Takdir Dan Ketetapan Tuhan

Lain-lain, 8 September 2016

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustad/ustadzah

baik saya ada sedikit kebimbangan atau mungkin sedikit bingung dengan materi tentang agama islam mengenai takdir atau ketentuan Allah swt. entah informasi yang saya terima itu hanya setengahnya atau saya yang salah kaprah mengartikan informasi yang saya terima. jadi begini ustad/ustadzah, sering saya dengar baik pada acara ceramah di tv atau tempat pengajian, sering para ustad itu bilang kalo semua yang terjadi di dunia ini telah diatur sama Allah swt. semua kejadian, peristiwa, semuanya itu telah diatur oleh Allah swt dalam lauhul mahfudz. Bahkan Neraka dan Surga pun telah ditetapkan bagi setiap manusia oleh Allah swt. Lalu kalo emang semuanya telah ditetapkan terus kenapa kita masih harus ngotot berusaha mau mengubah ketetapannya.
misal gini, si Fuan ini ditetapkan masuk Neraka. terus mau diapain lagi coba? toh udah ditetapkan. kalo si Fuan ditetapkan masuk Neraka pasti sikap, perilaku dan pola pikir si Fuan bisa dipastikan jelek ketika hidup di dunia, ya gak? gak mungkin dong sikap dan perilaku serta imannya bagus tapi masuk neraka. nah terus yang nentuin sikap, perilaku, dan pola pikir manusia siapa? ya tentu Allah swt dong. Nah pasti orang pada bilang, ya pasti manusianya itu sendiri dong, toh manusia bisa dikaruniai otak untuk berfikir untuk kemudian digunakan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk untuk dilakukan. Iya benar, tapi kemudian yang kasih tuh otak siapa? Tuhan kan? kemampuan otak setiap manusia sama gak? gak dong. setiap manusia memiliki kemampuan berfikir yang berbeda-beda yang mana dapat menentukan atau menghasilkan hasil pola pikir yang berbeda-beda pula. Apalagi kalo misalkan seorang manusia dilahirkan ditempat yang penuh kriminal, dilahirkan di bawah naungan keluarga kriminal. Justru tambah besar kemungkinan dia berperilaku buruk. Yang nentuin dia lahir dilingkungan seperti itu siapa? Tuhan dong. Jadi Tuhan memang sudah menentukan bagaimana sikap, perilaku, pola pikir dan iman seseorang saat hidup di dunia sehingga nantinya sesuai dengan ketetapan Tuhan atas setiap manusia di akhirat, apakah manusia itu akan masuk surga atau neraka.
Kemudian masih bersangkut dengan ketetapan Allah swt. Katanya jodoh setiap manusia itu telah ditetapkan Allah swt di lauhul mahfudz. Tapi kemudian di bilang dalam Alquran kalo laki2 yang baik hanya untuk perempuan yang baik begitu pun sebaliknya. Berati emang udah bener dong. Jodoh telah diatur dalam lauhul mahfudz, misal si A akan berjodoh dengan si B. nah pada saat di dunia si A dan si B ini akan ditetapkan sama2 buruk atau mungkin sama2 buruk. Jadi pas ya nggak.
Nah terus tadz. Kalo emang semuanya udah diatur sama Allah swt. Dari awal hidup sampai akhir hidup manusia, ambil contoh buruknya tuh manusia sudah ditetapkan akan masuk neraka. Kok Allah akan marah pada manusia itu? Kan yang nentuin manusia itu masuk neraka Allah sendiri, kok Allah malah murka kepada manusia itu. Misal si Fuan ditetapkan masuk neraka dan pasti sikap, perilaku dan pola pikirnya jelek seperti yang saya bilang tadi. Terus Allah murka dengan perilaku si Fuan di dunia. Kira2 ini gimana tadz? Mohon penjelasannya tadz


-- Tatang (Jakarta)

Jawaban:

Wswrwb
Saudaraku Tatang yang dirahmati ALLAH SWT.


Sesungguhnya tentang surga ataupun neraka merupakan hal yang wajib kaum muslimin untuk yakini dan imani. Sekaligus membuat sebagian kaum muslimin muncul banyaknya pertanyaan dan banyaknya orang yang masih kabur dalam memahami masalah ini serta banyaknya orang yang membicarakanya, yang kadangkala benar tetapi seringkali salah, di samping itu tersebarnya pemahaman–pemahaman yang keliru ketika berbicara tentang masalah ini.

Pada prinsipnya sebagian kaum muslimin mengetahui bahwa setiap anak Adam, telah ditentukan oleh Allah, tempatnya kelak di Surga atau Neraka jauh sebelum mereka dilahirkan,

Sebagaimana dijelaskan Hadits dari Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang membawa tongkat sambil digores-goreskan ke tanah seraya bersabda,

‘Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di neraka atau pun surga.’ (HR. Bukhari dan Muslim).

Betapa lemahnya akal ini ketika membaca hadits ini, muncul beberapa pemikiran yang keliru sehingga timbul pertanyaan “Kalau begitu buat apa kita beramal, kalau surga neraka sudah ditetapkan?"atau semisalnya.

ketika mendengar hadits yang dikeluarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, Para Sahabat muncul pertanyaan dan langsung ditujukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendapatkan penjelasan.

Maka para sahabat bertanya, ‘”Wahai Rasulullah, kalau begitu apakah kami tinggalkan amal shalih dan bersandar dengan apa yang telah dituliskan untuk kami (ittikal)?”‘ (maksudnya pasrah saja tidak melakukan suatu usaha – pen)


lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan bersabda:

اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ .ثُمَّ قَرَأَ ( فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى ). الآية

Beramallah kalian! Sebab semuanya telah dimudahkan terhadap apa yang diciptakan untuknya. Adapun orang-orang yang bahagia, maka mereka akan mudah untuk mengamalkan amalan yang menyebabkan menjadi orang bahagia. Dan mereka yang celaka, akan mudah mengamalkan amalan yang menyebabkannya menjadi orang yang celaka” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah, “Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (HR. Bukhari, kitab at-Tafsir dan Muslim, kitab al-Qadar)

Pada kesempatan lain Umar Bin Khaththab Radiyallahu'anhu bertanya langsung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab

وسأله عمر هل نعمل في شئ نستأنفه ام في شئ قد فرغ منه قال بل في شئ قد فرغ منه قال ففيم العمل قال يا عمر لا يدرك ذلك إلا بالعمل قال إذا نجتهد يا رسول الله

Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
Umar : Apakah amal yang kita lakukan itu kita sendiri yang memulai (belum ditakdirkan) ataukah amal yang sudah selesai ditentukan takdirnya?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Bahkan amal itu telah selesai ditentukan taqdirnya.”
Umar: Jika demikian, untuk apa amal?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Umar, orang tidak tahu hal itu, kecuali setelah beramal.”
Umar: Jika demikian, kami akan bersungguh-sungguh, wahai Rasulullah!
(Riwayat ini disebutkan oleh al-Bazzar dalam Musnadnya no. 168 dan Penulis Kanzul Ummal, no. 1583).


Betapa banyak pemikiran-pemikiran keliru yang menyandarkan akan taqdir yang Allah tetapkan dengan mengingkari usaha yang seharusnya dilakukan. Sesungguhnya ketika manusia dihadapkan terhadap suatu pilihan antara ketaatan dan penyimpangan, apapun yang dipilih manusia yang terjadi berdasarkan Taqdir yang Allah tetapkan

Yang paling prinsip harus diyakini adalah: ALLAH tidak pernah menzolimihambaNYA termasuk melalui takdirnya. Adapun ALLAH menentukan Syurga dan Neraka seseorang bukan sewenang-wenang, tetapi ALLAH sudah tahu apa yang akan terjadi dariusaha manusia sendiri. lihat Surat: Fushshilat:46

Jelas sekali ALLAH itu melihat USAHA hambaNYA .maka kwajiban kita adalah BERUSAHA dan itu yang ALLAH nilai

WaLLAHU a'lam

-- Selamet Junaidi