Hubungan Suami-Istri

Fiqih Muamalah, 19 Mei 2020

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuh.

Selamat sore Ustad. Saya ingin bertanya, ini mengenai hubungan pernikahan Paman (adiknya Ibu saya) dengan istrinya. Mereka sudah menikah 30 thn lebih. Memiliki 1 anak perempuan dan 1 anak laki-laki.

Paman saya seorang pensiunan pegawai pemerintah. Saat ini terlilit hutang. Semasa mudanya beliau suka sekali berfoya-foya dengan cara berjudi dan minum alcohol. Kebiasaan berhutang pun sudah dilakukan sejak dulu.

Istrinya, memiliki kebiasaan yang unik. Bicaranya keras, bisa terdengar dari 25m jauhnya (ini nyata). Beliau suka melebih-lebihkan informasi (lebih terkesan ke memanipulasi info), tidak bisa mengajak suaminya ke hal yang baik, tidak bisa mengurus rumah dan anak, egois, bermuka dua. Sebagai contoh, Paman pinjam uang 100jt dan si Istri memaksa 30jt harus jadi miliknya. Dan masih banyak hal lainnya yang membuat malu keluarga.

Saat ini, Paman kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari karena terlilit hutang. Dan sering sekali meminjam untuk menutupi segala kebutuhannya (untuk makan, atau bahkan untuk bayar hutang). Dan secara subjektif saya menilai itu adalah akibat dari kesalahannya sendiri. Padahal keluarga sudah menasihatinya sejak belasan tahun yang lalu, sehingga ini akibatnya.

Untuk istrinya juga sudah sering dinasihati, dan seringnya adalah melawan saat dinasihati. Selain tidak memenuhi tanggung jawab sebagai istri, beliau juga tidak memenuhi tanggung jawab sebagai ibu. Anak perempuannya tinggal bersama neneknya (dari ibu), anak laki-lakinya tidak diberi arahan sehingga kuliah tidak beres, lalu memilih tinggal di luar bersama temannya.

Di sini saya melihat peran orangtua sudah hilang. Pasangan tersebut tidak bisa saling membangun satu sama lain. Sampai bahkan merepotkan anggota keluarga yang lain (ibu saya atau kerabat saya yg lain).

Puncaknya adalah dua hari lalu, istri paman melaporkan paman ke kepolisian atas dugaan tindak percobaan pembunuhan. Dan jelas sekali itu dikarang-karang, karena 1 RW (rukun tetangga) sudah tahu adat istri paman tersebut.

Walau saya jengkel dengan paman saya, tapi saya merasa kasihan. Jadi saya mau bertanya:

1. Apakah boleh anggota keluarga menyarankan untuk terjadinya perceraian?

2. Bahkan setelah puluhan tahun hidup bersama dan dinasihati tidak ada perubahan. Apakah bila hidup bersama seperti itu, apakah sebaiknya bercerai saja?

3. Seberapa besarkah kemungkinan Paman saya bisa bertaubat bila akhirnya bercerai (meninggalkan sebagian keburukan)?

4. Hukum membantu keluarga yang kesulitan karena kebiasaan berjudi itu bagaimana?

Demikian pertanyaan saya, mohon sekiranya Ustad berkenan membantu saya dengan menjawabnya.

Wasalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 



-- Adi (Bandung)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Siapapun dari kita yang berkeluarga, tentu menghendaki kedamaian dalam kehidupan rumahtangganya, karena hanya dengan suasana damai sajalah, suami istri akan bisa membangun dan mengatur rumah tangganya dengan baik

Namun yang namanya problem dan masalah keluarga itu memang bisa terjadi dalam rumah tangga siapa saja, termasuk di keluarga anda tentunya, sebagaimana anda telah ceritakan, tetapi yakinlah bahwa anda tidak sendirian

Dan ketika terjadi masalah dalam keluarga yang bisa menyebabkan hilangnya suasana damai, mestinya harus segera diupayakan untuk diurai dengan berbagai cara, agar suasana damai bisa kembali bisa dirasakan bersama.

Upaya untuk mengurai masalah tersebut bisa dimulai dan in syaa Allah akan efektif, kalau ada kesiapan suami istri untuk membangun komunikasi yang baik, dengan masing2 menyampaikan masalah yang dirasakan, dilanjutkan dengan  saling memberikan masukan, memusyawarahkan masalah yang ada, dan bila diperlukan bisa menghadirkan fihak ketiga yang mempunya kompetensi untuk menjadi penengah

Dan karena itu, anda sebagai keponakan dan keluarga besar yang mengetahui problem keluarga paman tersebut, seyogyanya tidak membiarkan masalah berlarut larut tidak ada ujungnya, apalagi paman anda sudah tidak lagi muda, tapi segeralah komunikasikan hal tersebut dengan keluarga besar, ajaklah mereka duduk bersama dengan cara yang baik dan dengan bahasa yang lembah lembut, pilihlah waktu yang kondusif, sehingga suasana komunikasi bisa berjalan dengan baik, cair dan bahkan santai, Kemudian komunikasikan hasil musyawarah keluarga besar tadi kepada paman dan istrinya, ajaklah mereka duduk bersama untuk memusyawarahkan problem keluarga meraka dalam mencari solusi terbaik.

Kalau nanti hasilnya tidak sesuai dengan yang diinginkan, maka perceraian barangkali bisa menjadi alternatif terkahir, dalam rangka menghentikan madhorrot yaitu tidak damainya suasana rumah tangga yang bisa terjadi secara terus menerus, yang berpotensi akan menimbulkan banyak dosa, kalau tetap dipertahankan

Dan tentu, dengan berpisahnya paman dengan istrinya yang mempunyai karakter sebagaimana anda ceritakan, diharapkan beliau banyak berinteraksi dengan keluarga besarnya, sehingga bisa bertaubat kepada Allah dari segala khilafnya

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshaswaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA