Menghadapi Suami Yang Pilih Kasih

Fiqih Muamalah, 22 Mei 2020

Pertanyaan:

selamat malam ustadz/ustadzah,* saya ibu fina 36 tahun, saya seorang janda punya 2 anak terus saya menikah dengan duda 1 anak tapi anak angkat waktu dia nikah dl, anak angkat pereampuan itu anak keponakan nya, suami saya sangat sayang banget dengan anak itu, dan memanjakanya sehingga anak itu tidak tau pekerjaan rumah apapun semua pekerjaan rumah saya dan anak saya yang mengerjakan anak itu padahal sudah umur 16 tahun terus anak itu kalau di senggol sedikit aja suami saya marah. sampai suatu hari saya cari di google doa untuk memisahkan mereka tapi ketahuan suami saya dia marah besar bahkan mengajak pisah saya, sedangkan saya punya 2 anak dengan dia yang masih kecil2, jujur ustadz/ustadzah saya merasa seperti pembantu dirumah semua yang mengerjakan saya dan anak saya, dan suami saya kalau anak saya bikin salah sedikit aja di bentak kalau anak dia tidak., apa yang harus saya lakukan ustadz/ustadzah, saya benar2 bingung



-- Fina (Semarang)

Jawaban:

Assalaamu 'alaikum wrwb.

Siapapun dari kita yang berkeluarga, tentu menghendaki kedamaian dalam kehidupan rumahtangganya, karena hanya dengan suasana damai sajalah, suami istri akan bisa membangun dan mengatur rumah tangganya dengan baik

Namun yang namanya problem dan masalah keluarga itu memang bisa terjadi dalam rumah tangga siapa saja, termasuk di keluarga anda tentunya, sebagaimana anda telah ceritakan, tetapi yakinlah bahwa anda tidak sendirian

Dan ketika terjadi masalah dalam keluarga yang bisa menyebabkan hilangnya suasana damai, mestinya harus segera diupayakan untuk diurai dengan berbagai cara, agar suasana damai bisa kembali bisa dirasakan bersama.

Upaya untuk mengurai masalah tersebut bisa dimulai dan in syaa Allah akan efektif, kalau ada kesiapan suami istri untuk membangun komunikasi yang baik, dengan masing2 menyampaikan masalah yang dirasakan, dilanjutkan dengan  saling memberikan masukan, memusyawarahkan masalah yang ada, dan bila diperlukan bisa menghadirkan fihak ketiga yang mempunya kompetensi untuk menjadi penengah

Dan karena itu, seyogyanya anda tidak membiarkan masalah berlarut larut tidak ada ujungnya, apalagi permasalah anda tersebut bagian yang sangat mendasar dalam rumah tangga yaitu masalah hak dan kewajiban, untuk itu segeralah komunikasikan hal tersebut dengan suami anda, ajaklah duduk bersama dengan cara yang baik dan dengan bahasa yang lembah lembut, pilihlah waktu yang kondusif, sehingga suasana komunikasi bisa berjalan dengan baik, cair dan bahkan santai, Kemudian komunikasikan masalah anda kepada suami, kalau diperlukan hadirkan fihak ketiga yang kalian berdua yakini mempunyai kompetensi untuk menjadi penengah dalam mengurai problem yang sedang anda hadapi dalam upaya bersama mencari solusi terbaik.

Namun apabila upaya optimal telah anda lakukan, tetapi suami tetap dengan sikapnya, maka barangkali cerai bisa menjadi solusi terakhir yang bisa anda tempuh dalam rangka anda mendapatkan kedamaian

Demikian, semoga Allah berkenan untuk merubah sikap buruk dari suami, sehingga kehidupan keluarga anda berdua akan menjadi jauh lebih baik sebagaimana yang tentunya  anda harapkan 

Semoga Allah memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA