Zakat Profesi

Zakat, 2 Desember 2008

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum wr. wb.
Ustadz yang dirahmati Allah, saya ingin menanyakan beberapa hal :
1. Bagaimana dasar ditetapkannya zakat profesi? Ada yang mengatakan Ustadz Yusuf Qardhawi mendasarkannya pada perbuatan Umar bin Abdul Azis yang mengambil zakat dari gaji yang dibayarkan pada pegawai. Apa benar begitu, Ustadz?
2. Bagaimana cara mengeluarkan zakat profesi, apakah harus menunggu setahun atau pada saat memperoleh langsung dikeluarkan?
Mohon jawabannya, Ustadz. Jazakumullah.

-- Nur Dani (Jayapura)

Jawaban:

Wa'alaikumussalam wr wb.

1. Harta yang terkena wajib zakat pada masa Rasulullah saw sangat sedikit dan terbatas, hal itu disebabkan karena harta yang merupakan sumber penghasilan ummat pada masa itu memang sangat terbatas, tetapi ada beberapa dalil yang dipakai landasan oleh para ulama untuk menetapkan wajibnya zakat pada harta-harta tertentu, yang belum ditetapkan kewajibannya oleh Rasulullah saw, yang karenanya Umar bin Khatthab juga pernah menetapkan wajibnya zakat KUDA,- dan tidak ada satu shahabatpun yang mengingkarinya -, padahal pada masa Rasulullah saw belum ditetapkan kewajiban zakat tersebut. Diantara dalil tersebut ialah firman Allah dalam QS. 2 : 167, yaitu ayat yang memerintahkan kita untuk ber-infaq/zakat dari setiap penghasilan kita yang halal. Seyogyanya Anda merujuk pada kitab-kitab tentang zakat, seperti buku FIQH ZAKAT karya DR. Yusuf Al Qordhawi.

2.  Zakat Profesi termasuk jenis zakat yang belum ada contohnya pada Rasulullah saw, yang karenanya ada perbedaan pendapat diantara para ulama dalam menetapkan caranya.

 > Ada yang menganalogikannya ke emas, sehingga zakatnya dikeluarkan dari jumlah akumulasi gaji setahun, apabila gajinya mencapai nishab sebesar nishabnya emas yaitu 85 gram (zakat dikeluarkan setahun sekali).

 > Ada pula yang menganalogikannya ke pertanian, sehingga zakatnya wajib dikeluarkan setiap kali mendapatkan gaji, jika gajinya mencapai nishab hasil pertanian yaitu 5 watsaq atau senilai 653 kg beras (zakat dikeluarkan setiap kali mendapatkan gaji).

Karena ada perbedaan pendapat tersebut, maka bagi seseorang yang mau mengeluarkan zakat profesi, ia bisa memilih salah satu pendapat dari para ulama tersebut, dengan tidak menafikan pendapat yang lain.

Wallahu a'lam bishshawab.

Wassalamu 'alaikum wr. wb.

-- Agung Cahyadi, MA