Perselingkuhan

Aqidah, 14 April 2020

Pertanyaan:

Aslamualaikum, semoga kita semua di berikan kesehatan dan kelancaran rezeki, saya mau tanya utadz, saya telah terpisah /cerai 5 th dengan istri petama memiliki 3 anak, dan saya telah menikah lagi. setelah usia pernikahan saya dgn istri ke dua 5 thn dan tdk memiliki anak, sy teringat dengan mantan istri pertama saya dan telah menjalin kasih kembali, dan ingin kembali kpd istri pertama sy krn saya merasa kasihan mengurus 3 anak yg usianya masih 10 thn masih butuh kasih syg org tua, namun istri kedua sy yg tdk memiliki anak mintak dicerai jika kembali ke istri pertama saya. saya bingun ya ustadz, krn sy mencintai istri kedua dan syg juga dgn istri pertama, walaupun mantan istri pertama saya dulu dia telah membohongi saya, namun sy sdh memaafkan dan ingin kembali ustadz, apakah saya berdosa ustadz mempermainkan  istri ke dua saya yg sah saat ini, demi menyelamatkan mantan istri saya agar tdk di sebut janda lagi dan menyelamatkan anak2 saya agar ada ayahnya lagi, sementara istri kedua saya tdk punya anak tdk setuju jika sya kembali lagi, sy bingung ustadz manakah yg harus saya dahulukan .sementara mantan istri pertama saya keras kepala tidak mau anaknya sya bawak, dan dia juga mau kembali kepada saya, seolah2 sy harus mengalah kembali kepada istri pertama sy,semoga ada pencerahan..terimakasih



-- Hendri (Batam)

Jawaban:

Wa'alaikumussalam wr.wb.

Yang jelas, tindakan berselingkuh dengan siapapun, baik dengan mantan istri, mamtan pacar maupun yang yang lainnya, adalah dosa besar di dalam hukum agama, pengkhianatan terhadap pasangan yang sah dan sekaligus penistaan serta perendahan terhadap diri sendiri.

Lalu solusinya bagaimana? Secara berurut mungkin bisa seperti ini:

Pertama, jika memang benar-benar mampu utamanya mampu menjamin tidak akan terjadi dampak buruk yang lebih besar lagi, ya silakan sahkan saja lagi hubungan dengan mantan istri pertama dengan tetap mempertahankan istri kedua. Berarti ya dengan berpoligami. Tapi ya itu tadi, syarat mutlaknya, Anda harus benar-benar mampu dan yakin bisa menjamin bahwa, opsi itu tidak justru menimbulkan masalah yang lebih besar lagi. Dimana jika tidak mampu memberikan jaminan tersebut, ya berarti tidak bisa mengambil opsi dan solusi pertama ini!

Kedua, dengan tetap mempertahankan istri kedua yang merupakan istri sah saat ini, melupakan dan mengabaikan mantan istri pertama serta tidak menjalin hubungan khusus lagi dengannya, tapi di saat yang sama tetap memenuhi kewajiban dan tanggung jawab dalam memberikan nafkah yang cukup sesuai kemampuan untuk anak-anak dari istri pertama tersebut. Sekali lagi kami tegaskan bahwa, bagaimanapun sifat hubungan Anda dengan istri pertama, tapi kewajiban dan tanggung jawab penuh terkait pemenuhan kebutuhan nafkah yang cukup untuk anak-anak, tetap berada di pundak Anda sebagai ayah! Karena bagaimanapun dan sampai kapanpun, Anda tetaplah merupakan ayah mereka. Dan ayahlah penanggung jawab atas semua anak-anaknya khususnya dalam nafkah, termasuk yang jadi wali saat anak perempuan menikah, dan lain-lain.

Ketiga, jika opsi kedua itupun tidak juga bisa dilakukan, khususnya karena Anda tidak bisa memutuskan hubungan dan keterikatan khusus dengan mantan istri pertama, maka apa boleh buat, ya terpaksa harus beralih ke opsi solusi ketiga yang sangat tidak ideal ini. Yakni dengan terpaksa melepaskan istri kedua untuk kembali kepada istri pertama. Tentu dengan syarat bahwa, Anda memang telah benar-benar yakin bahwa, pilihan inilah yang lebih baik bagi Anda dan yang lain. Yang jelas secara kaidah normatif syar'i, ini adalah langkah yang lebih baik daripada Anda "harus terpaksa" berselingkuh dengan mantan istri pertama!

Demikian jawaban dari kami, semoga manfaat!



-- Ahmad Mudzoffar Jufri, MA