Suami Kaya Namun Tdk Nafkahi Makan Pakaian

Fiqih Muamalah, 26 Mei 2020

Pertanyaan:

kami menikah sudah 2 thn dan sejak pertama menikah saya tdk diberikan nafkah makan dan pakaian. padahal saya sangat membutuhkan. mengingat gaji saya tdk cukup karena saya membiayain anak dan orgtua dan jg cicil hutang2 saya. 

saya amatlah sedih karena pertama menikah saya pikir beliau dapat membantu saya bebas dr hutang atau membantu bulanan tuk nafkah wajib saya.namun setiap bulan saya hanya diberi untuk bayar kontrak bulanan saja. dimana kalo sewaktu2 beliau mengancam pisah dr saya, saat itu jg saya harus pindah dr rmh kontrakan bulanan tsb.

saya mencari tahu semua literatur namun jawaban tdk memuaskan dimana kita sebagai istri diminta mencuri atau mengambil harta suami tanpa sepengetahuannya.

hal ini tdk logis, sebab suami tdk beri nafkah karena dia kikir padahal ia sangat amat mampu. sebagaimana sifat org yg kikir akan selalu tahu brp uang di dompetnya di tasnya. jikalau istri diminta mencuri makan akan sirna kepercyaan suami dan timbul perceraian. mengapa kita diajarkan seperti itu yg menurut pandangn saya itu ajaran yg merugikan dan sesat

saya ingin meminta pendapat lain yng bukan anjuran mencuri. apakah bisa jika suami tdk memberi nafkah makan dan pakaian. kemudian saya berusaha mengeluarkan biaya ataupun hutang untuk keperluan makan dan pakaian saya.apakah bisa nanti di hari hisab dianggap sebagai hutang suami? jdi apa yg saya keluarkan untuk makan pakaian saya adalah sedekah saya atau hutang suami?

sekedar info. suami saya tdk memberi nafkah bukan karena ketidakmampuan. namun karena ke kikirannya. beliau sanggup donasi untuk pesantren ataupun bepergian dengan bisnis class flight. namun saya sebagai istri merasa tersiksa karena untuk makan saja saya harus hutang. karena saya sdh tdk sanggup meminta dan mendengarkn jawaban yg kasar.  hanya mendapat malu dan tangis. mohon pencerahan apakah nanti bisa dihitung hutang suami? tak apa saya supaya tenang karena ini bisa merupakan bekal saya di alam nanti



-- Rina (Jakarta)

Jawaban:

Assalaamu 'alaikum wrwb.

Siapapun dari kita yang berkeluarga, tentu menghendaki kedamaian dalam kehidupan rumahtangganya, karena hanya dengan suasana damai sajalah, suami istri akan bisa membangun dan mengatur rumah tangganya dengan baik

Namun yang namanya problem dan masalah keluarga itu memang bisa terjadi dalam rumah tangga siapa saja, termasuk di keluarga anda tentunya, sebagaimana anda telah ceritakan, tetapi yakinlah bahwa anda tidak sendirian

Dan ketika terjadi masalah dalam keluarga yang bisa menyebabkan hilangnya suasana damai, mestinya harus segera diupayakan untuk diurai dengan berbagai cara, agar suasana damai bisa kembali bisa dirasakan bersama.

Upaya untuk mengurai masalah tersebut bisa dimulai dan in syaa Allah akan efektif, kalau ada kesiapan suami istri untuk membangun komunikasi yang baik, dengan masing2 menyampaikan masalah yang dirasakan, dilanjutkan dengan  saling memberikan masukan, memusyawarahkan masalah yang ada, dan bila diperlukan bisa menghadirkan fihak ketiga yang mempunya kompetensi untuk menjadi penengah

Dan karena itu, seyogyanya anda tidak membiarkan masalah berlarut larut tidak ada ujungnya, apalagi permasalah anda tersebut bagian yang sangat mendasar dalam rumah tangga yaitu masalah hak dan kewajiban dan dalam waktu yang cukup lama yaitu sudah berjalan sejak anda menikah

Jadi dalam pandangan agama Islam, ketika seorang laki-laki itu menikahi seorang perempuan, pada hakekatnya ia telah mengambil amanah dari orang tua wanita tersebut, sehingga sejak akad nikah sudah dinyatakan sah, maka wanita yang sudah menjadi istrinya tersebut sudah berada dalam amanahnya/tanggungjawabnya, sehingga baik buruknya dan kedamaian seorang istri itu, baik secara dhohir dan batin berada dalam tanggung jawab suaminya, Dan ketika suami itu mengabaikan untuk melaksakan kewajibannya yang itu adalah hak istri, maka hal tersebut akan menjadi hutang suami yang tidak akan gugur hingga hari kiamat nanti sampai ia melunasinya atau istri yang menggugurkan dan memaafkannya

Untuk itu segeralah komunikasikan hal tersebut dengan suami anda, segeralah kontak suami anda, ajaklah duduk bersama dengan cara yang baik dan dengan bahasa yang lembah lembut, pilihlah waktu yang kondusif, sehingga suasana komunikasi bisa berjalan dengan baik, cair dan bahkan santai, Kemudian komunikasikan masalah anda kepada suami, kalau diperlukan hadirkan fihak ketiga yang kalian berdua yakini mempunyai kompetensi dalam hukum pernikahan dan kalian yakini mampu untuk menjadi penengah dalam mengurai problem yang sedang anda hadapi dalam upaya  mencari solusi terbaik.

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA