Waris Dibagi Tidak Sesuai Syariat Islam

Waris, 3 Januari 2014

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum wr.wb.
Ustadz yang terhormat, ketika ayah kami meninggal dunia tidak lama kemudian waris dibagi sebagai berikut; 1/8 untuk ibu dan 7/8 dibagi rata (8 bersaudara 2 laki 6 perempuan) keputusan ini ditetapkan atas perintah ibu. Sebelum ibu meninggal beramanat agar bagian ibu untuk membangun mushola. Amanat ibu telah kami laksanakan membangun mushola. Namun setelah keputusan itu dan bahkan setelah ibu meninggal, warisan belum sempat dibagi kepada masing masing ahli waris karena sebidang tanah warisan belum laku terjual.
Kemudian saya membaca artikel di internet yang menyatakan pembagian warisan secara sama rata antara anak laki-laki dan perempuan adalah keliru, dan ancaman dalam al Qur'an begitu besar.
Pertanyaan saya :
1. Bagaimana sebaiknya,apakah kami tetap menggunakan keputusan yang ditetapkan oleh almarhumah ibu atau harus diperbaiki sesuai al Qur'an?
2. JIka kami mengubah keputusan itu untuk kembali ke al Qur'an apakah saya menjadi anak yang durhaka kepada orangtua ? Apakah saya juga termasuk orang munafik?.Kata orang ridho Alloh tergantung ridho orang tua.
3. KEtika pembagian itu saya sudah memperingatkan kepada ibu untuk membagi secara syariat Islam tapi saran saya tidak disetujui. Saya sangat takut akibat keputusan itu ibu saya diancam kekal di neraka. Apakah benar ancamannya demikian berat?
Terima kasih
Wassalamu'alaikum wr wb.

-- Suheri (Purbalingga)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Hukum Waris adalah hukum yang secara jelas dan rinci telah dijelaskan dalam al Qur'an (QS. 4:-14), yang karenanya tidak ada pilihan bagi seorang muslim kecuali wajib untuk mengikutinya, karena ancama Allah bagi yang melanggar aturan tersebut sangat amat keras, yaitu kekeal di neraka dan adzab yang menghinakan ( QS.4:14)

Berdasar hal tersebut diatas, maka akan lebih aman kalau keputusan yang telah disepakati keluarga dalam pembagian waris tersebut ditinjau ulang untuk dimusyawarahkan bersama untuk kemudian disetujui mengikuti hukum Allah sebagai konskwensi kita sebagai hamba-Nya

Adapun wasiat atau amanat dari orang tua, apabila bertentangan dengan hukum Allah, maka haram untuk dilaksanakan, karena hukum Allah memang harus lebih didahulukan, Dan dengan melaksanakan hukum Allah tersebut, maka tidak berarti durhaka kepada orang tua, bahkan -sebaliknya- dengan itu, berarti kita telah berusaha untuk menyelamatkan orang tua dari ancaman Allah terhapan pelanggaran aturan-Nya

Dan perihal amanat ibu agar hartanya semua dipergunakan untuk membangun mushalla setelah wafatnya, itu juga bertentangan dengan sunnah Rasulullah saw, karena wasiat itu ada batas maksimalnya, yaitu hanya 1/3 dari harta peninggalannya, oleh karenanya yang 2/3 yang semestinya merupakan harta waris bagi anak-anaknya, dimusyawarahkan saja untuk disepakati bersama sebagai shadaqoh

Demikian, semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.

-- Agung Cahyadi, MA