan) kecuali menurut Hanafiyah (yang mengatakan bahwa hukumnya wajib bagi yang mukim dan sunnah bagi musafir).


-- Agung Cahyadi, MA