Suami Benci Orangtua Saya

Fiqih Muamalah, 28 Mei 2020

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum ustadz/ustadzah,

Saya Dian, 38 tahun. Saya merasa pernikahan saya mulai di ujung tanduk. Awalnya karena suami merasa baper dengan kata2 orangtua saya yang ditujukan untuk anak saya. Padahal saya tahu maksud orangtua saya hanya bercanda. Waktu itu anak saya menginap dirumah orangtua & kebangun jam 3 pagi lalu minta pulang. Kebetulan tempat saya dekat dgn orangtua. Besoknya anak saya minta menginap lagi, lalu orangtua saya bilang kalo nginap jangan merepotkan uti sm akung, minta pulang jam 3 lagi. Suami saya mendengar itu jadi baper. Disangkanya orangtua saya keberatan anak saya nginap & dianggap tidak sayang cucunya. Lalu dia ungkit kesalahan2 saya & orangtua saya. Seolah2 dia yang paling benar. Sejak itu dia jadi diam saja ke saya & merasa benci ke orangtua saya. Setiap makanan yang diberikan ibu saya, tidak mau dia sentuh & makan. Saya sakit hati melihat sikapnya. Padahal orangtua saya sudah banyak membantu keluarga saya. Terutama waktu suami terlilit hutang kartu kredit. Tapi suami tidak melihat itu. Yang ada di pikirannya hanya buruk sangka & benci ke orangtua saya. Apa yang harus saya lakukan? Saya masih ingin berumah tangga baik2 dengan dia. Tapi kalau sikap suami seperti ini terus, saya jadi tertekan. 



-- Dian Fitriah Ekawati (Tangerang)

Jawaban:

Assalaamu 'alaikum wrwb.

Siapapun dari kita yang berkeluarga, tentu menghendaki kedamaian dalam kehidupan rumahtangganya, karena hanya dengan suasana damai sajalah, suami istri akan bisa membangun dan mengatur rumah tangganya dengan baik

Namun yang namanya problem dan masalah keluarga itu memang bisa terjadi dalam rumah tangga siapa saja, termasuk di keluarga anda tentunya, sebagaimana anda telah ceritakan, tetapi yakinlah bahwa anda tidak sendirian

Dan ketika terjadi masalah dalam keluarga yang bisa menyebabkan hilangnya suasana damai, mestinya harus segera diupayakan untuk diurai dengan berbagai cara, agar suasana damai bisa kembali bisa dirasakan bersama.

Upaya untuk mengurai masalah tersebut bisa dimulai dan in syaa Allah akan efektif, kalau ada kesiapan suami istri untuk membangun komunikasi yang baik, dengan masing2 menyampaikan masalah yang dirasakan, dilanjutkan dengan  saling memberikan masukan, memusyawarahkan masalah yang ada, dan bila diperlukan bisa menghadirkan fihak ketiga yang mempunya kompetensi untuk menjadi penengah

Dan karena itu, seyogyanya anda tidak membiarkan masalah berlarut larut tidak ada ujungnya, dan sebetulnya masalah kalian ini adalah yang cukup sepele yaitu masalah komunikasi

Untuk itu segeralah komunikasikan hal tersebut dengan suami anda, ajaklah duduk bersama dengan cara yang baik dan dengan bahasa yang lembah lembut, pilihlah waktu yang kondusif, sehingga suasana komunikasi bisa berjalan dengan baik, cair dan bahkan santai, Kemudian komunikasikan masalah anda kepada suami, kalau diperlukan hadirkan fihak ketiga yang kalian berdua yakini mempunyai kompetensi dalam hukum pernikahan dan kalian yakini mampu untuk menjadi penengah dalam mengurai problem yang sedang anda hadapi dalam upaya bersama mencari solusi terbaik.

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA